Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata Nokia, Samsung, dan Apple ? Saya yakin, pasti anda akan membayangkan sebuah perusahaan yang memproduksi *Gadget* canggih. Tapi tau kah anda ada cerita menarik dari ketiga perusahaan tersebut.
Yang pertama Apple : Didirikan oleh Steve Jobs, Steve Wozniak, dan Ronald Wayne di sebuah kamar. Sekarang ini Apple menjadi salah satu perusahaan elektronik yang sangat di perhitungkan. Toko ritel Apple sudah hampir dapat di temui di seluruh dunia, namun ternyata di negaranya Amerika, dan 6 negara bagian tidak memiliki toko ritel Apple.
Source
Yang kedua Samsung : Sebelum sukses besar dengan Smartphone nya, Samsung ternyata pernah memproduksi mie di tahun 1960, setelah itu Samsung merambah bisnis elektronik. Produk rilisan mereka yang pertama adalah televisi hitam putih. Saat ini Samsung berhasil menjual 215 juta unit ponsel, melebihi brand-brand lain, yang ada di pasarnya.
Source
Berikutnya Nokia: Pada awal pembentukannya pada tahun 1865, bukan merupakan perusahan pembuat Handphone. Pada saat itu Nokia merupakan perusahaan produsen kertas. Sedangkan Handphone pertama yang di keluarkan oleh Nokia adalah pada tahun 1980_an.
Source
Itulah perkembangan teknologi, memang ya dari mulai yang segede, kayak mau ngelempar binatang, sampai kemudian, mungkin besok siapa tau ueeekk di gitu doang di lidah, halo ❗ bisa langsung komunikasi, siapa tau ya ? Dulu Kartunya semua di masukkan sampai ke antenanya panjang. Kalau sekarang sudah canggih, semua dengan mudah terkoneksi.
Kalau ngomongin pernah kejadian juga, ketika ada gadget diantara kita, lalu kemudian terlupakan siapa siapapun yang ada di sekitar kita. Jujur, dulu saya sering korban gadget. Misalnya di undang makan bareng, atau ngumpul bareng. Pas datang ketemu, pas makan itu, ya mau makan siang bareng lah, atau ngopi bareng gitu, semuanya asyik dengan handphone nya masing-masing.
Ya akhirnya yang dekat jadi jauh, yang jauh malah jadi dekat seperti itulah. Sampai suatu kali pernah bikin game sama teman-teman, "Ayo handphone nya di taruh semua dalam keranjang, ada keranjang kecil gitu lah ya ? Akhirnya ya memang nggak tahan banget, harus bayarin, bayarin kopi waktu itu, karena kalah. Berarti saking pentingnya kan, dia nggak bisa menahan diri, untuk tidak menerima calling, atau apapun yang ada di handphone nya kan.
Percaya atau tidak, kalau sekarang di handphone saya nggak ada game satu pun. Kalau dulu sebelum bergabung dengan Steemit, saya pernah sih main game, tapi tidak sampai kecanduan. Paling mainnya jam istirahat kerja, sambil ngopi, paling 20 menit, setelah itu saya kembali melanjutkan pekerjaan.
Gadget itu punya umur sebenarnya, umurnya itu sampai 2 tahun lah. Nah biasanya gempuran barang-barang baru dari brand yang sama, sebelum 2 tahun udah nongol dia. Sudah mulai pengeluaran promosi yang baru. Terus deadline dikit karena kita di Indonesia, juga du Amerika dan seterusnya. Akhirnya setahun lah kira-kira ready lagi yang baru.
