Seorang yang hatinya diliputi kebencian, sulit membedakan kebaikan dan keburukan.
(Quote)
Ketika mengajak beberapa teman bergabung di Steemit, saya tidak memperkenalkan kepada mereka nama-nama kurator. Tidak mengatakan pada mereka bahwa ternyata beberapa kurator Indonesia di Steemit adalah orang-orang yang satu daerah dengan mereka. Senjata saya untuk membuat mereka bergabung adalah monitor komputer 24 inch yang menjadi bukti nyata pendapatan pertama saya selama bergabung di Steemit. Selebihnya, wallet saya sendiri lalu saya perlihatkan harga SBD dan Steem di aplikasi Trectracker lalu saya minta mereka kalkulasikan sendiri. FYI, itulah salah satu alasan mengapa saya membiarkan sejumlah SBD dan Steem tetap berada di wallet, tidak disembunyikan di aplikasi lain.
Tidak saya perkenalkan kurator kepada para pemain baru bukan tanpa alasan. Masyarakat kita terbiasa berharap pada orang dalam. Orang-orang yang dikenal dan telah menjadi teman diharapkan bisa membantu mereka dalam perkara segera meraih kesejahteraan. Masyarakat kita setidaknya punya dua kebiasaan buruk: pengharap yang keterlaluan dan pemalas yang suka menyalahkan orang ketika menyadari dirinya telah gagal dan tertinggal.
Sumber:
Maka meskipun kita harus bangga memiliki ,
,
,
,
,
,
,
,
,
,
,
serta banyak lainnya yang setanah tumpah kesah, saya berusaha untuk tidak menjadikan itu senjata utama. Orang kita bertipikal mudah menganggap orang lain sombong dari sudut pandang sendiri belaka. Tidak dibalas pesan, dianggap sombong. Tidak diupvote, apalagi. Mereka tidak mau tahu bagaimana cara kerja manusia lain. Mereka juga tidak mau tahu bahwa kurator dan para Steemian yang sudah berhasil tersebut juga manusia biasa yang bisa luput, lelah, dan lupa.
Berulang kali saya mendengar keluh kesah beberapa Steemian yang merasa tidak mendapatkan perhatian layak dari kurator. Mereka merasa sudah berkarya dengan baik dan mengikuti aturan seperti yang dianjurkan langsung oleh kurator maupun melalui postingan-postingan Steemian yang sudah berhasil. Tapi kurator dan Steemian berhasil itu masih belum melirik dan meletakkan nilai pada karya yang mereka ciptakan. Itulah yang kemudian membuat mereka berpikir kurator Indonesia sombong, dusta, dan pilih kasih. Sombong sebab tidak peduli pada karya mereka yang masih merasa baru, dusta sebab setelah mereka lakukan sesuai anjuran tetap tidak diperhatikan, dan pilih kasih sebab dianggapnya para kurator lebih memerhatikan postingan orang-orang dekatnya saja.
Dalam Meet Up KSI Bireun, saya terkesan dengan ucapan ketika ditanya tentang bagaimana mengapa kurator kadang tidak memberikan voting terhadap karya bagus di Steemit? Levy menjawab, "kami (kurator Indonesia) bukan robot, kami manusia juga". Perlukah dijelaskan makna ucapan itu? Jelas sudah!
Sepanjang itu saya juga menemukan hal lucu, bahwa meski sudah menganggap kurator Indonesia di Steemit itu sombong, dusta dan pilih kasih, misal sekali waktu kurator atau orang-orang berhasil itu memberikan reward pada postingannya, serta merta hatinya bahagia dan berterima kasih sebesar-besarnya. Seharian ia senyum-senyum saja. Padahal jika sudah benci, tidak akan kita ambil apa yang ia beri. Kalau benci, kirim pesan ke mereka secara khusus bahwa kau tidak butuh para sombong, dusta, dan pilih kasih itu. Kalau masih berharap diupvote dan senang jika diberi reward oleh mereka, berhentilah buang-buang tenaga untuk menghujat. Cukup kau sadari bahwa selama ini kaulah yang sempit hati, iri, punya sikap bulshit dan kau penebar rasa benci.
Nikmati proses, terus ciptakan karya hebat, lambat laun proses tersebut akan memberikanmu manfaat.