Dear steemian
Sebagai orang Aceh saya merasa bangga dengan kekayaan alammya yang sangat subur, jiwa aosial yang sangat tinggi bahkan jasa yang sangat besar terhadap Indonesia. Anda boleh tidak percaya dengan argumen saya, tapi satu persatu akan muncul dan menjadi perbincangan hangat di kemudian hari.
Dalam artikel ini saya hanya menulis sebahagian yang telah muncul ke publik dan tidak bisa disembunyikan, yang pertama; Emas di Puncak Tugu Monas Indonesia, merupakan sumbangan salah seorang tokoh Aceh yang bernama Nyak Markam.
Source
Kedua, Aceh masih punya tanah wakaf di Arab Saudi yang konon kabarnya hendak dikelola oleh pemerintah pusat tapi belum berhasil karena ada reaksi penolakan dari masyarakat Aceh, kemungkinan besar pemerintah Arab Saudi juga sangat tidak mungkin memberinya sembarangan tanpa persetujuan masyarakat Aceh.
Source
Tanah wakaf Habib Bugak Al-Asyi ini satu-satunya warisan wakaf habib bugak yang masih murni milik masyarakat Aceh dan tidak boleh berpindah tangan, karena masyarakat Aceh yang sedang menunaikan ibadah haji mendapatkan reward dari hasil pengelolaan tanah wakaf tersebut.
Mungkin faktor itulah yang membuat cemburu pemerintah Indonesia sehingga tertarik untuk mengelola tanah tersebut agar reward dapat di bagi kepada seluruh jamaah haji Indonesia. Tapi nanti dulu, kami masyarakat Aceh bukankah telah berulang kali membantu pemerintah Indonesia, tapi apa yang kami rasakan selain pengkhianatan yang tidak berujung.
Sebagai contoh besar adalah gonjang-ganjing surat obligasi pembelian pesawat RI001 dan RI002 yang kembali muncul kepermukaan selama ini, Nyak Sandang orang yang pertama kali membeberkan kepublik bahwa beliau masih menyimpan surat utang investasinya dalam memberikan modal kepada negara untuk punya pesawat terbang sebagaimana negara lain di dunia.
Namun Nyak Sandang tidak pernah mendapatkan reward dari negara walau ada buktinya, bahkan Nyak Sandang tidak pernah naik pesawat yang ia sumbang tersebut, baru setelah menjadi topik pembicaraan beliau berkesempatan pesawat dan dipertemukan dengan Pak Jokowi.
Setelah Nyak Sandang, ternyata masih ada yang lain yang menyimpan surat keramat tersebut, diperkirakan mencapai 70 orang, kalau memang masih banyak yang memyimpan sudah seharusnya pemerintah Indonesia membayar utang tersebut kepada Investor Aceh yang lebih dulu membantu pemerintah Indonesia yang sedang sekarat waktu itu.
Mungkin sebahagian besar surat obligasi itu telah hilang, hanya sebahagian saja yang masih menyimpannya.
Sejarah telah membuktikan, ketika negara lemah Aceh menjadi tulang punggung yang mendorong negara ini untuk bangkit. Namun sejarah juga membuktikan, ketika rakyat Aceh lemah negara tidak hadir untuk membantu malah menjajah secara sistematis.