SAAT-SAAT paling buruk bagi keberadaan pikiran adalah ketika kau tidak bisa menulis sepatah kata pun setelah lama memerasnya. Kau hanya bisa termangu menyaksikan kursor berkedip-kedip ritmis di layar laptop. Sementara pikiran yang kau peras sedari tadi masih belum menghasilkan apa-apa. Belum menemukan jalan yang tepat untuk mengeluarkan cerita-cerita yang mungkin pernah tersuruk dalam alam bawah sadar.
Dalam keadaan seterpuruk ini tidak ada yang bisa kau andalkan selain terus menerus mengudut rokok. Barangkali di sebalik kepul asap yang kau hembuskan dari dua rongga hidungmu terdapat secercah harapan hingga bisa kau tuangkan dalam sebentuk tulisan. Tapi celaka. Rokok tinggal sebatang lagi. Begitu juga kopi.
Kini kau hanya bisa bertumpu pada rokok yang tinggal sebatang dan kopi yang hendak tandas di dasar gelas. Tapi harapan yang bagaimanakah yang bisa diberikan oleh sebatang rokok dan seseruput kopi? Nihil. Kau tetap berkutat dengan kekosongan. Layar ketik laptop masih sama seperti semula, hanya kursornya yang terus berkedip tanpa ampun.
"Ini pertanda buruk," kau berdesis. "Dosa apakah yang sedang kutanggung hingga pikiranku sebegini terkutuk?" Kepada siapa lagi pertanyaan ini tertuju kecuali untuk dirimu sendiri. Sementara bara rokok hendak menuju puting. Kopi tinggal setetes dua tetes belaka. Kau masih berkutat dalam kutukan tak berperi.
"Hei! Tunggu dulu." Seperti orang yang berhasil menemukan sebuah pelampung ketika sedang termegap-megap ambang tenggelam kau berteriak, tentu saja pada diri sendiri, dan menghela nafas panjang. "Bukankah aku sedang tidak dikejar deadline?" "Bukankah aku tidak pernah berkeinginan jadi penulis yang mengharuskanku melulu menulis?" "Bukankah tidak menulis, tidak akan bikin aku jadi seorang pendosa?"
Pertanyaan demi pertanyaan timbul tenggelam di pikiran. Dengan mengenyampingkan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang hampir serupa itu tidak lebih dari sekadar pembenaran atas ketidakmampuanmu, kau merasa sudah lepas dari segala keterkutukan sekarang. Kau terhibur dengan pembenaran paling menyakitkan itu. Meski pada kenyataannya kau memang belum layak ditahbiskan sebagai seorang penulis.
Kau mengudut rokok dalam-dalam. Gelas kopi kau seruput dengan hebatnya, sama sekali tak bersisa. Kini kau terlibat dalam suatu perasaan yang melegakan. Semacam euforia atas terbebasnya pikiran dari harapan muluk-muluk; menulis sebuah cerita. Dan cara kau menekan puting rokok yang telah kehabisan bara dalam asbak adalah sebaik-baik selebrasi. Sekali lagi kau bergumam dalam hati, "Persetan dengan segala cerita!"