The Broken Wings merupakan salah satu karya fenomenal sastrawan si jenius membara, Kahlil Gibran. Telah diterjemahkan ke dalam berberapa bahasa utama dunia. Edisi bahasa Indonesia dengan judul “Sayap-sayap Patah” diterbitkan oleh Zhevamedia, Yogjakarta tahun 2001 terjemahan Wawan Sugiarta.
Sayap-sayap Patah merupakan salah satu karya Kahlil Gibran yang terindah, mengisahkan takdir yang mematahkan sayap-sayap cintanya. Kasihnya yang tak sampai pada gadis Perancis, pada gadis Lebanon, serta pengarang Mesir yang tak pernah dilihatnya.
Kahlil Gibran sumber
Dalam karyanya ini Kahlil Gibran mampu menghadirkan kisah-kisah mengharukan dari perjalanan cinta dan hatinya yang patah. Ia menulisnya dengan sangat dalam dan penuh makna. Membacanya kita seolah diajak untuk meresapi dan merasakan kesunyian hati seorang Kahlil Gibran yang cintanya dibawa mati. Tentang hal itu Kahlil Gibran menulis:
Saat itu, setelah tahun-tahun berlalu, aku tidak memiliki apapun. Tak ada yang tersisa dari impian indah itu, melainkan kenangan menyakitkan yang mengepak-ngepak laksana sayap-sayap tak tampak di sekelilingku. Ia melahirkan rintihan kedukaan di dasar hati dan mengucurkan air mata putus asa di kelopak mata. Salma yang agung sudah tiada. Tidak ada yang tersisa untuk sekedar mengingatnya, selain hatiku yang patah, dan seonggok kuburan itu, dan hati inilah yang masih tersisa untuk memberi kesaksian tentang Salma.
Buku setebal 118 halaman ini diawali dengan pendahuluan dan dilanjutkan dengan sepuluh cerita yang saling terkait, satu bagian dengan bagian lainnya membentuk kisah utuh dari perjalanan cinta Kahlil Gibran yang gagal, hati yang patah yang disebutnya sebagai “The Broken Wings” sebagai sayap-sayap yang patah.
Pada bagian pendahuluan, Kahlil Gibran bercerita tentang awal mula jatuh cinta pada Salma Karami, gadis Lebanon yang tidak bisa dimilikinya, karena dipaksa menikah dengan seorang pendeta untuk menyelamatkan kehidupan keluarganya. Salma yang kemudian meninggal dan membawa cinta kepada Gibran yang sama besarnya dengan cinta Gibran kepadanya, membuat hati Kahlil Gibran semakin patah. Kisah cinta mereka tertimbun dalam gelapnya keranda Salma. “Kesunyian yang menjaga kuburan itu, tidaklah mampu menyibakkan rahasia-rahasia yang disimpan Tuhan di dalam gelapnya keranda,” tulis Kahlil Gibran.
The Broken Wings karya Kahlil Gibran sumber
Setelah pendahuluan, Kahlil Gubran melanjutkan ceritanya pada bagian pertama dengan judul “Duka yang Bisu” cinta yang telah menganugerihnya bahasa dan air mata, melukai jiwa yang terpenjara dalam kelambu masa muda. Ia menulis “Seluruh lembah dan bebukitan membakar angan-anganku, namun perasaan gelisah membenamkan hatiku ke jaring keputusasaan.”
Bagian kedua diberi judul “Tangan Sang Nabi” dibuka dengan keindahan Lebanon pada musim semi, ketika ia berada di Beirut, berkunjung ke rumah Faris Afandi teman ayahnya yang sudah dua puluh tahun tak dijumpainya. Di sini Gibran juga mulai jatuh hati pada anaknya Faris Afandi. Setelah kunjungan itu, ia merasa gadis itu sebagai tambatan hatinya. Itulah Salma.
“Yang kurasakan selanjutnya adalah tatapan asing yang terus mengikutiku dan tidak kupahami maksudnya, hingga kebebasan diriku tentang alam kuantitas terbang ke khayangan. Di mana hati saling mengerti satu sama lain berdasarkan instuisi di mana jiwa-jiwa telah menjadi matang oleh pemahaman,” tulis Gibran tentang pertemuan pertamanya dengan Salma.
Pada bagian ketiga yang berjudul “Di Gerbang Kuil” Kahlil Gibran bercerita tentang perkenalannya yang lebih jauh dengan Salma, atas restu Faris Afandi sendiri, yang meminta Gibran untuk menyayangi Salma sebai adiknya. Gibran berharap jiwanya dan jiwa Salma saling menggapai. Cintanya kepada Salma benar-benar tumbuh setelah kunjungan itu.
Kemudian bagian empat diberijudul “Obor Putih” berkisah tentang kunjungan lainnya Kahlil Gibran ke rumah Salma. Ia memuji anak Faris Afandi itu sebagai perempuan yang dianugerahi keindahan jiwa dan raga sebagai sebuah kebenaran yang nyata, yang hanya bisa dipahami dengan cinta dan disetuh dengan kesucian. Obor putih yang dimaksud Gibran dalam judul bagian empat ini merupakan keluhuran budi Salma yang telah membuat hati Gibran terpaut untuknya.
Versi lain The Brokeng Wings sumber
Bagian kelima masuk dalam “Prahara” seorang Uskup Bulus Ghalib melamar Salma untuk kemenakan laki-lakinya, Mansur Bek Ghalib. Pernikahan yang tidak bisa ditolak dengan beragam alasan, meski atas nama cinta. Dilanjutkan ke bagian keeman dengan judul “Telaga Api” di mana Kahlil Gibran mulai patah hati. Tapi ia tetap menghibur diri dengan cintanya kepada Salma.
“Rasa cinta terhadap Salma adalah satu-satunya hiburanku yang kala malam mendendangkan lagu-lagu kebahagiaan untukku, dan membangunkanku di kala fajar, untuk mengungkap makna hidup,” tulisnya. Tapi hari-harinya Gibran terus suram dalam cintanya kepada Salma, ia menyebutnya sebagai hari-hari berlalu seperti hantu dan sirna seperti awan-awan.
Pada bagian ini Kahlil Gibran juga menggambarkan penderitaan dan ketakerdayaan Salma dalam menghadapi pernikahannya dengan Mansur Bek Ghalib. Ia menyebut penderitaan Salma itu dengan kalimat “Leher yang dulu bagai tiang gading, sekarang lunglai seakan-akan tak lagi mampu menyangga beban duka cita di kepalanya.”
Pada bagian selanjutnya duka itu semakin bertambah, Gibran memberi judul bagian ini sebagai “Di Depan Tahta Kematian” Salma tidak hidup bahagia dengan suaminya Mansur Bek Ghalib. Semua pednderitaan atas nama cinta ditanggungnya. Perempuan yang dipuja Gibran itu telah rapuh, sayap-sayap cintanya telah patah, hingga kemudian meninggal dunia, membawa cinta dan penderitaannya ke dalam kubur.
Kemudian tiga bagian akhir diberi judul: Antara Yesus dan Isytar, Pengorbanan, dan Sang Penyelamat. Membaca karya Kahlil Gibran ini kita dibuat hanyut dalam kalimat-kalimat metafora dan personifikasi dalam cinta, kalimat yang menyentuh kalbu dan emosi jiwa. Pantas kalau kemudia ia dijuluki sebagai “Si Jenius Membara.”