Assalammualaikum warrahmatullah wabarakatuh!
Hai sahabat semua. Perkenalkan, saya Muhammad Athari Jufri, murid MIN 3 Lhokseumawe.
Sejak pandemi Corona, kita semua tidak bisa bersekolah. Tapi belajar harus tetap jalan terus. Tidak boleh berhenti, kan? Sekolah tatap muka di kelas diganti dengan belajar daring.
Tahu tidak, apa artinya daring? Daring itu adalah singkatan dari dalam jaringan. Artinya kita belajar secara online, dan itu membutuhkan ponsel yang memadai, butuh jaringan internet juga.
Nah, di sinilah masalahnya. Tidak semua murid memiliki HP yang mendukung dan ada paket kuota. Salah seorang di antaranya tetangga yang sekolah di SD 11 Lhokseumawe, tidak jauh dari sekolah saya. Kami memanggilnya Bombom, tapi nama aslinya bukan itu.
Bombom tidak memiliki HP karena orang tuanya tidak mampu membeli HP. Padahal, tugas-tugas sekolah diberikan melalui HP, begitu juga dengan pesan-pesan dari guru.
Kami tidak tahu seperti apa Bombom mengikuti sekolah daring sebelumnya. Sebelumnya, Bombom tidak pernah bercerita, sampai kemudian kami tanyakan.
Tanpa sepengetahun Bombom, kami lantas menceritakan nasib Bombom kepada ayah bunda kami masing-masing. Singkatnya, kami sepakat membantu Bombom agar bisa mengikuti sekolah daring.
Awal Agustus lalu, uang untuk membeli sebuah HP bekas tapi masih tokcer sudah terkumpul. Setelah kami patungan menyumbang uang. Suatu hari, kami bertemu Bombom di lapangan kecil tempat biasa kami bermain, ada beberapa kawan lain juga.
Karena kami minta Bombom datang ke rumah saya besok sore, ia jadi bertanya-tanya.
“Ada acara apa?” tanya Bombom curiga. Biasanya, kami ‘kan tidak pernah meminta Bombom datang secara khusus. Kalau datang, ya dia datang saja.
“Datang saja. Kita main sambil belajar bersama,” sahut saya.
Bombom diam saja, tapi dari wajahnya terlihat ia tidak percaya. Besoknya kami menunggu di teras sambil bercerita tentang apa saja. Kadang kami saling bertanya bagaimana reaksi Bombom ketika menerima HP itu nanti.
Tapi sampai sore, Bombom tidak hadir juga.
“Telepon saja,” saran seorang teman.
“Mau telepon ke mana, dia ‘kan tidak punya HP. HP yang ini pun masih di tangan kita,” sahut saya.
Kami tertawa bersama.
Karena menjelang Magrib, akhirnya kami putuskan kamilah yang datang ke rumahnya. Kami berjalan kaki dari rumah saya ke rumah Bombom yang tidak terlalu jauh. Rumahnya masuk sebuah lorong kecil yang hanya muat becak. Ayah Bombom sering keluar masuk dengan becaknya melalui lorong itu.
Sampai di sana, kami melihat Bombom sedang membantu ibundanya menyapu. Bombom adalah anak tertua. Dia memiliki dua adik, satu baru sekolah kelas satu SD, sedangkan yang satunya lagi masih bayi.
“Bombom…!” panggil saya.
Bombom melihat kami, dia tampak sedih. Tidak banyak senyum seperti biasa.
“Kenapa tidak datang. Bom?” tanya saya.
“Ayahku sakit, makanya ia tidak bisa narik becak.”
Ternyata itu yang membuat Bombom sedih. Kami melihat becak ayahnya parkir di depan teras rumah yang sempit.
Saya menyerahkan HP yang masih dalam kotak kepada Bombom.
“Aaapa ini…?”
“Ini HP dari kami. Terimalah Bom…”
“Biar kamu bisa belajar daring,” sambung yang lain.
Bombom nampak terharu. Matanya berkaca-kaca.
Sejak saat itu, kami lebih sering bersama. Bukan saja untuk belajar tentang pelajaran sekolah, tetapi juga untuk mengajari Bombom dan bundanya cara menggunakan HP. Bombom termasuk anak rajin dan pintar, jadi tidak butuh waktu lama bagi dia.
Begitulah kawan-kawan. Pandemi Covid-19 memang membuat hidup kita menjadi lebih sulit. Tapi dengan kebersamaan, kita bisa mengatasi semua kesulitan. Yang penting kita kompak dan saling membantu.
Oh ya, sahabat sekalian. Kalau belajar dan bermain bersama, kami selalu menggunakan masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan dengan sabun. Kata ibu guru kami, kita harus patuh menjaga protokol kesehatan agar terhindar dari virus.
Semoga kita bisa terus berbagi dan saling mengingatkan. Dan semoga wabah korona ini segera berakhir agar kita bisa bersekolah seperti dulu.
Terima kasih sudah mendengarkan cerita saya. Assalammulaikum warahmatullah wabarakatuh. Salam Merdeka!
Lhokseumawe, 19 Agustus 2020
Tertanda:
Muhammad Athari Jufri