KARENA ikhlas lillahitaala atau karena ikut-ikutan? Pertanyaan itu cukup menohok dan mengejutkan saya. Itu adalah pertanyaan yang diajukan seorang ustadz saat memberikan ceramah Subuh di kompleks saya pagi kemarin.
Beliau menyebutkan, dari banyak dalil yang dia pelajari, Rasulullah selalu mengajarkan kita untuk meningkatkan kualitas ibadah di akhir atau di sepuluh terakhir bulan Ramadan.
Namun apa yang terjadi pada kita? Saf salat penuh sesak di awal puasa, namun semakin kendor menjelang akhir. Seperti ekor tikus.
Kebalikan dari yang diajarkan Rasulullah, katanya. Seharusnya semakin ke akhir, semakin sesak musala dan masjid-masjid. Namun faktanya, masjid dan musala semakin kosong, pusat perbelanjaan dan kafe-kafe yang justru semakin penuh.
Karena itu, tambahnya, patut kita pertanyakan. Sesungguhnya ibadah yang kita lakukan ini benar-benar karena Allah atau karena ikut-ikutan.
Target akhir dari rangkaian ibadah selama bulan suci Ramadhan adalah agar kita mendapat predikat orang yang bertakwa. Tapi pelaksanaan ibadah kita tidak maksimal.
Jangankan menjadi muttaqin, jangan-jangan justru kita hanya melakukan hal yang sia-sia. Apa yang kita dapatkan hanya haus dan dahaga.
Begitulah kira-kira inti dari tausiah siangkat pagi kemarin di Musalla Al Muhajirin, Kompleks Bukit Mutiara Indah, Alue Awe, Lhokseumawe.
Jujur saya merasakan pertanyaan itu cukup menohok karena begitu dekat dengan realitas sehari-hari. Bayangkan di tengah masyarakat yang berjuluk Serambi Mekkah, negeri bersyariat, banyak orang, tua muda, lebih ramai di kafe-kafe ketimbang di masjid.
Meski tidak menafikan jika tak sedikit pula yang tetap istiqamah melakukan ibadah secara maksimal di penghujung Ramadan ini. Namun tidak sebanyak yang berada di luar masjid.