Saya biasanya skip saja, nanti saja saya tunggu kalau 2 tahun, handphone nya umurnya 2 tahun waktunya ganti, oke saya ganti. Cuma sebenarnya dari kemarin mau ganti, tapi mengingat, dan menimbang harga steem, sama sbd tak kunjung baik, ya terpaksa lah nunggu. Karena handphone saya ini susah kali untuk ngetik, maklum handphone jadul😁
Kadang-kadang ketika untuk membuat satu postingan saja, saya harus mengetik sampai 5 jam. Itu untuk ukuran panjang paragraf normal, yang biasa saya posting, dan itu sangat menyita waktu saya. Bahkan saya harus bolos kerja, kalau sedang mengetik. Makanya saya berharap moga-moga harga sbd sama steem nya kembali seperti kayak dulu waktu pertama saya mengenal Steemit. Saya pengen cepat-cepat ganti handphone, untuk memudahkan saya dalam mengetik. Kan biasanya keuntungan dengan begitu, ketika saya sudah ganti, sudah versi yang sempurna lah, kan gitu. Pemain gadget kan.
Bicara soal perkembangan teknologi, khususnya gadget atau nggak kita fokus kan handphone lah ya ? Dengan sebuah handphone atau smartphone ini. Tentunya bisa merubah pola komunikasi dalam keluarga, dan masyarakat. Merubah juga pola kehidupan, atau life style dalam hal konsumtifme masyarakat.
Dalam hal ini, menurut saya jangan biarkan setan menempati ruang dalam hidupmu, begitu para ulama bersatu. Karena sesuatu yang di luar kebutuhan, itu disebut adalah ruang setan. Misalnya kita di satu rumah berdua, kamarnya 6. Mungkin yang ke pakek hanya 2 kamar, yang 4 kamar untuk ruang setan. Demikian juga begitu, kecuali ada anak angkat, ada saudara, itu termanfa'atkan.
Demikian juga gadget, karena jangan sampai kita hanya berubah fitur sedikit saja, terus ganti. Padahal cuma tambah fitur ini, fitur ini saja. Mohon ma'af dalam hal ini, saya salut kepada orang Korea. Ada manajer suatu perusahaan, handphone nya itu di tali karet, maksudnya itu di solasi. Artinya saking jadulnya, padahal dia manajer. Jangan kan beli handphone, pabriknya pun sanggup di beli. Tapi maksud saya disini adalah, apa pentingnya. Karena kadang-kadang kita melakukan sesuatu yang tidak kita butuhkan, misalnya orang selfie. Belum tentu dia di cetak selama hidup cuma buat selfie.
Source
Handphone itu sebenarnya fungsinya untuk komunikasi, tetapi sekarang kan balik fungsi, orang itu yang di pertimbangkan kamera, ini aneh kalau gitu. Mungkin untuk besok harus ada kamar mandi, harus ada kulkas, harus ada toilet, semuanya ada di situ, kan menjadi berubah fungsi. Berarti akhirnya kita harus berpikir kemanfa'atan, dan kemampuan kita sendiri, tentunya untuk memilikinya.
Kembali ke anak, banyak kita lupa mendidik anak dengan membuat suatu dongeng dan kisah. Mohon ma'af, nanti dalam kajian psikologi perkembangan anak itu cerita, itu porsi yang luar biasa untuk membentuk karakter anak. Sayangnya itu, dongeng itu waktu saya masih kecil, itukan waktu tidur ada dongeng.
