Allahumma shalli wa shalli
Wa salimbi ya Muhammad
Lepas ummat wate muniti
Nepreh kamoe bak ulee titi.
Ya Umar, Usman, Ali
Abu Bakar sahabat Nabi
Siti Fatimah binti Rasuli
Ya Rasulullah junjungan kami
Lailahaillallah
kalimat thayyibah bekai tamate
Tahudep ngeun cahya Nabi
Tamate ngen janji Allah
Lailahaillallah
Kalimat thayyibah bekai tamate
So yang baca kalimat nyan
Selamat iman wate tamate
Lailahaillallah
Kalimat thayyibah ke payong page
Kalimat tauhid kalimat ma’rifat
Kalimat syahadat ke beukai akhe
Lailahaillallah
Tama’rifat malam ngen uroe
Sungguh-sungguh tama’rifat
Kadang leupah lailatul qadar
Lailahaillallah
Kalimat thayyibah awai phon jadi
Aras kursi dengan kalam
Sinan uram di sinan punca
Lailahaillallah
Kalimah Thayyibah Rahasia mate
Menyoe han ek takhen ngon lidah
Allah Allah takhen lam hate
This is the prayer beads fragment taught by Pang Genancing to Linge County GAM troops. At the time of the conflict, the prayer beads accompanied our days in difficulty and pleasure.
We never knew the title of the prayer beads. Sometimes we call it "selawat," but we already understand the lyrics and the song when it is mentioned "Prayer Beads Pang Genancing."
I myself first heard that prayer beads when entering civil emergency in 2004 in the middle of the Samarkilang forest. Prayer beads were chanted by Aman Sauri Pang Kalang and Pang Gegana.
When they chanted the prayer beads, I shuddered, feeling the presence of supernatural powers in the wilderness. I contemplate, this prayer beads must have been composed by ma'rifat experts, who in the art world have reached the isoteric level.
So often the troops chanted "prayer beads kalimah thayyibah" that I was memorized in part. We often chanted together after singing "Hikayat Prang Sabi" by Tengku Chik Pante Kulu.
Pang Genancing, named born Tengku Junaidi, has more sides, besides being a proven combat force, he is also endowed with a high and melodious voice in pimples and tunes and is good at composing rhythms and songs.
Even when he was joking, he often teased other troops with the poetry of Didong [Gayo art music]. Troops in safe places often stand, and Pang Genancing as the Syech and other troops as pat and one as a "detainer."
Within the Linge Region GAM troops, Pang Genancing was indeed not the only force that had a talent for sound art. Governor Husni Jalil was also recorded as an artist in Didong, Tengku Muhammad, or Pang Hati and Tengku Ismuddin or Pang Renggali as well as guitarist and singer.
His career as a Linge Region GAM force, started with the Mukim Dawat Item army, then as a Buraq Antara Central Radio guard force, then as a Region, I GAM troop, before becoming a Linge Region troop and having assisted the Alas and Tanah Karo Region GAM troops.
Pang Genancing, now settled in Bener Meriah as a roaster and Gayo coffee barista and opened a Coffee shop business Mount Oregon, which is the boundary between Central Aceh and Bener Meriah.
Mendale, Aceh Sumatra, Sunday, 14 June 2020
BAHASA INDONESIA
RATEB PANG GENANCING
Allahumma shalli wa shalli
Wa salimbi ya Muhammad
Lepas ummat wate muniti
Nepreh kamoe bak ulee titi.
Ya Umar, Usman, Ali
Abu Bakar sahabat Nabi
Siti Fatimah binti Rasuli
Ya Rasulullah junjungan kami
Lailahaillallah
kalimat thayyibah bekai tamate
Tahudep ngeun cahya Nabi
Tamate ngen janji Allah
Lailahaillallah
Kalimat thayyibah bekai tamate
So yang baca kalimat nyan
Selamat iman wate tamate
Lailahaillallah
Kalimat thayyibah ke payong page
Kalimat tauhid kalimat ma’rifat
Kalimat syahadat ke beukai akhe
Lailahaillallah
Tama’rifat malam ngen uroe
Sungguh-sungguh tama’rifat
Kadang leupah lailatul qadar
Lailahaillallah
Kalimat thayyibah awai phon jadi
Aras kursi dengan kalam
Sinan uram di sinan punca
Lailahaillallah
Kalimah Thayyibah Rahasia mate
Menyoe han ek takhen ngon lidah
Allah Allah takhen lam hate
Demikian penggalan rateb yang diajarkan Pang Genancing kepada pasukan GAM Wilayah Linge. Pada saat konflik, rateb itu menemani hari-hari kami dalam susah maupun senang.
Kami tidak pernah tahu judul rateb itu. Kadang-kadang kami menyebutnya “selawat,” tetapi kami sudah faham lirik dan lagunya kalau disebutkan “Rateb Pang Genancing.”
Saya sendiri pertama kali mendengar rateb itu pada saat masuk darurat sipil tahun 2004 di tengah hutan Samarkilang. Rateb itu dilagukan Aman Sauri Pang Kalang dengan Pang Gegana.
Ketika mereka melantunkan rateb itu, saya merinding, merasakan kehadiran kekuatan ghaib di dalam belantara itu. Saya renungkan, rateb ini pasti disusun oleh para ahli ma’rifat, yang dalam dunia seni sudah mencapai tingkat isoterik.
Begitu seringnya pasukan melantunkan “ratib kalimah thayyibah” itu saya pun jadi hapal sebagian. Kami pun sering melagukan bersama-sama setelah menyanyikan “Hikayat Prang Sabi” karya Tengku Chik Pante Kulu.
Pang Genancing yang bernama lahir Tengku Junaidi, punya sisi lebih, di samping sebagai pasukan tempur yang sudah teruji, juga dianugerahi suara tinggi dan merdu dalam berselawat dan berlagu, serta pandai mengarang irama dan lagu.
Bahkan ketika becanda pun beliau sering sindir pasukan lainnya dengan syair didong.
Pasukan pada tempat-tempat yang aman sering berdidong, dan Pang Genancing sebagai ceh-nya dan pasukan lainnya sebagai penepuk dan seorang sebagai “peningkah.”
Di dalam pasukan GAM Wilayah Linge, Pang Genancing memang bukan satu-satunya pasukan yang mempunyai bakat berseni suara. Tercatat juga Gubernur Husni Jalil sebagai seniman didong, Tengku Muhammad atau Pang Jantung dan Tengku Ismuddin atau Pang Renggali juga sebagai gitaris dan penyanyi.
Karirnya sebagai pasukan GAM Wilayah Linge, bermula dari pasukan Mukim Dawat Item, kemudian sebagai pasukan penjaga Radio Induk Buraq Antara, selanjutnya sebagai pasukan GAM Daerah I, sebelum menjadi pasukan Wilayah Linge dan pernah membantu pasukan GAM Wilayah Alas dan Tanah Karo.
Pang Genancing, kini menetap di Bener Meriah sebagai roaster dan barista kopi Gayo serta membuka usaha Coffee shop di puncak gunung Oregon, yakni batas antara Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Mendale, Aceh Sumatra, Ahad, 14 Juni 2020