Saya berterima kasih kepada yang mulia Ibnu Sakdan atau yang populer dipanggil Syech Sapu Arang yang menjalankan sebagian tugas-tugas saya sebagai pimpinan gerilyawan.
Syech Sapu Arang salah seorang GPK (Gabungan Pemuda Kenawat) yang baik hati, senang berdebat dan pandai berceramah, walau sering juga menjengkelkan.
Sikapnya yang tidak mau mengalah, terutama saat tersesat di hutan. Kita harus mengikuti arah yang ditunjukkan olehnya sehingga semakin tersesat. Seharusnya perjalanan ditempuh dalam satu hari, akibat kita mengikuti beliau perjalanan menjadi tiga hari.
Tutur katanya lembut seperti seorang seniman. Ketika seseorang hendak marah karena tingkah lakunya, namun saat menatap wajahnya orang menjadi iba. Mungkin karena terlalu banyak menuntut "ilmu pemanis."
Syech Sapu Arang juga tegas dan pemberani. Hanya dirinya yang nekad menantang berkelahi Ali Aman Hanif (Ayah Bupati BM non aktif, Ahmadi Samarkilang) yang terkenal dengan ilmu saktinya.
Kadang kala Syech Sapu Arang juga sering ingin tampil dan over acting kalau turun kampung tanpa memperhatikan penampilannya. Satu saat di Kampung Simpur, Kecamatan Syiah Utama, Bener Meriah tanpa diperintah Syech Sapu Arang langsung mengumpulkan masyarakat. Beliau sangat ingin menyampaikan perkara dan alasan perjuangan.
Masyarakat berkumpul dengan duduk bersila. Syech Sapu Arangpun menghormati masyarakat dengan bersila pula. Beliau mulai menyampaikan ceramahnya dengan berapi-api.
Kami melihat ada kejanggalan pada Syech Sapu Arang. Saya "memberi kode" dengan kerlingan mata, tapi beliau seperti tersihir oleh antusiasme masyarakat mengikuti ceramahnya.
Saya merasa susah karena melihat celana Syech Sapu Arang robek dan tidak bercelana dalam pula. Saya pergi dari lokasi itu. Setelah selesai berceramah Syech Sapu Arang buru-buru mendatangi saya.
"Ada apa Teungku?" tanyanya penuh penasaran.
"Celana Abang Syech robek!" kata saya dan kami tertawa terbahak.
"Aduh! Mengapa Teungku tidak bilang" katanya malu.
"Saya sudah kasih kode tadi, tapi Abang Syech terlalu bersemangat," kata saya sambil menahan tawa.
Sambil berlalu dan tertawa kecil, Syech Sapu Arang berkilah, "Kalau begitu berarti rezeki masyarakat."
Tawa kami pun meledak!
Mendale, Aceh Sumatra, Posted at 22 Oktober 2018 on My Facebook