Buku “Senja Merah di Tanah Maluku” berisi tentang pengalaman para dokter muda Indonesia dalam menangani korban kerusuhan di Ambon, Maluku dan Poso. Sebuah untaian hikmah dari misi kemanusiaan MER-C
Buku ini ditulis oleh Azimah Rayahu, anggota organisasi penulis Forum Lingkar Pena (FLP) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Zikrul Hakim, Jakarta Timur pada Oktober 2014. Buku setelah 240 halaman ini kisah-kisah para medis yang termasuk dokter muda di dalamnya, dalam membantu penanganan korban kerusuhan dan korban konflik di Ambon.
Pulau Banda surga yang tersembunyi di Maluku foto
Buku ini juga mengungkapkan seluk beluk dan suka cita dokter-dokter muda dalam menangani insan-insan korban kerusuhan berdarah di Ambon, Maluku, Poso, dan berbagai tempat yang ekskalasi konflik vertikan dan horizontalnya memutuhkan penanganan serius.
Dalam menjalankan aksi kemanusiaan di daerah-daerah konflik tersebut, para dokter muda ini dengan peralatan medis yang seadanya, seakan mengabaikan malapetaka yang kapan saja bisa menimpa mereka di daerah kerusuhan tempat mereka menjalani aksi kemanusiaannya bersama MER-C.
Isi buku ini diawali dengan tulisan berjudul “Ambon Tak Lagi Manise” yang diperdalam oleh Azimah Rahayu dengan dua pembahasan: Menapak di negeri seribu pulau, dan dari Dobo duka itu bermula. Gaya penulisannya yang ngepop dengan bahasa yang ringan dalam bentuk reportase, membuat buku ini enak dibaca kapan saja.
Setelah itu buku ini dilanjutkan dengan Report I : TMMUI dan MER-C dengan judul “Kami Harus Berbuat Sesuatu” yan berisi enam tulisan, yakni: Memannya kamu bisa apa, Mengusung idealitas, Nyaris batal berangkat, Mengulang kuliah, Kampanye tragedi Ambon, dan Alhamdulillah hutang saya kepada umat lunas.
Selanjutnya “Membentuk Lembaga Darurat Medis” yang juga dijabarkan dalam enam tulisan pembahasan, yaitu: Saat lembaga darurat medis mejadi kebutuhan, Berjalan kaki mengumpulkan informasi, Lika-liku menggalang dukungan para tokoh, Konferensi pers yang sepi; not responding, Dan MER-C pun berdiri, serta Bekerja di belakang layar.
Buku catatan kemanusiaan Senja Merah di Tanah Maluku foto
Pada Report II : Dibalik Peristiwa (Yang Tak Terungkap) berisi kisah-kisah perjalanan yang ditulis dalam delapan tulisan, yakni: Munafiknya lembaga, Tual kami datang, Akhirnya tim dokter spesialis diberangkatkan, Terjebak perang, Ke Tual menumpang kapal Yonkes, Angkot Bandara Langgur-Pattimura, Pertama MER-C menyapa Ambon, serta Pertolongan Allah datang tanpa diduga.
Bagian selanjutnya diisi dengan tiga belas (13) kisah-kisah medis, terdiri dari: Dokter dua kubu, Ada mayat tanpa kepala, Kerja bakti di RSU Tual, Panah wire itu tertancap berhari-hari, Seorang kakek perkasa, Empat puluh sembilan kali operasi, Dicegat dan terancam, Dengan speed mengevakuasi pasien, RS Alfatah pusat penanganan medis bagi korban yang muslim, Korban-korban tak terlupakan, Membawa pasien ke Jakarta, Madu obat alam yang mustajab, dan Bertaruh darah.
Selanjutnya bagian terakhir berisi tentang kisah-kisah korban dan pengungsi, terdiri dari delapan (8) kisah, yaitu: Mengais abu batu merah, Denyut nadi Tulehu pasca kerusuhan, Pembagian obat di Tulehu, Penjagaan Hitu, Tiga puluh lima ribu nyawa yang terlupakan, Kakus terpanjang di dunia, Memang Cuma dokter Ka yang mau moso surga? Dan Mama Mun.
Buku ini bisa dibilang sebagai buku reportase perjalanan kemanusiaan dokter-dokter muda Indonesia yang tergabung dalam MER-C dalam menangani korban kerusuhan di Poso, Ambon, Maluku dan beberapa tempat lainnya, menjadi semacam dokumentasi yang bisa menggugah batin siapa saja yang membacanya.