Buku ini berisi kisah-kisah daam damai proses perdamaian Aceh, tentang demokrasi yang dibangun setelah perang, dan seluk beluknya.
Buku ini berisi 22 tulisan panjang tentang reportase perdamaian Aceh yang ditulis oleh 22 orang wartawan. Semua tulisan disajikan dalam bentuk feature, sehingga enak dibaca. Beberpa tulisan malah sangat menyentuh karena berisi rekaman dan pengalaman para korban dalam membangun damai Aceh.
Semua tulisan dalam buku ini mejadi lebih menarik setelah disunting oleh dua jurnalis senior di Aceh, Adi Warsidi dan Nurdin Hasan. Keduanya pernah menjabat sebagai Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh.
Buku Merekam Demokrasi AcehSumber
Buku ‘Merekam Demokrasi Aceh’ ini diterbitkan pertama kali pada Desember 2009 atas kerja sama Aliansi Jurnalis Independen Banda Aceh dan Katahati Institute bersama Pusat Resolusi Konfik dan Telaah Perdamaian (Centre for Conflict Resolution and Peace Studies-CCRPS) Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Ar Raniry Banda Aceh, serta didukung oleh masyarakat Jepang.
Sebagian besar tulisan di dalamnya merupakan karya para jurnalis yang telah mengikuti pelatihan “Studi Antropologi dan Jurnalisme Damai” serta para redaktur media yang telah mengikuti “Workshop Jurnalisme Damai” kerja sama Katahati Institute dengan Aliansi Jurnalis Independen Banda Aceh.
Buku ini bisa dikatakan sebagai kumpulan tulisan ide-ide kreatif dari jurnalis Aceh yang menulis tentang perdamaian Aceh yang saat itu baru berusia empat tahun. Mereka merekam proses deokrasi pasa konflik dan fakta-fakta tentang proses damai Aceh.
Para jurnalis Aceh yang menyumbangkan tulisannya dalam buku ini, berhasil menulis tentang Aceh dengan semangat perdamaian untuk meraih masa depan yang lebih gemilang. Setiap peristiwa ataupun pikiran menjadi penting untuk ditulis sebagai partisipasi jurnalis Aceh dalam mendokumetasikan berbagai peristiwa seputra demokrasi dan perdamaian Aceh.
Direktur Eksekutif Katahati Institute, Fahrul Rizha Yusuf dalam pengantarnya menilai, buku ini menjadi penting sebagai upaya pendokumentasian atas fakta demokrasi yang berlaku di Aceh, dan rujukan pemikiran yang terekam baik keresahan dan harapan, dan praktek keberhasilan yang menjadi satu. Buku ini seakan menegaskan bahwa demokrasi adalah titik ukur awal untuk menulis sejarah selanjutnta.
Mereka yang menulis dalam buku ini adalah: Riza Nasser (Hadiah Berbalut Noda), Suparta (Golongan Putih Kutaraja), Yuli Rahmad (Raib Sebelum Mencontreng), Mellyan (Perempuan antara Peluang dan Ancaman), Junaidi Mulieng (Dua Partai Bergandeng Menang).
Salman Mardira (Buah Ingkar Prajurit Perdata), Khithtati (Liku Pesta Demokrasi di Aceh), Muhamamd Ifdal (Berlindung dalam Tradisi), Reza Fahlevi (Berkah Lain dari Pemilu), Zulkarnaini (Kemenangan karena Rakyat), Rizki Maulida (Bukan Karena Iklan), Taharah (Yang Menang dan Ganti Nama), Iskandar Norman (Biola Damai).
Kemudian, Alaidin Ikrami (Demokrasi Cacat), Fakhrurradzie Gade (Usai Jamuan di Sebuah Jambo), Murizal Hamzah (Lon Hana Teupeue), Arif Ramdam (Kursi Perdamaian), Junaidi (“Perang” Belum Usai), Maimun Saleh (Bermain Api di Takengon), Said Kamaruzzaman (Mengungkap Sipil Besenjata), Taufik Almubarak (Pria bergelar Komputer), dan Nurdin Hasan (Teror Usai Deklarasi Damai).