Hidup yang merdeka adalah hidup yang diidamkan semua manusia. Namun banyak orang tidak sungguh-sungguh memahami arti kemerdekaan dan kebebasan. Sehingga sering terjadi mereka yang berteriak merdeka malah bersikap anti kemerdekaan, menuntut kebebabas tapi malah menekan dan menghegemoni yang lain. Untuk benar-benar memahami arti kemerdekaan, tidak cukup hanya membaca KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), sebab sepertinya para pembuat kamus itu sendiri belum merdeka dari tekanan politik.
Para filosof menyebutkan bahwa kemerdekaan harus dimulai sejak dalam pikiran, artinya pikiran menjadi titik pijak segala tindak dan buat. Dengan pikiran merdeka manusia memiliki ruang menjelajah apa saja di dunia ini tanpa rasa takut. Pikiran yang merdeka akan menyingkap misteri dan rahasia semesta. Hanya dengan elan merdeka manusia mampu berinovasi, kreatif dan kritis. Inovasi, kreatif dan sikap kritis merupakan senjata paling dahsyat untuk melahirkan perubahan dan kemajuan bagi umat manusia tanpa harus berperang dan saling menghancurkan. Maka apa yang dikatakan oleh seorang philantropis dari Ukraina, Victor Pinchuk bisa jadi benar adanya: "Art, freedom and creativity will change society faster than politics."
Mengapa kemerdekaan harus dimulai sejak dalam pikiran? Itulah sebab manusia dibedakan dengan makhluk hidup lainnya. Hasrat untuk bebas dan merdeka adalah hasrat yang alamiah, binatang melampiaskan hasrat merdeka dengan menjelajah alam tanpa batas. Tapi kebebasan dan kemerdekaan tanpa pikiran akan menimbulkan anarki dan saling membunuh sesama mereka.
Dengan menggunakan akal pikiran manusia tentunya akan berbeda dalam merespon realitasnya dibandingkan hewan yang tanpa akal dan pikiran. Maka lahirlah norma, hukum, moral dan etika. Tanpa norma, hukum, moral dan etika manusia akan saling menerkam dan menindas demi kemerdekaannya. Agama hadir karena tuntutan menata norma, hukum, moral dan etika agar manusia hidup saling memberi ruang untuk kemerdekaan satu sama lain mencipta kedamaian sehingga ruang inovasi dan kreatifitas bisa berkembang, lalu lahirlah perubahan demi perubahan yang memperkaya peradaban manusia.
Blockchain dan Steemit hadir di dunia ini berkat kemampuan orang-orang yang memaknai kemerdekaan sejak dalam pikiran, mereka membongkar belenggu sistem sentralisasi data dalam dunia digital yang merenggut kemerdekaan manusia dan dengan semangat inovasi menemukan platform baru yang membebaskan, yaitu sistem data yang terdesentralisasi.
Maka, sampai di sini sudah benar kalau kita memilih untuk bergabung dengan Steemit atau platform digital lain yang serupa. Steemit bisa menjadi ruang untuk mengekspresikan kemerdekaan dan kebebasan dengan rambu-rambu norma, hukum, moral dan etika.
Komunitas Steemit Indonesia chapter Jakarta meetup di Cangkir Sembilan, Kalibata City
Komunitas-komunitas yang hadir di kalangan steemian juga merupakan media dialektika untuk membongkar belenggu-belenggu yang menghambat kemerdekaan. Maka pasti ada kekeliruan dalam memahami kemerdekaan bila komunitas justru menjadi belenggu baru bagi steemian.
Kesabaran, strategi, ketenangan, mental, fokus dan konsentrasi seperti dalam permainan catur juga harus dipraktekkan dalam ber-Steemit. Foto: Arif
Tentu saja, meraih kemerdekaan selalu membutuhkan perjuangan. Maka gunakan segenap kemampuan berinovasi, kreatifitas dan pupuk semangat untuk menciptakan perubahan bagi diri sendiri serta sesama dengan tetap memegang teguh norma, hukum, moral dan etika. Selamat mencari kemerdekaan di Steemit!
Salam kreatif dan berbagi
dari langit kedelapan
apartemen Kalibata City,