Dongeng itu ada pesan moral, dongeng itu sesuatu. Sekarang mana ada orang baca dongeng untuk anak, malah di kasih gadget biar nggak rewel, di kasih lah gadget. Kalau orang kan berbicara, "Oh smartohone itu juga bisa jadi bahan pembelajaran, karena kita browsing segala macam, mencari informasi, memanfa'atkan informasi dari browsing itu", orang bisa juga ngeles kayak gitu kan. Ya, tapi memang menghilangkan sisi, sebetulnya ada di sisi di luar kontrol. Mohon ma'af sampai kepada macam-macam kaitannya, trafficking dan segala macam. Beberapa di Facebook itu, kadang-kadang orang bisa di larikan, bahkan mohon ma'af, itu menghilangkan etika. Contoh, berbicara dalam Islam itu harus bertemu muka. Jadi kalau saya di sini misalnya di panggil, saya tidak hanya memalingkan kepala, harus seluruh tubuh, itu berhadapan, dan beretika. Harus kayak orang buta kalau di panggil. Orang buta kalau di panggil, dia akan mencari arah suara. Nah, kadang-kadang orang itu berbicara, itu yang di ngomongnya dengan siapa, yang di lihat siapa. Yang di lihat gadget, tapi ngomongnya, misalnya ada yang bertanya "Ya,,, darimana ? Dari belakang. Mau kemana ? Mau ke depan rumah. Sudah makan ? Kalau nggak mati ❗". Kira-kira itulah yang terjadi, kalau kita ngobrol sama orang sibuk dengan gadget nya. Dalam Alqur'an di sebutkan :
** "Dan, jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah SWT, mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta pada Allah SWT". (Alqur'an. "Surah Al-An' Am : 116) **
Saya dulu waktu teman-teman sudah punya handphone canggih, saya masih menggunakan handphone yang tulalit, fungsinya hanya sms dan nelpon. Sementara teman-teman sudah bb, kebetulan ketika itu bb lagi nge hits. Terus saya pernah di bilang-bilang gitu, "Masak hari gini, masih pakek handphone gitu" ? Tapi saya biarin saja. Jadi saya berpikir, menjadi beda sesuatu yang malah istimewa, menjadi beda itu keren. Karena secara fisik saya sudah beda banget kan. Jadi menjadi seragam, menjadi sama dengan orang lain itu apa bedanya, apa istimewanya. Tapi justru ketika kita kita beda dengan orang-orang lain, berarti ada yang istimewa dari kamu.
Source
Tapi kalau sekarang memang, perkembangannya sudah berubah, beda dengan kehidupan saya dulu. Zaman sekarang kayaknya nggak mungkin, zaman sekarang nggak ada gadget di antara kita. Karena semua sudah di satu benda itu. Kita mau nonton film di situ, mau dengar musik di situ, mau baca berita di situ. Jadi susah, memang gimana ya ? Sekarang juga sudah pakek power bank semua, saking butuhnya, kalau perlu sampai segede-gede sepatu kali ya power bank nya, supaya tahan lama. Kebutuhan itu dulu SP2 yaitu Sandang, pangan, papan, sekarang SP3, sandang, pangan, papan, sama power bank. Sekarang juga godaan, kalau dulu harta, tahta, wanita. Sekarang di tambah lagi yaitu quota. Dulu kan gadget di bilang, sampai ada statement menjauhkan yang dekat jadi jauh, jadi sekarang terbalik lagi kan dengan isu-isu politis sekarang, yang jauh malah, karena tidak tertahan pembicaraan dari komentar-komentar itu. Saya mengutip ada kata yang saya kutip ya, saya visualkan lah.
"Kita bisa senang tanpa mabuk-mabukkan, kita bisa berimajinasi tanpa narkoba, kita bisa berfantasi, berkhayal"
Nah, masalah gadget ini, kita bisa juga senyum tanpa selfie, artinya dengan kebersamaan bersama orang tua, anak-anak secara fisik, atau istilahnya permainan analog, dan itu yang di nilai sedekah, senyummu pada saudaramu. Tapi senyummu pada handphone, nggak sedekah. Jadi jangan, senyumnya kalau mau di foto saja, jadi misal kalau ketemu dengan orang, justru malah itu tadi, "Nah, bentar ya, mau foto dulu". Jadi cara menyikapi, pertama jangan maniak. Maka di sindir oleh Sitos Situmorang.
"Bulan Diatas Kuburan"
Bulan itu sebetulnya nggak perlu menyinari orang-orang yang sudah di alam ghaib, tapi yang di sini sudah di kuburan. Satu bait kata sekarang sangat terkenal, bagaimana itu tersindir. Dan inilah keadaan kita sekarang.
Mari kita bijak dalam penggunaan gadget, dan memanfa'atkannya. Gadget itu memberi manfa'at yang banyak, tapi juga pengaruh yang negatif. Maka bagaimana kita memenej jangan sampai gadget mengatur kita, tapi kita yang mengatur manfa'at itu sendiri, tapi kita gunakan gadget itu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, semoga bermanfa'at.
~Keep Writing~
Salam Sahabat Inspiratif