The Mental Hospital doctor asked three of his patients. Anyone who can answer a question that is acceptable to common sense is declared cured and may return to his home.
"If you were in a hot desert, what would you do?" asked the doctor.
"I will bring a fan" replied the first patient.
"It doesn't make sense, you still need to be treated," said the doctor to the first patient.
"I will bring a refrigerator, doc, if I get hot, I will go into it" replied the second patient.
"It doesn't make sense, you still need to be treated," said the doctor to the second patient.
"Doctor, if I get hot in the desert, I will bring the car door," replied the third patient.
"How come, the car door?" asked the doctor curiously.
"If I get hot, I will open the glass," replied the patient.
"Make sense! You have recovered and can go home, ”said the RSJ doctor.
That is an anecdote between doctors and RSJ patients which I think is very relevant to the future of leadership in Central Aceh, especially for the candidates for regents and vice-regents who will compete in the upcoming 2022 Pilkada.
As people say, "The Netherlands is still far away" but for Central Aceh, it can be planning from now on because the area whose tourism icon is Lake Lut Tawar is currently in a crisis of leadership. The experience under the "Shafda flag" with all its trifles has become clear evidence.
If we look for longitude from west to east and latitude north to south of Central Aceh, there will be no figures with the soul of a leader. Roughly speaking, people who are below standard will scramble to be number one and number two in the land of Malem Dewa.
When the candidates appear later, people who read their track records will probably comment “Ouch! People with mental illness, why run for themselves. " Although it tastes bitter, that reality must be swallowed up. "Can you do it, there is no rattan, the roots will be finished." We must be willing to be led by the sane person among the mentally ill.
The leadership crisis in Central Aceh cannot be separated from the previous leaders who did not regenerate. Bupati Mustafa M. Tamy, the last leader to create figures and leaders.
After he stepped down, the next leaders tended to overthrow one another. In fact, for the sake of not appearing figures, Mr. Mahreje Wahab in the 2009 legislative election became a victim and was eliminated as a member of the DPR-RI, simply because he was jealous if he could sit in Senayan, Jakarta.
It is the destiny of Central Aceh like this. Rice has become porridge! In order to create many figures and leaders in the future, whoever he is from now on can begin to set the intention to create a cadre of bureaucrats, businessmen, police, military, artists, writers, scientists, sportsmen, and maybe also a patented shaman so that our future leader no longer from among or on the same level as a mentally ill person.
Mendale, Aceh Sumatra, Indonesia
BAHASA INDONESIA
Pasien Sakit Jiwa dan Estafet Kepemimpinan di Aceh tengah
Dokter Rumah Sakit Jiwa bertanya kepada tiga orang pasiennya. Siapa saja yang bisa menjawab pertanyaan yang bisa diterima oleh akal sehat, maka dia dinyatakan sembuh dan boleh pulang ke rumahnya.
“Kalau kalian sedang berada di padang pasir yang panas, apa yang akan kalian lakukan?” tanya dokter.
“Saya akan membawa kipas angin” jawab pasien pertama.
“Tidak masuk akal, kamu masih perlu dirawat” kata dokter kepada pasien pertama.
“Saya akan membawa kulkas, dok, kalau saya kepanasan, saya akan masuk ke dalamnya” jawab pasien kedua.
“Tidak masuk akal, kamu masih perlu dirawat” kata dokter kepada pasien kedua.
“Pak Dokter, kalau saya kepanasan di gurun pasir, saya akan membawa pintu mobil” kawab pasien ketiga.
“Kok, pintu mobil?” tanya dokter penasaran.
“Kalau saya kepanasan, saya akan membuka kacanya” jawab pasien itu.
“Masuk akal! Kamu sudah sembuh dan boleh pulang” kata dokter RSJ itu.
Demikianlah sebuah anekdot antara dokter dan pasien RSJ yang saya kira sangat relevan dengan masa depan kepemimpinan di Aceh Tengah, khususnya untuk calon bupati dan wakil bupati yang akan berkompetisi pada Pilkada tahun 2022 yang akan datang.
Seperti kata orang, “Belanda masih jauh” tetapi untuk Aceh Tengah sudah bisa berancang-ancang dari sekarang karena daerah yang ikon wisatanya danau Lut Tawar kini sedang krisis pemimpin. Pengalaman di bawah “bendera Shafda” dengan segala tetek bengeknya telah menjadi bukti nyata.
Kalau kita cari dari garis bujur barat ke timur dan lintang utara ke selatan Aceh Tengah tidak akan muncul tokoh yang memiliki jiwa pemimpin. Kasarnya, orang-orang di bawah standar akan berebut menjadi orang nomor satu dan nomor dua di negeri Malem Dewa itu.
Pada saatnya para calon bermunculan nanti, masyarakat yang membaca rekam jejaknya tidak mustahil akan berkomentar “Aduh! Orang-orang sakit jiwa, kok mencalonkan diri.” Walau pahit rasanya, kenyataan itu harus ditelan. “Apa boleh buat, tidak ada rotan, akar pun jadi.” Kita harus rela dipimpin oleh orang yang paling waras di antara orang-orang yang sakit jiwa.
Krisis pemimpin di Aceh Tengah tidak terlepas dari para pemimpin sebelumnya yang tidak melakukan kaderisasi. Bapak Bupati Mustafa M. Tamy pemimpin terakhir menciptakan tokoh dan pemimpin.
Setelah beliau lengser, para pemimpin berikutnya cenderung saling menjatuhkan. Bahkan demi tidak munculnya tokoh, Bapak Mahreje Wahab pada pemilu legislatif tahun 2009 menjadi korban dan tersingkir sebagai anggota DPR-RI, semata-mata karena cemburu kalau beliau bisa duduk di Senayan, Jakarta.
Sudah menjadi takdir Aceh Tengah begini jadinya. Nasi telah menjadi bubur! Agar lahir banyak tokoh dan pemimpin di masa depan, maka siapa pun dia dari sekarang sudah bisa mulai pasang niat untuk menciptakan kader birokrat, pengusaha, polisi, militer, seniman, penulis, ilmuan, olahragawan, dan mungkin juga dukun yang paten agar pemimpin kita kelak bukan lagi dari kalangan atau sederajat dengan orang sakit jiwa.