Saya awali kisah saya hari ini dengan foto ini, karena saya rasa poto ini paling mantap. padahal pagi saya yang indah diawali dengan menunggu giliran untuk bisa mempromosikan Steemit dikalangan remaja yatim di Pidie, remaja dan remaji ini awalnya diberi motivasi untuk berjualan barang secara onlen, lalu saya datang dengan cahaya, memberi mereka peluang untuk menjual konten secara onlen, berikut foto-fotonnya;
Mereka sangat antusias mendengarkan saya, seperti belum pernah melihat pria tampan sebelumnya.
Tampan dari mana, hidung besar gini! tapi setidaknya mereka semua sudah membuat akun steemit
selepas promo selama hampir 30 menit, padahal nunggunya sudah beberapa jam, saya di WA sama ketua KSI Pidie bahwa kami harus berangkat ke Banda Aceh untuk membuka secara simbolis, warung kopi Bin Ahmad. tempat lokasi rumah yang dituju adalah Rumah Aceh Trend milik Pak Sulaiman Abda, yang sudah dijelaskan panjang lebar, dua kali lagi di akun steemit
. jadi saya tak perlu menjelaskan lagi betapa tua rumah ini, setua yang tulisnya sudah dua kali yang saya sebut namanya di baris atas.
Karena terlambat datang, jadi kami tak jadi membuka warung ini, pintu pagar diduga sudah terbuka sejak pagi, jadi warkop ini pun tak ada pintu khusus, jadi sudah terbuka dan orang bisa masuk dan memesan kopi sejak pukul 14.00 wib, Gratis lagi. saya saja pesan dua kali.
Warung kopi ini berada di perkarangan rumah Aceh, atau orang dulu bilang rumoh Geudong atau orang luar bilang Rumah Adat Aceh, jadi suasananya dingin ketika hujan dan tidak panas kalau lagi terik kalau kita berteduh di bawahnya. kalau duduk di atapnya mungkin panas.
Banyak peminum yang berhadir, dari kalangan pejabat dan pe- yang tidak menjabat lagi, banyak dari mahasiswa yang tidak mahasiswa lagi, karena saya melihat wajah-wajah teman saya waktu kuliah dulu, seperti ,
,
, beberapa partenya saya tak ingat lagi namanya, pokoknya kami dulu aktivis di kampus, yang berhasil demo-demo beberapa kali, di undang jua beberapa kali sama rektor untuk bicara baik-baik sambil menyantap daging sapi di rumah rektor UIN Ar-Raniry dan setelah kami tamat, rektor bernafas dengan tenang lagi dan turun darah tingginya karena pengacau kampus sudah lulus di wisuda.
Tak Tahu kenapa namanya Bin Ahmad? apakah warung ini ada hubungannya dengan Badan Intelijen Negara (BIN) nanti semua pembicaraan kita di warung ini disadap sama BIN, dan semua data akan dijual ke CIA dan Semua anggota CIA akan buat akun Steemit. karena mayoritas pembicaraan anak muda saat ini di sana adalah itu. apakah Bin Ahmad hanya untuk anak laki-laki Pak Ahmad saja yang bisa duduk di warkop di daerah Tibang ini? atau hanya keturunan nabi Muhammad saja, karena dalam Al-Qur'an Ahmad itu nama nabi. jadi para Habib saja yang boleh ngopi disini? dijawab sendiri nanti sama bang Ahmad Mirza.
hari pun menjelang malam kami beranjak ke Hermes Hotel dan mau melihat penampilan dan
Saya datang karena Rialdoni, tidak lebih. dan semua anak-anak steemit kesini bukan untuk acaranya -tapi panitianya teman saya juga termasuk dan adik yang PPL di Sekolah saya, lupa namanya, tapi untuk bahan postingan, seperti saya ini. mematikan lampu
sejam adalah langkah yang sangat bagus. saya masih ingat empat tahun lalu saat beberapa negara melakukan earthhour Amerika menolak, dengan alasan rasis presidennya takut gak nampak. tapi boleh lah, hemat energi satu jam dan bisa melihat bintang-bintang supaya tak polusi cahaya. Kita manusia sangat boros energi.
Kegiatan sayang bumi saya sangat setuju. Seperti penghijauan, penghematan energi, -selain mematikan lampu lah-. misalnya penangkaran ikan, hewan langka, perlindungan hutan, dan lain-lain yang dianggap perlu.
dan diakhir kisah ini kami ke Polem Kupi untuk ngopi terakhir sebelum balik ke pangkuan ibu pertiwi di kota Sigli.
Dari Lamsujen, Riazul Iqbal mengabarkan!