Perkebunan buah naga di Kabupaten Gayo Lues pertama kali dibuka oleh Nazamuddin Arbie, pria yang rela meninggalkan jabatan manejer di sebuah perusahaan media demi menjadi petani.
Pagi-pagi betul saya sudah bangun, dari kamar hotel saya keluar menuju ruang makan, tapi masih sepi, mungkin karena masih subuh. Suasana masih terasa sejuk, kesempatan itu saya gunakan untuk jogging. Dari hotel berlari pelan ke lapangan Pancasila di tengah kota Blangkejeren, suasana masih remang-remang. Belasan tentara tampak berlari mengelilingi lapangan itu.
Bang Arbie menjelaskan tentang usaha perkebunannya Foto
Tapi, sepagi itu Kota Blangkejeren juga masih sepi. Cuacanya yang sejuk membuat saya susah berkeringat. Saya kemudian balik arah berlari ke jalan menanjak melewati hotel tempat saya menginap. Yang pertama saya cari adalah pemancar radio. Ya, saya mencari Radio Teulangke, sebuah stasiun radio swasta milik Nazamuddin Arbie.
Saya mengenalnya di penghujung kuliah ketika magang di sebuah perusahaan media, Bang Arbie begitu kami memanggilnya, menjabat sebagai salah seorang menejer di perusahaan media terbesar di Aceh tersebut. Tapi di tengah kemapanannya sebagai petinggi media, ia memilih keluar, memilih menjadi petani di tanah kelahirannya Gayo Lues. Tapi jiwa jurnalisnya tidak hilang, ia mendirikan Radio Teulangke di sela-sela kesibukannya bertani.
Semakin jauh saya berlari, di keremangan pagi itu pemancar radio semakin jelas terlihat. Saya tambah bersemangat, dan benar saja ketika sampai di sana, di sisi kiri jalan saya melihat sebuah bangunan di bawah pemancar itu, ada kata “Radio Teulangke” di sana. Tapi tak ada orang di studio itu. Untuk memastikan itu, saya menghampiri dan menyapa seorang bapak yang baru pulang dari masjid, saya bertanya apakah itu benar radionya Bang Arbie. Bapak itu mengiyakan. “Masuk saja lewat samping, ada orang di sana.”
Tapi, saya urungkan niat untuk masuk karena masih terlalu pagi. Saya kembali ke hotel untuk mandi. Dan sebuah kebetulan yang sangat mengagetkan, ketika saya akan sarapan di hotel. Di pintu lobi hotel saya meilihat pria yang saya cari itu. “Bang Arbie,” panggil saya. “Eh Is, kapan sampai, kok gak kabar-kabari, ada acara apa?” tanyanya.
Saya bangkit menyalaminya. “Tadi saya sudah ke Teulangke, tapi gak masuk karena masih terlalu pagi,” kata saya. Kami pun larut dalam pembicaraan. Ternyata ia datang ke hotel karena ada tamu, seorang jaksa yang ditugaskan menjadi Gayo Lues, ia menjemput teman jaksanya itu. Tak lama kemudian orang yang dicari Bang Arbie keluar. Bang Arbie mengajak kami untuk sarapan di luar.
Ngopi dan sarapan pagi bersama Bang Arbie di Blangkejeren Foto
Kesempatan itu pun saya gunakan untuk menyakan soal profesi barunya sebagai petani. Pendiri sekaligus Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh pertama itu pun kemudian mengajak saya dan teman jaksanya itu ke kebun buah naga. Maka mengalirlah cerita panjang lebar dari dirinya.
Ketika meninggalkan posisinya sebagai manerjer di perusahaan bonafit di Banda Aceh, dan memilih menjadi petani, banyak orang menyesali keputusannya. Apa lagi Bang Arbie telah lama disiapkan untuk menjadi Pemimpin Redaksi di media tempatnya bekerja. “Makanya ketika saya keluar, pemimpin redaksi berusaha meyakinkan saya untuk bertahan, sudah tiga bulan saya keluar nama saya belum dihapus di bok redaksi,” ungkapnya.
Bang Arbie kemudian mebuka kebun di belakang stasiun Radio Teulangke miliknya itu. Hal yang pertama dilakukannya adalah mengubah PH tanah secara organik menjadi cocok untuk berkebun buah naga. Ia sempat sebulan belajar ke Jawa tentang cara mengubah PH tanah dengan pupuk organik itu. Usahanya berhasil, kebun buah naganya bukan saja berbuah banyak, tapi juga berukuran besar.
Bang Arbie, sangat ingin untuk memecah rekor Museum Untuk Rekor Indonesia (MURI) untuk ukuran dan berat buah naga di Indonesia. Dan ia hampir berhasil, buah naga terbesar yang dipetik dikebunnya hanya kurang beberapa gram saja dari berat buah naga yang masuk rekor MURI saat itu.
Hasil panen perdana buah naga di kebunnya itu, di pilih yang besar-besar dan dibawa ke Pendopo Bupati Gayo Lues. Ia ingin menularkan semangat bertaninya kepada para pejabat di Negeri Seribu Bukit itu. Dan untuk itu ia berhasil. “Kalau sekarang Is ke pendopo itu ada kebun buah naga di sana,” lanjutnya. Beberapa pejabat Gayo Lues kemudian memang mengikuti jejak Bang Arbie membuka kebun buah naga.
Dari kebun buah naga, kami kemudian dibawa ke teras rumahnya di pinggir jalan utama, sebelum masuk ke kebun. Kami dijamu dengan minuman jus segar yang buahnya dipetik dari kebun Bang Arbie sendiri. Di rumahnya hanya terlihat dua orang perempuan. “Si kembar kemana?” tanya saya.
Si kembar yang saya tanya adalah kedua anak perempuan Bang Arbie yang lahir kembar. “Mereka di Banda Aceh, kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala,” jawab Bang Arbie.
Saat menjeguk anaknya yang kuliah di Banda Aceh, Bang Arbie sering membawa buah naga dan menjualnya di Pasar Peunayong. Hasil kebun benar-benar dinikmatinya, saya melihat ia begitu enjoy dengan usaha berkebunnya itu.
“Kalau saya dan istri ke Banda Aceh untuk jenguk anak, saya bawa dua karung buah naga di belakang mobil, kami jual ke Peunayong, lalu tidur di Hermes.” Hermes yang dimaksud Bang Arbie adalah hotel bintang empat di Banda Aceh. Karena itu pula istrinya pernah berkata padanya, mereka bagai petani berdasi, jual buah naga lalu tidur di hotel mewah. Ia benar-benar menikmati hasil kebunnya.