Kepergian Ramadhan seringkali tak berbekas dalam perilaku dan hati umat islam, termasuk dalam diri kita sendiri. Seusai shalat Idul Fitri di pagi 1 Syawal yang hampir tak seorang pun ketinggalan mengikuti, mesjid pun kembali lengang. Tak ada lagi desak-desakan seperti yang terjadi di malam pertama Ramadhan. Ketika itu, seringkali sandal kita tertukar atau bahkan hilang karena saking banyaknya orang yang berbondong-bondong datang ke mesjid.
Tapi kini, jamaah Shalat Magrib kembali lagi ke formasi semula, formasi yang sudah bertahun-tahun tetap awet dan bertahan, yaitu formasi 1-6-4. Satu imam, 6 makmum bapak-bapak, dan 4 ibu-ibu, tanpa cadangan.
Inikah dan beginikah hasil dari training di bulan Ramadhan? Setelah satu bulan penuh melaksanakan ibadah yang menjanjikan pahala berlipat ganda dengan khusu dan maksimal, puasa tak bergunjing, menahan nafsu, tidak berbohong, shalat berjamaah setiap hari di mesjid, lalu kini kita pun tinggalkan semuanya? Setelah Ramadhan usai.
Mungkin diri kita termasuk salah satu di antara mereka yang seusai Ramadhan mulai lagi bergunjing, mulai lagi mengubar nafsu, atau bahkan mulai lagi meningkatkan perintah-pertintah Allah. Apabila memang demikian, rasanya tak pantas seusai Ramadhan ini kita menyandang gelar seperti bayi yang baru lahir, yang tak memiliki dosa dan kesalahan.
Tak jarang pula menganggap bahwa diri kita sudah cukup berubah dengan adanya momen Ramadhan. Dalam waktu yang cukup instan, satu bulan, kita merasa sudah cukup menjadi hamba-hamba yang mendekatkan diri kepada Allah Sang Pencipta Alam Semesta. Dengan ibadah puasa, shalat, zikir, tadarus, dll. Kita anggap diri kita sudah memiliki bekal kebajikan yang cukup banyak.
Tapi begitulah, perubahan yang instan maka hasilnya instan pula. Terbukti bahwa ketika Ramadhan telah usai, selesai pula berbagai amal saleh yang kita lakukan, kita kembali seperti dulu lagi, seperti sebelum datangnya Ramadhan. Padahal apabila kita benar-benar berubah, semestinya kita tetap menjaga amalan-amalan yang kita kerjakan selama bulan Ramadhan. Apabila di bulan Ramadhan kita selalu berjamaah shalat di mesjid maka seharusnya pula kita shalat berjamaah di mesjid sepanjang bulan Syawal sampai bulan Sya'ban.
Apabila di bulan Ramadhan kita berpuasa, sudah selayaknya pulalah kita melakukan berbagai puasa sunat di bulan yang lainnya. Bila kita rajin bersedekah di bulan Ramadhan, seharusnya pula kita banyak bersedekah di luar Ramadhan. Begitu juga dengan amalan-amalan yang lainnya.
Berakhirnya Ramadhan bukan berarti berakhir pula amal kebajikan. Perlu disadari bahwa Ramadhan bukan tujuan. Ramadhan hanyalah sebuah training untuk membentuk karakter manusia agar menjadi karakter bertakwa. Adapun hasil dari training ini akan terlihat justru setelah Ramadhan usai. Masihkah kita shalat berjamaah? Masihkah kita rajin bersedekah? Masihkah kita menahan nafsu? Masihkah kita melakukan berbagai amal kebajikan?
Kita perlu menghijrahkan amalan-amalan yang tak pernah kita lakukan di luar Ramadhan menjadi amalan-amalan yang sering kita lakukan di bulan Ramadhan. Biarpun bulan Ramadhan telah usai, amalan-amalan Ramadhan harus terus kita hidupkan. Kita berhijrah menuju amalan-amalan Ramadhan di sepanjang Syawal hingga Sya'ban.