Kalau Anda ingin berwisata ke dataran tinggi Gayo, terutama di daerah kaki gunung Leuser, Gayo Lues, maka Kala Pinang merupakan salah satu destinasi wisata yang layak untuk Anda kunjungi.
Objek wisata Kala Pinang letaknya tak jauh dari pusat Kota Blangkejeren, ibu kota Kabupaten Gayo Lues, hanya dengan 15 menit sampai 20 menit berjenderaan Anda akan sampai ke sana. Di Kala Pinang Anda bisa menikmati keindahan alur sungai yang membelah hutan pinus, deras air sungai juga membuat irama alam yang menenangkan, sejuk dan mempesona.
Adalah Anuar Syahadat dan Teuku Said Ramli, dua sahabat saya di Gayo Lues yang pertama kali membawa saya ke sana. “Makan siang di Kala Pinang saja, jangan di kota,” kata Anuar pada saya ketika berjumpa di Blangkejeren. Ramli mengiyakannya.
Lemang Gayo dan segelas kopi foto
Sampai di Kala Pinang, saya melihat jejeran pondok terbuka di tepi sungai, suasanya sangat asri, duduk di pondok menikmati panorama alam memang mengasyikkan. Kami memilih satu pondok agak ke darat, tidak terlalu dekat dengan tebing dan pinggiran sungai.
Anuar Syahadat yang sering kami sapa Win Porang, karena berasal dari kampung Porang, kemdudian memesan lemang Gayo dan ikan panggang. “Pada hari-hari tertentu, terutama hari libur ada menu ayam panggang, tapi hari ini tidak ada, kita tidak beruntung,” katanya.
Kami bertiga duduk di pondok menikmati pesona alur sungai Kala Pinang, di seberang sungai rimbunan pohon pinus memperindah pemandangan, di kelokan sungai sebelah kiri beberapa pemuda memancing ikan. Sementara di pondok-pondok terbuka di pinggir sungai, muda-muda asyik bercengkrama.
Sambil menunggu lemang Gayo masak, kami memesan kopi, ya kopi khas Gayo Lues. Tak lama kemudian pelayan datang dari arah dapur membawa lemang Gayo ke pondok kami, Ramli mengambil menarik belahan bambu buluh yang ujungnya telah dikoyak untuk membuka lemang di dalamnya. Lemang Gayo itu masih panas dengan balutan daun pisang di dalam buluh bambu yang baru dibelah Ramli. “Silahkan Bang,” katanya menawarkan.
Menikmati lemang Gayo dan kopi panas di pinggir sungai yang membelah hutan itu sungguh mengesankan. Ramli menjelaskan bahwa Lemang Gayo pertama kali berasal dari Gayo Lues, cita rasanya berbeda dengan lemang-lemang dari daerah lain. Lemang Gayo dibuat dari beras ketan, santan kelapa yang kental, kemudian ditaburi sedikit garam sebelum dibalut dengan duan pisang muda dan dimasukkan ke bambu buluh untuk dibakar.
Sebelum dicampur dengan santan kental, beras ketan harus dicuci terlebih dahulu, kemudian direndam selama empat jam, setelah itu dicuci lalgi hingga bersih dan ditiriskan, kemudian baru diaduk dalam santan dan sedikit garam hingga tercampur sempurna.
Cara memasukkan beras ketan hasil campuran dengan santan ke dalam buluh bambu juga butuh keahlian, kalau tidak maka ketan yang dihasilkan tidak akan terbalut dengan sempurna dengan daun pisang di dalamnya.
Pucuk daun pisang dimasukkan terlebih dahulu ke dalam buluh bambu, lalu dengan menggunakan penjepit daun pisang dibuat menempel di sela-sela lingkaran dalam bambu, kemudian beras ketan dimasukkan perlahan-lahan. Isinya pun tidak boleh oenuh, cukup sekitar tiga per empat dari total kapasitas belah bambu yang digunangan, ujung atas buluh bambu ditutup, lalu lemang dibawa ke dapur pemanggangan untuk dibakar di atas bara. Tapi agar lemang dalam buluh bambu itu matangnya merata, buluh bambunya harus diputar dan dibolak-balik.
Dan, menikmati lemang Gayo yang masih panas di pondok tepi sungai Kala Pinang yang sejuk itu, memberikan sensasi tersendiri, apa lagi ditambah dengan kopi panas dari biji kopi pilihan yang dipetik di kebun kopi Negeri Seribu Bukit tersebut. Sungguh aduh hai.