Sebanyak 151 penyair nusantara menulis puisi untuk korban musibah gempa Pidie Jaya 6,5 SR yang merenggut 102 jiwa. Dibukukan dalam sebuah antologi “6,5 SR Luka Pidie Jaya.”
Antologi ini disusun oleh Willy Ana seorang penyair perempuan asal Bengkulu, dengan Mustafa Ismail jurnalis Tempo dan sastrawan asal Trienggadeng, Pidie Jaya, Aceh sebagai editor/penyelaras. Pertama kali diterbitkan pada Januari 2017 oleh Penerbit Imaji Indonesia.
Gempa 6,5 SR yang melanda Pidie Jaya pada 7 Desember 2016 merupakan salah satu dari serangkaian gempa dahsyat yang pernah melanda kawasan Aceh. Gempa yang membuat 102 orang meninggal dunia, ribuan rumah hancur. Para penyair Nusantara menunjukka simpatinya kepada para korban. Empati mereka bisa dibaca dalam puisi yang terkumpul dalam antologi tersebut.
Antologi puisi 6,5 SR Luka Pidie Jaya sumber
Penerbitan antologi puisi penyair nusantara dalam antologi 6,5 SR Luka Pidie Jaya ini juga dilakukan dengan biaya ditanggung bersama. Setiap penyair menyumbangkan dana dalam bentuk pembelian antologi ini minimal Rp75 ribu untuk satu antologi.
Tapi menariknya, jumlah yang didonorkan oleh para penyair lebih dari itu, malah ada yang membeli satu antologi senilai Rp 1 juta. Hasil penjualan dari antologi itu kemudia disumbangkan untuk para korban gempa di Pidie Jaya.
151 penyair nusantara yang menyumbangkan naskahnya dalam antologi puisi ini, terdiri dari penyair muda hingga penyair senior dan kawakan. Antara lain ada nama-nama beken seperti: Ace Sumanta seorang pegiat literasi dan budayawan Bogor, Jawa Barat yang juga Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor periode 2015-2020.
Kepala Pusat Dokumentasi Sastra HB Jasin, Ariany Isnamurti juga ikut mengisi puisinya dalam antologi ini. Selain itu ada Bambang Widiatmoko seorang dosen ilmu komunikasi, Siwi W Hadiprajitno praktisi komunikasi di sebuah BUMN di Jakarta.
Dari Aceh ada nama-nama penyair senior dan junior seperti LK Ara, D Keumalawati, Din Saja, Musmarwan Abdullah, Fikar W Eda, J Kamal Farza, Mustafa Ismail, Sulaiman Tripa, Tabrani Yunis, Teuku Dadek, Win Gemade, Zab Bransah, Saiful Bahri, Salman S Yoga, Iskandar Norman, Edi Miswar Mustafa, serta puluhan penyair lainnya.
Antologi 6,5 SR Luka Pidie Jaya ini adalah sebentuk keprihatinan dan rasa empati terhadap para korban musibah gempa Pidie Jaya. Malah beberapa nama penyair dalam antologi ini merupakan mereka-mereka yang berasal dari Pidie Jaya, tempat musibah maha dahsyat itu terjadi, sehingga puisi-puisi yang mereka nukilkan dalam antolgi ini, berasal dari apa yang dialami di tempat kejadian.
Selain itu antologi 6,5 SR Luka Pidie Jaya ini juga seakan menegaskan bahwa, keberpihakan kepada nilai-nilai kemanusiaan bisa diwujudkan dalam bentuk apa saja, termasuk melalui rangkain kata yang tersusun apik dalam setiap lirik dan bait-bait puisi.