Hai Steemian
Menghitung biaya penimbunan tidaklah sulit seperti yang dibayangkan. Bagi kita orang awam sering menghitung biaya timbun menjadi lebih mahal sehingga banyak yang memilih untuk memborongkan biaya dari pada beresiko menimbun dengan membayar per dumbtruk.
Cara mudah menghitungnya adalah dengan menghitung volume dari daerah yangbakan ditimbun. Volume adalah luas daerah timbunan dikali dengan tinggi timbunan. Selanjutnya volume tersebut dibagi dengan jumlah kubit (paket) yang akan diangkut per dumbtruck.
Jika daerah yang ditimbun berupa tanah lapang atau sawah dengan kondisi tidak membuat dumbtruck harus mendaki maka jumlah kubit (paket) dumbtruck bisa dimuat 6 kubit per dumbrrucknya. Sedangkan jika daerah timbunan berupa bagian dalam bangunan yang harus mendaki maka dimbtruck hanya mampu mengangkut 4 kubit (paket) per sekali angkut.
Selanjutnya hasil bagi volume dengan jumlah kubit dumbtruck dikalikan dengan jumlah harga pee dumbtrucknya. Harga ini sangat tergantung dari jenis tanah dan lokasi penimbunan. Kisaran harga biasanya 100-150 ribu rupiah.
Berikut contoh simulasinya:
Bangunan rumah dengan luas 11,5x10 meter yang ditimbun dengan tanah yang harganya 100 ribu rupiah per dumbtrucknya hingga mencapai ketinggian 1,2 meter sebagai berikut.
(Volume : 4) x 100.000
Volume = (11,5x10x1,2) = 138 meter kubik
Selanjutnya jumlah biayanya adalah:
(138:4)x100.000 = 3.450.000 rupiah. Biaya ini belum termasuk biaya orang yang akan membantu meratakan sisa tanah yang tidak habis diratakan dumbtruck. Biasanya dibutuhkan 2 orang pekerja dengan honor 150 ribu per orang sudah termasuk biaya makan dan minum. Sehingga total biaya yang dikeluarkan adalah 3.450.000+300.000= 3.750.000.
Maka untuk menimbun 1,2 meter bangunan yang memiliki luas 11,5x10 adalah Rp. 3.750.000,-