Senang berada disini menyaksikan keindahan dan asrinya alam Kahuripan. Sebuah kompleks perumahan elit lengkap dengan berbagai pasilitas olahraga yang terbuka untuk umum. Jalan yang lebar dengan kiri kanan merupakan lapangan rumput menghijau yang diatas rumput terdapat pepohonan menghijau penambah keasrian tempat ini.
Bukan hanya itu kompleks perumahan inipun sepertinya menyatu dengan kehidupan penduduk setempat. Mengapa saya katakan menyatu karena saya mendapatkan beberapa orang penduduk setempat sedang menggarap lahan sekitar kompleks untuk bercocok tanam. Lahan tersebut adalah lahan yang belum dibangun. Para penggarap kebanyakan menanam singkong tetapi bukan untuk diambil umbinya melainkan diambil daunnya yang masih muda (pucuk singkong).
Saya menemui satu keluarga yang sedang memanen pucuk singkong. Dari beberapa informasi yang saya dapatkan petani tersebut sengaja menanam batang pohon singkong untuk diambil pucuknya dengan beberapa alasan. Alasan yang pertama adalah dengan mengambil pucuknya mereka dapat memanennya setiap dua bulan. Alasan yang kedua adalah pemasaran pucuk singkong lebih mudah daripada singkong. Bahkan pucuk singkong yang saat ini mereka panen sudah ada yang menampung yaitu hanya mendistribusikan ke beberapa warung makan. Singkong dapat dipanen setelah 8-10 bulan sedangkan pucuk singkong dapat dipanen setiap dua bulan.
Menurut petani tersebut setelah pucuk singkong dipanen mereka cukup memberikan pupuk urea dan sekam tanpa harus menanamnya kembali. Jadi setelah dipanen mereka cukup menunggu dua bulan tanpa perawatan untuk dipanen berikutnya.
Petani pucuk singkong ini menggarap kurang lebih 5000 meter persegi. Mereka adalah petani penggarap yang sewaktu-waktu terancam mata pencahariannya jika lahan yang mereka garap dipakai oleh pemiliknya.