(Pemandangan di kiri jalan menuju Ulele)
Menikmati momen yang sedang kita alami sering kali terganggu karena satu dan lain hal yang tidak kita inginkan untuk terjadi. Tidak diharapkan tentunya dan bisa merusak suasana. Ini aku alami pagi ini, saat tulisan postingan ini aku tuliskan, bertempat di sebuah warung kopi di kawasan Punge Ujong Banda Aceh, momen pagi dengan cuaca mendung ini menjadi sedikit menyebalkan ketika aroma amis bin anyir tiba-tiba menyergap rongga hidung. Rongga hidung yang tidak besar dipenuhi oleh aroma busuk dahsyat yang bisa bikin beberapa orang mual dan mungkin muntah karenanya.
Tidak ingin merusak mood bagus untuk menuliskan postingan kali ini, aku bergeser ke sisi lain warkop ini. Terpaksa mengkondisikan situasi yang diluar kendali terkadang harus dilakukan. Ada banyak sekali hal yang sekarang ini kita saksikan bisa menjadi pemicu naik turunnya mood bagus yang mungkin tidak sering kita alami. Berita di media sosial atau media mainstream lainnya cukup menarik untuk tidak kita ikuti. Dengan itu, ada banyak penyakit yang bisa kita hindari. Terutama penyakit hati, penyakit otak yang sering berpikir kontraproduktif, dan tentunya kedua kombinasi penyakit ini bisa menyebabkan gila akut berujung permanen kedepannya 😂.
(Pemandangan di sepanjang jalan menuju Ulele ini cukup menarik untuk menghiasi postingan ini, setidaknya menurut saya 😂)
Well, guys... Jika kalian terjebak situasi yang tidak menyenangkan, apa yang akan kalian lakukan? Jawabannya mungkin bisa disematkan di kolom komentar di bawah. Ada reward 0.001 dari empunya platform 😂. Let's go to kalimat penyambung cerita postingan selanjutnya. Menikmati momen yang saat ini terjadi adalah bentuk rasa syukur kita kepada sang Maha Pencipta. Bereaksi negatif terhadap kejadian diluar kendali kita adalah pengingkaran terhadap apa yang tertulis dalam skenarioNYA. Inilah yang terkadang luput karena kita adalah makhluk yang sering lupa atau melupakan bahwa segala sesuatu yang terjadi memang harus terjadi. Semua sudah dituliskan untuk memang harus terjadi.
Seperti tadi malam saat aku harus berteriak kepada dua orang teman yang datang ketempatku. Aku sedang mencoba untuk lelap tertidur pulas sebelum suara obrolan mereka mengusik ketenangan yang ingin kudapat dalam tidurku. Aksi yang berlebihan memang semestinya mengundang reaksi yang berlebihan pula. Aku sudah hampir setengah jam mendengar obrolan tidak penting mereka sebelum akhirnya kubentak untuk diam. Sebenarnya aku ingin memaki, ketika setelah lima detik terdiam mereka lanjut untuk berbicara di sampingku tanpa rasa bersalah. Namun akhirnya kupilih untuk konsentrasi menjadi lelap dalam tidurku itu. Kuabaikan rasa kesal tingkat dewa karena otak mereka sedang tidak difungsikan selayaknya.
Itulah hidup teman-teman. Kita harus mencoba dan terus mencoba untuk membiasakan diri dengan prilaku zaman yang semakin hari semakin tidak beradab. Prilaku manusia -manusia akhir zaman yang bisa sambil tertawa menzalimi sesamanya. Bereaksi terlalu jauh mungkin bisa membuat kita rugi sendiri karenanya. Masih hangat kasus terkini dari petinggi instansi aparat penegak hukum di negeri ini. Karir cemerlangnya hancur karena aksi reaksi yang menjerumuskan kedalam jeruji dan mungkin akan terhukum seumur hidup Atawa mati. Tapi lagi-lagi, saat ada hal aneh dari kasus ini nantinya, ketika sang Sambo bebas atau penyelesaian kasusnya tidak memuaskan kita, MARI TERTAWA SEBELUM NIKMAT TERTAWA DARI MOMEN KEHIDUPAN YANG TERJADI MENJADI SEBUAH HAL YANG TABU di negara ini...🤗🤗🤗
Note: All images taken by myself using my smartphone OPPO's Camera....🙏🤗