Darsinah dipukul lagi,
oleh dentuman keras hunjaman benci;
oleh keegoisannya sendiri.
Meski ia sadar bahwa mair terus berpaut; waktu akan banyak menuntut,
tapi Darsinah tahu kali ini ia harus menurut.
Demi melanjutkan hidup,
Darsinah mesti paham,
bahwa bukan hanya waktu yang sedang ia lawan.
Ia harus kenal betul siapa musuhnya,
agar tak salah kaprah,
pula tak salah sasaran ketika ia marah.
Darsinah semestinya benci dengan dirinya sendiri,
bukan justru menyalahkan waktu yang beranjak pergi,
waktu yang meninggalkannya,
pula yang mencabarnya mengarungi keegoisannya sendiri.