“Aku sudah mengalami semua kepahitan hidup, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia,” kata Saydina Ali.
Photo: google.com
“Ya tetapi mereka (manusia) Itu sahabat kami, ya Saydina.” Tanyaku.
“Betul mereka sahabatmu? Jika mereka sahabatmu, bantu mereka, sekuatmu, seikhlasmu. Tapi jangan berharap apapun (bantuan) dari mereka.”
“Jadi mereka untuk apa Saydina?” Aku makin penasaran.
“Mereka kan sahabatmu, ya temanmu. Untuk apa teman, kan hanya kamu yang tahu?”
“Lah untuk apa teman kalau kita tak boleh meminta bantuan?” Tanyaku dengan raut wajah kecewa.
“Kamu gak usah urus mereka. Mereka mau bantu siapa saja, atau ga membantu sama sekali, bukan urusanmu. Yang menjadi urusan dan tanggung jawabmu adalah, seberapa besar kamu bisa bantu manusia, seberapa ikhlas kamu bisa bantu mereka!”
Penjelasan Ali itu seperti menyadarkanku. Betul, bukan tugas dan urusanku menanyakan kepada mereka. Yang menjadi urusanku adalah, seberapa besar dan seberapa ikhlas aku bisa bantu mereka.
Alhamdulillah ya Allah. Thanks God. Thanks Saydina. Semoga aku makin baik dan menjadikan nasihatmu sebagai jawaban atas apapun kegelisahanku!
Kalibata, 26 Maret 2018