"Kutukan" Sebagai Makhluk Sosial dan Kebutuhan-kebutuhan Untuk Dituntaskan
Kita, tanpa nafsu untuk membantah, menerima sepenuhnya klaim bahwa setiap individu tunggal dari kita dan sekaligus secara bersama-sama adalah 'makhluk sosial', dengan segala terjemahan ideal dan syarat / prasyarat yang melekat pada terminasi ini. Kita lahir sebagai bagian dari masyarakat (society atau kumpulan orang), pada tataran terkecil, setiap individu adalah anggota dari sebuah keluarga, baik itu keluarga yang bersifat formal ataupun bukan.
Menjadi 'makhluk sosial' dengan ciri utamanya adalah kebutuhan untuk berinteraksi dan saling berkontribusi antar anggota society, bukanlah ciri yang dimonopoli oleh manusia. Semut, lebah, serigala, gajah, banteng, jenis-jenis unggas tertentu, adalah di antara makhluk-makhluk hidup yang mengandalkan kerjasama di dalam menjalani kehidupan mereka, atau setidaknya berkelompok. Hampir bisa dikatakan bahwa tak ada individu tunggal yang bisa survive dengan dirinya sendiri, tanpa bantuan dari luar, termasuk tumbuhan, misalnya, yang memerlukan bantuan angin atau binatang tertentu untuk memastikan terjadinya penyerbukan sari bunga yang dibutuhkan untuk memproduksi bibit-bibit baru untuk memastikan regenerasi.
Seorang nelayan butuh beras hasil kerja petani, butuh baju hasil kerja penjahit, butuh keahlian ahli bangunan untuk mendapatkan hunian, dan seterusnya. Semua orang lain itu juga butuh hal-hal yang dibutuhkan si nelayan dan apa yang bisa diberikan olehnya. Setiap orang punya sesuatu untuk diberikan kepada orang lain, dalam bentuk dan kadar yang berbeda.
Bukan hanya hal-hal materi seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal, yang dibutuhkan oleh seorang manusia dari manusia lain. Hal-hal terkait rohani juga dalam tataran tertentu sudah menjadi kebutuhan yang mendesak. Di jaman ini, orang juga -disadari atau tidak- butuh argumentasi brilian dari orang yang lebih cerdas untuk membuka pikirannya, butuh lawan debat yang bagus yang mampu memperlihatkan padanya bahwa posisi nyamannya selama ini bukanlah sesuatu yang benar-benar positif, misalnya. Kebutuhan semacam ini sudah muncul setidaknya beberapa ratus tahun sebelum Masehi, ketika bangsa Yunani mulai mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan filsafat dan mengkesampingkan tahyul, mistis, dongeng, sebagaimana telah lama mapan dalam peradaban-peradaban besar seperti Mesir dan China.
Dalam sistem budaya tertentu, kritik dipandang penting, karena orang-orang ingin ditunjukkan di mana kekurangannya, dan apa yang bisa ditingkatkan dalam performanya. Kita tidak lagi heran, kritikus seni dan makanan telah menjadi suatu kelompok yang menduduki tempatnya tersendiri di dalam peradaban-peradaban tertentu. Mereka punya kebanggaan tersendiri, dan dihormati sebagai kelompok yang mendorong menaikkan kualitas dan / atau kuantitas produksi dan / atau jasa ke level seterusnya.
Absurdnya Pemahamanku Akan Ide Tentang 'Teman' dan 'Musuh'
Sebagai 'makhluk sosial', singkatnya, kita butuh orang lain. Bukan hanya teman, tetapi kita juga butuh musuh. Saya justru percaya bahwa musuh yang berkualitas, lebih mendesak dan lebih penting untuk dimiliki, daripada teman-teman yang buruk. Apa makna 'teman' dan 'musuh', terlepas dari entry di dalam kamus, seringkali juga absurd. Apakah orang yang selalu terlihat manis dan memuji segala tindak-tanduk kita bahkan yang paling bodoh sekalipun adalah teman? Dan orang yang selalu keras menentang hal-hal tertentu dari kita adalah musuh? Jika benar demikian, saya lebih memilih musuh. Apakah seseorang layak disebut teman karena dia telah menghabiskan sekian banyak waktu untuk bersenang-senang dengan kita dan kita betah dengannya? Apakah seseorang yang terus menyatakan ketidak-setujuannya dengan cara kita menggunakan waktu adalah seorang musuh? Jika iya demikian, saya lagi-lagi akan lebih memilih musuh.
Kaburnya pemahamanku akan ide 'teman' dan 'musuh', membuatku selalu menarik diri dari menganggap orang-orang tertentu sebagai teman atau musuh. Intinya, bukan perlakuan mereka terhadapku yang menentukan tingkat kebahagiaanku. Setiap orang, 'teman' atau 'musuh', adalah apa yang dikirimkan oleh semesta ke dalam kehidupan kita. Kebahagiaan kita tidak ditentukan oleh apa yang menimpa kita, tetapi bagaimana kita menyikapinya. Karenanya, menurutku, setiap orang butuh orang lain, dan pada saat bersamaan, setiap orang adalah bagi dirinya sendiri. Kita bahkan tidak pernah benar-benar yakin bahwa diri kita sendiri adalah teman yang baik bagi kita, dan bisa kita percaya. Bahkan saat menulis ini, saya tidak kurang curiga bahwa mungkin saja pikiranku sedang mengkianatiku. Ketika aku lagi-lagi "membentur dinding", aku kembali menyadari bahwa keterbatasan mungkin tak terbatas.
Setiap orang memiliki sesuatu untuk dibagikannya kepada orang lain, apakah itu cinta atau benci, rasa percaya atau curiga, respek atau disrespek, materi atau non materi, dan seterusnya. Dari premis mampunya seseorang berbagi inilah saya memandang Steem blockchain dengan penuh rasa percaya. Semoga kalian juga demikian, teman-teman.
Terimakasih
Terimakasih telah mengunjungi. Selamat menyambut hari kemerdekaan yang ke 73. Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Bhinneka Tunggal Ika.