Aku sering lupa tentang buku itu
Buku harianmu yg diam diam kau simpan dalam kamar tidurku, tepatnya aku tidak tau kapan, aku sering lupa.
Kau adalah inspirator terbaik yg pernah duduk satu meja denganku, meneguk kopi nikmat buatan tangan lelaki dipersimpangan jalan meugit ujung rimba itu.
Kopi penuh wibawa, yg selalu terjaga maruahnya.
Kita sudah jauh dari kata mesra, kerinduan menikam nikmatnya bersama, kau pergi entah kemana dunia
Aku sering lupa, untuk membaca pesan yg mungkin kau simpan dalam buku harianmu itu.
Disini, dihujung desa
Aku sering menunggu pagi tanpa puisi puisi, tanpa ilusi ilusi.
Aku sudah tidak mampu memelihara khayalan, sudah fakir pelukan, sudah mati ditelan kegelapan.
Aku sering lupa, kau sudah tiada.
To be continue...
(Yuknga:75)