Selamat malam semuanya, dada ini sesak pikiran buntu bukan karena penyakit atau polusi.
Kalau bisa aku ambil ingin aku ambil sendiri aku buang ke laut saja. Hari raya tinggal menghitung hari, hari bahagia sudah menanti, tapi yang bisa merasakan bahagia khusus bagi mereka yang sudah cukup dengan persiapannya. Dan aku di luarnya, mungkin kelak tiba harinya nanti tangis anak istriku akan terdengar lewat telefon.
Harus ada tempat untuk mengutarakannya, dua alat ini yang selalu temani aku berkeluh kisah kasih ke Sang Penciptaku, Sang pengatur jalanku.
Cara ungkapkan perasaanku sederhana, menurut versi saya Tuhan Maha bisa mendengarkan bahasa hambanya. Tidak perlu translate seperti saya.
Terbukti dari perjalanan rohani saya, waktu itu aku adukan kebimbanganku dalam urusan jodoh.
Umurku waktu itu sudah hampir 30 tahun, umur yang mapan dan sangat-sangat tidak mengenakan.
Kemana pun aku main, mereka hanya menanyakan "kapan menikah?"
Positif thinking aja, mungkin mereka hanya menyapa.
Tapi setiap kali ucapan seperti itu terucap hati ini sedih, mau nangis kayaknya ga mungkin.
Masa laki-laki nangis, lucu kayaknya.
Tapi aku punya tempat dimana dan siapa yang aku pintakan. Dimalam yang rasanya hati tak kuat lagi menahannya.
Aku coba komunikasi dengan penciptaku yaitu yang mengatur jalanku.
Sebisa ucapanku aku utarakan kesedihanku dengan bahasa ngapak atau bahasa daerahku.
"Ya Tuhan, aku sudah berumur apakah tak kau ciptakan jodoh untukku? Kalau ada berikan aku yang terbaik menurutMu, karena pandanganku tak seawas pandanganMu"
Tak aku sadari di hadapanNya mataku yang kering jadi basah karena air mata.
Jawaban dari Tuhan langsung aku terima waktu itu, tapi dalam bentuk kiasan.
Seolah mataku melihat ibuku berdiri tegak menatapku. Aku terbangun keheranan, bagaimana mungkin mataku yang terpejam bisa melihat ibuku yang tak berucap satu kata pun.
Aku cari apa alasannya Tuhan menberi kode itu, apa mungkin selama ini aku belum menghiraukan nasehat ibuku.
Paginya aku temui ibuku, aku tanyakan pada ibuku.
"Bu orang yang bagaimana tuk jadi jodohku?"
Jawabannya simpel, cari yang dekat yang saudaranya banyak dan orang tuanya masih lengkap.
Aku mengiyakannya, dan Tuhan langsung memberikannya.
Dalam hitungan hari aku di kenalkan dengan wanita yang sekarang jadi istri saya, tidak sampai setahun dari perkenalan itu kami menikah
Dengan rahmat Tuhan, rumah tangga kami selalu bahagia. Walau untuk urusan duniawi kami belum punya apa-apa.
Nah sekian curhatan dari saya, ambil pesan yang baik kalau ada.
Dan maaf aku hanya menghibur semata.
Terima kasih untuk waktunya
Bekasi, Indonesia