KETIKA ORANG ACEH SUKA KULINER JAWA
Foto di bawah ini adalah salah satu menu makanan di salah satu Counter Wong Solo di Banda Aceh. Saya makan siang di tempat ini dan memotret beberapa saat sebelum makan.
Untuk diketahui, Wong Solo merupakan salah satu usaha Kuliner Jawa yang telah lama eksis di Banda Aceh. Menu andalan utama Wong Solo adalah ayam goreng/ bakar.
Selain Wong Solo, banyak mereka dagang Kuliner lainnya dari Pulau Jawa yang sukses melakukan bisnis Kuliner di Aceh. Ada ayam penyet, Bebek Brebes, pecel lele, bebek bugil, nasi uduk, bubur ayam dan banyak lagi yang lainnya. Tentu di luar semua itu, Kuliner Jawa yang telah begitu lama eksis di Aceh adalah lontong. Bahkan di hari hari istimewa keluarga Aceh, lontong justru telah menggeser posisi Timphan. Di sejumlah rumah orang Aceh, pada saat hari raya misalnya, boleh jadi tidak ada timphan tapi lontong tetap ada.
Seiring dengan gaya orang Aceh yang semakin terbuka, ternyata orang Aceh bukan hanya suka Kuliner Jawa, tetapi tidak sedikit juga orang Aceh yang terbuka menerima perempuan Jawa sebagai isteri, baik sebagai isteri pertama maupun isteri kedua.
Nah, kenapa Kuliner Jawa begitu berjaya di Aceh?. Padahal di Aceh tidak banyak orang Jawa. Ternyata kondisi laris manis Kuliner Jawa di Aceh karena begitu banyak orang Aceh telah menyukai makanan Jawa. Lidah orang Aceh ternyata telah mulai "bermigrasi" dari kesukaan cita rasa pedas ke cita rasa manis yang merupakan karakter makanan Jawa.
Secara antropologis, apa kira kira yang dapat dibaca dari kecenderungan lidah orang Aceh ini. Yang pasti, dalam kajian antropologis, Kuliner merupakan salah satu piranti diplomasi yang kemudian dikenal dengan gastrodiplomacy atau diplomasi kuliner. Gastrodiplomacy dapat dikatakan sebagai "instrumen diplomasi tertua". Diplomasi ini memanfaatkan makanan dan masakan untuk menciptakan pemahaman lintas budaya dengan harapan bisa meningkatkan interaksi antara kedua pihak, atau mendominasi satu pihak.
Ketika orang Arab beberapa abad lalu menguasai Spanyol, maka melalui diplomasi kuliner, karakter dan citarasa makanan Arab sampai saat ini masih mewarnai sejumlah Kuliner Spanyol. Ketika Turki menjajah Eropa juga sampai hari ini sejumlah karakter Kuliner bawaan Turki masih menghiasi makanan Eropa. Tidak hanya citarasa, juga sampai kepada cara memasak. Aceh beberapa waktu yang lalu sampai hari ini juga dipengaruhi oleh sementara Kuliner India.
Bagi saya, dalam konteks sebuah kompetisi global, ketertarikan sebuah komunitas akan model dan jenis makanan di luar komunitasnya merupakan kekalahan diplomasi Kuliner komunitas tersebut.
Lha, dalam konteks larisnya Kuliner Jawa di Aceh, apakah ini bagian dari gagalnya diplomasi Kuliner Aceh. Dengan berbagai alasan, apakah Kuliner Aceh suatu masa akan jadi tamu di rumah sendiri, ketika "pemiliknya" lebih menikmati punya orang lain?. Seperti yang hari ini kita saksikan anak anak muda kita antrean di Counter Kuliner Jawa yang ada di Aceh?.
Ada yang bilang,meredupnya peradaban sebuah suku/bangsa bermula dari meredupnya kecintaan suku/bangsa tersebut akan Kuliner dan bahasa ibu mereka. Karena, identitas sebuah peradaban selalu berkelindan erat dengan Kuliner dan bahasa.
Atau untuk menjadi bangsa yang kuat barangkali kita tidak cukup dengan berbangsa dan berbahasa satu, tetapi juga harus berkuliner yang satu juga. Sebagaimana dicita citakan Patih Gajah Mada lewat Sumpah Palapa.[]
Penulis: Usamah El Madny
Posted from my blog with SteemPress : http://kabarpidiejaya.com/2017/03/ketika-orang-aceh-suka-kuliner-jawa/