Saya pernah membaca sebuah buku yang berjudul Born Liar. Buku ini menceritakan tetang perilaku “berbohong” pada spesies manusia, ditinjau dari berbagai aspek, yaitu psikologi, neurologi, budaya, sampai ekonomi. Kesimpulan penulis cukup mengejutkan: berbohong adalah sifat alami manusia, dan tanpa kebohongan spesies manusia mungkin sudah punah. Mengejutkan dan berbanding terbalik karena kita semua dibesarkan dengan paham bahwa “kejujuran” adalah sifat yang terpuji sedangkan “berbohong” adalah penyimpangan atau dosa.
Ian Leslie menulis buku ini dengan cara merangkai berbagai kisah dari berbagai sumber. Mulai dari jurnal ilmiah, sampai kisah-kisah sejarah unik abad 16, sampai riset otak manusia termutakhir. Salah satu bagian dari buku tersebut yang pengen saya bagikan adalah mengenai sifat manusia yang senang membohongi dirinya sendiri.
Berbagai studi menunjukkan bahwa manusia cenderung mengoverestimate diri mereka sendiri. Kita semua merasa diri kita lebih pintar, lebih cantik, lebih sehat, dan lebih bijak dari yang sebenarnya. Dalam salah satu studi, 80% responden merasa kemampuan mereka di atas rata-rata. Atau lihatlah audisi reality show. Banyak yang kelihatannya benar-benar yakin mereka terlahir sebagai penyanyi, walau suara mereka tidak bagus-bagus sekali.
Ada berbegai perasaan dari positive illusions:
Kita suka mengoverestimate kemampuan atau kualitas diri. Seperti contoh peserta reality show tadi. Kita juga merasa diri kita sendiri lebih objektif, lebih tidak bisa ditipu, lebih sabar, lebih penyayang, dan lebih macam-macam lainnya dari kenyataan yang sebenarnya.
Optimisme yang tak berdasar (tidak realistis). Kita menilai masa depan kita secara tidak realistis. Kita merasa kekasih kita adalah untuk selamanya, atau bisnis baru kita akan untung besar 2 menit sesudah diresmikan, kita merokok, makan makanan berlemak, dan yakin akan tetap sehat.
Kita merasa mempunyai kontrol atas hidup kita yang tidak realistis. Kita percaya diri dengan gelar MBA, MM, Phd maka kita akan lebih sukses. Atau kita percaya diri dengan kemampuan merayu kita cewek-cewek akan jatuh bergelimpangan di kaki kita.
Sebagian besar manusia membohongi diri mereka sendiri setiap saat. Kita semua hidup dalam “ilusi positif” yang jauh dari realita. Tetapi, semua “kebohongan diri sendiri” tersebut justru penting untuk kelangsungan hidup, karena itu kita menjadi mau untuk hidup. Walaupun gelar sarjana nanti banyak yang tidak berguna dalam kesuksesan kita, kita kuliah dengan susah payah mengejar nilai yang baik. Walaupun hubungan asmara kita banyak tumbang, kita tetap percaya suatu saat kita akan ketemu bidadari yang cocok dengan kita.
Walaupun banyak pernikahan yang berakhir dengan perceraian, kita percaya itu tidak akan menimpa kita. Walaupun timnas Indonesia belum pernah masuk Piala Dunia, kita semua berharap suatu saat kita bisa menundukkan Inggris, Italia, Brazil sekaligus.
Apakah kemudian ada sekelompok manusia yang realistis, yang tidak hidup dengan ilusi-ilusi positif di atas? Jawabannya adalah ada. Orang ini punya penilaian yang akurat terhadap kemampuan mereka. Terhadap masa depan dan terhadap kendali mereka atas hidup. Mereka tau kenyataan yang benar. Para psikiater menyebut orang seperti ini dengan clinically depressed (menderita depresi klinis). Dalam berbagai penelitian, orang-orang depresi justru menunjukkan persepsi akan realita yang lebih akurat daripada kebanyakan orang.
Ian Leslie menyimpulkan bahwa untuk bisa hidup, maju, dan berusaha, spesies kita harus hidup dalam kebohongan (ilusi) yang kita sendiri tidak sadari. Ilusi positif bagaikan buah wortel yang diikat dan digantungkan di depan si keledai, agar si keledai mau terus bergerak maju. Jika kita terlalu berpijak pada realita justru akan berbahaya. Kita bisa malas menikah, beranak dan meneruskan keturunan. Dan ujung-ujungnya, spesies ini bisa punah karena kehilangan kemauan untuk hidup.
Makanya kita jadi mengerti mengapa pelatih olahraga harus bisa menciptakan ilusi bahwa atlit binaannya adalah yang terkuat di dunia dan tak kan terkalahkan. Kita juga akan mengerti mengapa oran tua harus meyakinkan anak mereka bahwa ia adalah anak yang, pintar, dan keren. Ilusi (positif), walaupun suatu kebohongan, jauh lebih sehat dari memahami realitas yang sebenarnya.