saat mewawancarai seorang veteran AURI di Bireuen pada 2017 lalu
Pu katuleh hana so baca? (untuk apa kamu menulis tidak ada yang baca). Kapiyoh keudeh, hek manteng (lebih baik berhenti, capek aja). Kalimat-kalimat serupa ini tentunya sering terdengar di telinga beberapa penulis, atau bagi kita yang mungkin masih belajar menulis. Bukan justru memberi semangat, tapi sebagian “konco-konco” justru terkesan memadamkan semangat kita yang tengah bergelora.
Pertanyaannya, apakah konco-konco kita itu jahat? Jawabannya adalah tidak. Kita harus tetap berbaik sangka terhadap para konco yang selama ini menjadi teman kita berbagi cerita dan minum kopi secangkir berdua, atau mungkin bersantai ria tanpa cangkir. Mungkin kalimat-kalimat itu adalah bentuk keprihatinan dan simpati mereka terhadap kita yang dari hari ke hari terlihat seperti “itu-itu saja.”
Aktivitas menulis yang kita lakoni selama ini sering dianggap sebagai hanya membuang waktu, sementara keadaan yang telah runyam centang perenang toh tidak akan mampu kita ubah dengan tulisan yang kita corat-coret saban hari. Jangankan untuk mengubah keadaan di luar kita, mengubah nasib sendiri saja terkadang kita “gagal.”
Artikel di Serambi Indonesia hari ini, 21 Februari 2018
Bagi saya pribadi, tudingan bahwa menulis itu hanya membuang waktu ada benarnya. Saban hari memang waktu terus terbuang. Ia pergi dan tak pernah kembali lagi. Tapi, “setolol-tololnya” pembuang waktu adalah mereka-mereka yang mampu membuang waktu pada tempatnya. Saya berkeyakinan bahwa menulis adalah salah satu strategi membuang waktu pada tempatnya.
Adapun terkait sangkaan bahwa menulis itu tidak bisa mengubah keadaan, menurut saya hanyalah bentuk ketakutan yang bukan pada tempatnya. Jangankan dengan penulis, fasilitas tempur yang super hebat dan rudal super canggih pun belum tentu dapat mengubah keadaan. Tapi, bukan berarti kita kemudian harus berdiam diri dan membisu mematung menyaksikan kondisi yang phak luyak (hancur lebur) di hadapan kita. Kita semua mesti mengambil peran sesuai daya yang kita miliki, sebab kita hidup adalah untuk berperan. Dan menulis adalah sebuah peran yang derajatnya setaraf dengan segudang peran lainnya.
Di luar itu, seperti dipesankan oleh para pendahulu bahwa hidup mestilah meninggalkan warisan. Dan menulis adalah salah satu pintu untuk mewarisi. Dengan demikian tidak perlu merasa rugi ketika kita sudah memutuskan untuk menulis. Tetaplah bertahan.
Kehadiran steemit semoga saja bisa dimanfaatkan sebagai salah satu medium untuk berlatih dan belajar menulis. Pada umumnya dalam segala bentuk latihan dan belajar kita mesti mengeluarkan sejumlah rupiah. Kita sekolah mengeluarkan sejumlah dana. Kita latihan karate dengan Simpai pun mesti menyisihkan sedikit rupiah. Bahkan untuk mengikuti kursus menulis pun kita butuh modal, minimal biaya transport. Artinya hampir tidak ada sarana belajar dan latihan yang gratis alias pree tek tok.
Di sinilah terletak keistemawaan steemit. Meskipun hanya digunakan sebagai sarana latihan dan belajar, kita justru mendapatkan reward. Adalah “rugi besar” jika kesempatan ini disia-siakan. Jika dulu kita harus membayar untuk belajar, maka dengan kehadiran steemit kita justru mendapat bayaran sambil belajar. Jadi jangan percaya bahwa menulis itu rugi. Dan steemit sudah membuktikan itu.
Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali…