Aku mendekati sambil bertanya, kenapa postingan mereka tak pernah muncul lagi. Jawabannya seperti kukira, membuat tertawa. Lalu mengajak mereka merencanakan satu project, #promo-steem seperti petuah para ambassador.
Kesempatan diskusi dengan para jurnalis di lingkungan organisasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh, berlangsung saat gelar wisuda untuk mahasiswa Muharram Journalism College (MJC), di Pantai Kuala Cut, Lhoknga Aceh Besar, Sabtu kemarin. MJC adalah sekolahnya AJI Banda Aceh untuk mendidik jurnalis muda.
Steemit dan Para Calaon Jurnalis Aceh
Sambil santai, aku bertanya kepada Habil Razali () dan Zulkarnaini Masry (
). “Kenapa jarang sekali postingan kalian, apa mau tutup akun?”
“Bukan mau tutup bang, tapi kurang semangat karena nilai votenya sangat kecil,” kata Zul. Sementara Habil hanya tertawa saja. Selanjutnya Reza Fahlevi () ikut bergabung dalam diskusi kecil itu.
“Saya juga punya akun,” kata Afifuddin Acal, Sekretaris AJI Banda Aceh. Aku tersenyum saja sambil berkata tak percaya karena tak pernah tahu selama ini, belakangan dia mengeja akunnya dan benar terdaftar sebagai sejak Juli 2017. Postingan terakhirnya tercatat 3 bulan lalu.
Diskusi makin ramai, karena ada beberapa kawan lainnya yang belum punya akun ikut mendengar, sebagian mahasiswa MJC yang akan diwisuda. Dari kejauhan terlihat Suparta () sedang membakar ikan untuk menu makan, juga ada Bang Nurdin Hasan
yang telah delapan bulan kehilangan password akunnya.
“Jangan lah mudah menyerah, mereka yang besar juga memulai dengan vote yang kecil,” kataku.
“Aku orangnya tak sabaran bang,” menimpali, postingan terakhirnya sebulan lalu.
Habil kemudian mendukung omonganku. “Saya pernah mewawancarai steemians besar, mereka dulunya juga sama seperti kita,” ujarnya. Tulisannya tentang itu dapat dibaca di sini ---> Kisah Steemian Besar Mulai Mengenal Steemit
Karena semuanya kukenal baik, mudah saja berkelakar kalau steemit memberi lebih baik dari media sosial lainnya. Walau dollar kecil didapat, lama-lama setelah dikenal akan besar juga. Dan tak salah untuk bergabung dalam komunitas serta diskusi-diskusi bersama steemian lainnya. Kuminta mereka terus posting, “minimal satu hari satu postingan minimal,” memakai istilah yang pernah disampaikan kawan .
“Sayang kan akunnya dibiarkan pasif tak terisi.” Bagi mereka, ini tak sulit karena semuanya penulis aktif yang bekerja di berbagai media. bekerja di rappler.com,
bekerja di Harian Kompas,
di Harian Analisa,
di merdeka.com dan
photographer freelance yang baru saja keliling Indonesia.
[Mengajak Davi membuka akun steemit]
Kusampaikan untuk merencanakan diskusi sembari mengumpulkan semua steemians yang jurnalis di Banda Aceh dan mereka yang tertarik menjadi steemians baru. Davi Abdullah, jurnalis Kompas TV yang belum punya akun tertarik dengan usulan ini. “Iya bang, ini menarik. Apalagi kalau adek-adek MJC nanti mau ikut serta,” Zul memberi sinyal.
Mereka kuberitahu bahwa ini awalnya adalah ide , pendiri AJI Banda Aceh yang siap mendukung, juga ada
, bekas Ketua AJI Lhokseumawe yang mau membantu.
Sebagian ide telah kujalankan dalam diskusi kecil. Intinya memperkuat jaringan steemit di kalangan jurnalis, minimal mereka yang telah punya akun tak membiarkan mati sembari mengajak yang lainnya ikut serta. Beberapa jurnalis di Banda Aceh yang aktif di steemit telah juga kusampaikan ide ini, seperti Munawardi (), Iskandar Norman (
), Taufik (
), Mukhtaruddin (
) dan Bedu Saini
. Pada akhirnya, kami mengharapkan dukungan steemians semua untuk merealisasikan diskusi ini.
[Anggota AJI Banda Aceh, sebagiannya steemians]