Dalam hidup ini, acap kali kita bertemu dengan orang-orang baru, tak jarang seolah-olah kebetulan. Dalam setiap perjumpaan, ada satu hal yang akan diingat; kesan. Tidak peduli baik atau buruk.
Pertemuan melahirkan interaksi, interaksi membentuk koneksi, yang kemudian merembes menjadi ilmu; pengetahuan. Sebagai individu, seseorang itu memiliki keterbatasan. Maka dengan hadirnya orang lain (baru) akan kita temukan hal-hal baru. Apa yang kita tahu sebanyak apapun itu jelas tidak dan jauh dari sempurna.
Ketidaksempurnaan pengetahuan itulah yang kemudian terisi dengan hadirnya orang lain. Tentu selain menggali sendiri, jam terbang dan mau berfikir.
Maka bersyukurlah atas setiap pertemuan, juga bersyukurlah atas segala perpisahan. Setiap interaksi menggaransikan percikkan yang sari patinya dapat dicicipi oleh akal (nalar) juga hati (budi). Di saat bersamaan, ada dua hal yang perlu kita upayakan; menjadi pendengar yang baik, serta menjadi pembicara yang bijak.
Jika dua hal tersebut dapat diwujudkan, saya percaya bahwa perjumpaan dengan orang-orang baru yang bahkan tidak pernah kita sangka-sangka, akan memberikan efek yang besar. Kita dapat belajar dari pengetahuan orang lain, pengalamannya hingga apa saja yang berkenaan dengan hidupnya.
Di Steemit misalnya, tidak semua bisa bertatap muka via meet-up. Namun, dapat bertemu via postingan. Proses melihat postingan, membaca postingan juga bertukar komentar sudah lebih dari cukup untuk meneguk pengetahuan. Bolehlah dikata, Steemit juga bisa menjadi sumur pengetahuan yang tidak kering bila terus ditimba.
Tulisan ini misalnya, lahir berkat pertemuan dengan orang baru yang juga ber-Steemit. Padahal saya dan abang itu tidak berteman di Steemit. Tapi dari dirinya saya banyak tahu hal-hal sosial under cover Gayo dan banyak lagi hal lainnya yang luar biasa. Tentu, akan panjang jika harus saya narasikan satu per satu.
Saya selalu menaruh respek besar kepada siapa saja yang ikhlas berbagi, apapun itu; terutama hal-hal berkenaan dengan pengetahuan. Saya berharap kita tidak pernah cepat puas, merasa diri hebat. Sebab utama seseorang jalan di tempat biasanya lantaran terlalu prematur "besar kepala", "merasa akulah" dan satu lagi "senioritas".
Selalu penting bijaksana dalam segala hal. Kritis itu keren, positif thinking baik, tapi jika minus kebijaksanaan maka akan ada banyak hal yang runtuh. Ego secukupnya, cukup-cukup untuk sahur sajalah, jangan overdosis. Kesadaran dan kepekaan untuk tahu hal-hal yang telah saya sebutkan bisa dijadikan modal agar kita terus tumbuh sikap menghargai orang lain, haus pengetahuan dan tidak gampang menjengkali orang lain.