“Ada acara Steemit, ikut?” tanyanya via whatsapp
Maksud adalah Meet Up Komunitas Steemit Indonesia Chapter Banda Aceh. Saya yang ditanya menjadi semangat. Sebab sebelumnya komunitas ini juga diundang oleh Forum Aceh Menulis (FAMe). Pesertanya sampai melantai hingga ke tangga masuk. Saya dan
bersepakat untuk pergi bersama karena sadar masih anak baru. Minimal kalau pergi berdua ngak terlampau sangaklah saat di lokasi acara.
Kami bergerak dari rumah di Kampong Pineung menuju kantor AcehTrend. Tidak terlalu jauh jaraknya. berjanji akan tiba di rumah pukul 13.30 wib. Artinya kami punya waktu 30 menit sebelum acara dimulai. Namun nyatanya sudah pukul dua siang doi juga belum muncul. Sembari menunggu saya mengecek pesan masuk di grup GIB. Di komunitas blogger Aceh ini beberapa anggotanya sudah menjadi steemian.
“Acara sudah dimulai’ kata sang juru penerang.
Menggunakan motor baru milik , kami pun lepas landas menuju lokasi acara. Kami sangat bersemangat sebab nama-nama besar juga hadir. seperti kurator steemit Indonesia
dan senior
serta sejumlah nama beken lainnya. Saat tiba,
tengah menyampaikan materi ditemani bang
sebagai pemandu acara. Sebagai pendatang baru kami datang dalam diam. Tidak berani membuat keriuhan. Sesekali kami menyapa beberapa teman yang duduk dibagian depan. Ada
dan
disana. Hadir cepat, dapat bangku paling depan, siapa tau dapat nilai bagus. Ternyata sikap jaim kami tidak berlangsung lama. Sebab disana sudah berkumpul beberapa anak GIB. Ada
dan
. Beberapa diantaranya memang duduk dibagian belakang. Apakah terlambat datang atau supaya lebih leluasa mengambil kacang dan jagung rebus. Hanya Tuhan yang tau.
Di tengah keriuhan acara, kami tetap menyimak dengan khusyuk penyampaian materi oleh beberapa narasumber. Tiap kali narasumber tampil ,sesama steemian di barisan belakang saling berbisik..
“Dia satu hari dapat 10 juta”
“Kalau abang itu udah kaya raya. Postingannya dalam bahasa Inggris”
“Ih abang tu witness”
Kami yang baru sepekan bergabung dan dapat SBD $0,01 hanya tertawa. Kita kapan ya hahha.
Para pembicara mengawali semua hal dari pengalaman pribadi. Bagaimana berkenalan dan bertahan di steemit. Sebab banyak juga yang berguguran di tengah jalan. Belum sukses sudah mundur. Alasannya karena money oriented. Lam utak peng saja. Ini poin yang berkali-kali diingatkan.
“Berkarya saja. Tetap posting tulisan, foto, video terbaik, bermanfaat dan tentu saja menarik. Rezeki akan datang sendiri.” Kurang lebih begitu kalimatnya.
Bahkan mengajak untuk menjadikan steemit sebagai ajang mempositifkan Indonesia di jagad maya. Setelah di alam nyata terlalu banyak keriuhan yang terjadi di negeri ini. Dan itu diamini berjamaah oleh para steemian yang hadir.
Selain mendengarkan petuah dari pada senior, acara meet up ini tentu saja menjadi ajang perkenalan sesama steemian. Forum ini kembali menyatukan kawan lama atau teman yang hanya saling sapa di alam maya. Saya juga memanfaatkan pertemuan ini dengan berdiskusi bersama . Darinya saya tau jika ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk “naik kelas”. Diantaranya dengan menvote postingan bagus yang dapat dicari di kategori new, trending atau hot. Pilih yang baru saja dirilis. Jangan sungkan memberi komentar positif dan berbobot. Hindari pujian standar, nice posting, bagus, bertuus dan sejenisnya. Semakin kita beritikad baik maka kesempatan diapresiasi orang lain juga semakin terbuka.
Ada satu kalimat dari yang menurut saya wow. Itu adalah “memantaskan diri”. Di Steemit setiap boleh memposting apa saja selama itu bukan plagiat, berbau sara atau pornografi. Tapi kalau ingin dihargai orang lain maka hal pertama yang harus dilakukan adalah memantaskan diri. Beri nilai pada diri sendiri agar mampu menghargai karya steemian lainnya. Jangan suka mengemis vote. Saya sepakat bahwa setiap postingan punya jodohnya masing-masing. Tidak usah gelisah bila postingan bagus tapi minim vote, sebab di tempat lain Tuhan telah menyediakan peluang SBD yang lebih besar. Keep Spirit guys.