The Prophet merupakan karya puncak Kahlil Gibran. Telah diterjemahkan ke lebih 20 bahasa, dan terjual puluhan juta eksemplar. Edisi bahasa Indonesia berjudul “Sang Nabi” diterjemahkan oleh Iwan Nurdaya Djafat, diterbitkan pada November 2007 oleh Penerbit Jejak.
The prophet juga dinilai sebagai mahakarya Kahlil Gibran diantara karya-karya klasik yang menembus zaman. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1923 saat Kahlil Gibran berusia 40 tahun.
The Prophet sering dicetak ulang dalam waktu begitu singkat, dan berlangsung bertahun-tahun di negara manapun karya ini diterjemahkan, jadilah The Prophet sebagai karya masterpiece yang sangat laris alias best seller.
The Prophet karya Kahlil Gibran sumber
Kahlil Gibran sendiri mengaku bahwa The Prophet merupakan capaian terbesarnya. Tentang itu ia menulis “Aku kira, aku tak pernah ada tanpa The Prophet sejak pertama kali aku membayangkan buku ini kembali ke Gunung Lebanon. Ini telah menjadi separuh hidupku…Kusimpan naskah selama empat tahun sebelum akhirya kuserahkan pada penerbit. Sebab aku ingin memastikan, sangat ingin memastikan, bahwa setiap kata ada yang terbaik yang telah kuberikan.”
The Prophet merupakan sebuah novel puitis yang bercerita tentan seorang yang bernama Almustafa. Setelah mengasingkan diri di sebuah pulau terpencil selama dua belas tahun, Almustafa The Prophet pergi menuju sebuah kota bernama Orphalese dan mengajari manusia tentang berbagai hakikat kehidupan.
Naskah The Prophet disiapkan cukup lama. Pertama ditulis dalam bahasa Arab tapi tidak dipublikasikan, kemudian dikembangkan dan ditulis ulang dalam bahasa Inggris antara tahun 1918 sampai 1922. Edisi berbahasa arab dengan judul An Nabi baru muncul kemudian pada tahun 1026 setelah diterjemahkan oleh A Bashir, bukan oleh Gibran sendiri.
Kahlil Gibran telah membuat catatan-catatan kerangka yang nantinya menjadi buku ini sejak tahun 1918. Ia mengembangkan kerangka itu dalam berbagai kesempatan. Bahkan beberapa di antaranya sudah pernah dibaca dalam berbagai kesempatan pembacaan puisi.
Lukisan "Sang Pujaan" karya Kahlil Gibran sumber
Dari tanggapan yang muncul saat puisi itu dibacakan, Kahlil Gibran membuat berbagai perbaikan dan penyempurnaan. Maka memang benar bahka karya Kahlil Gibran The Prophet ini sudah banyak dikenal sebelum diterbitkan.
Karya The Prophet Kahli Gibran ini juga menjadi sempurna setelah dibantu oleh Mary Elizabeth Haskel, yang pada awal-awal penyusunan banyak membantu mengoreksi pilihan-pilihan kata Gibran. Meski pekerjaan membantu dan mengoreksi tulisan-tulisan Gibran sering dilakukan Mary, tapi untuk The Prophet ia membuat persiapan khusus.
Mary Elizabeth Haskel mengoreksi dalam tiga tahap. Pertama ia membaca dengan nilai rasaya sendiri, yang diandalkan mewakili nilai rasa dan kritik para penyair. Kedua ia mebaca menggunakan nilai rasa seorang awam yang tidak mengenal dunia sastra secara mendalam. Dan ketiga, ia membaca dengan nilai rasa yang mungkin akan menjadi standar dari generasi yang akan datang.
Perkiraan Mary Elizabeth Haskel bahawa The Prophet tidak hanya menjadi bacaan masyarakat pada zamannya, tapi juga masa-masa setelahnya menjadi kenyataan. Mary benar dalam intuisinya itu, tentang nilai rasa generasi yang akan datang. Kahlil Gibran sendiri mengakui tentang jasa Mary Elizabeth Haskel tersebut.
Tentang peran Mary Elizabeth Haskel itu pernah ditulis Kahlil Gibran dalam sebuah suratnya. Pada pembuka suratnya ia menulis Dearly beloved Mary. “Aku menjadi seniman karena Mary Haskel,” tulis Kahlil Gibran.
Sayap-sayap Patah edisi bahasa Indonesia dari The Broken Wings sumber
Terhadap karya The Prophet ini Kahlil Gibran mengungkapkan bahwa ini merupakan karya pertama yang dipersiapkan saat usinya tiga puluh tujuh (37) tahun. Dalam The Prophet ia tidak berniat menulis puisi, tapi sekedar mengekspresikan pemikiran, tapi a memang mengusahakan agar irama dan kata benar-benar menyatu sehingga tidak bisa lagi dipisahkan.
Kahlil Gibran berhasil dalam hal tersebut. Berbagai media membuat ulasan The Prophet dan mengangumi hasil karya pria asal Lebanon tersebut. salah satunya adalah surat kabar Chicago Post yang menulis bahwa karya Kahlil Gibran berirama dan bergetar dengan perasaan, kata-kata Kahlil Gibran membawa ke telingan seorang irama penuh keagungan.
Karya-karya Kahlil Gibran dikenal luas hingga sekarang karena cita rasa orientalnya yang eksotik, bahkan mistis. Ia dianggap sebagai penyair Arab perantau terbesar. Kahlil Gibran meninggal di New York pada tahun 1913, ratusan pendeta dan para pemimpin agama menghadiri pemakamannya di Beshari Lebanon, di tanah kelahiran Kahlil Gibran. Dan The Prophet ini merupakan karya puncak seorang Kahlil Gibran yang telah menembus zaman, hingga kini masih enak dibaca oleh semua kalangan.