Sekarikatural apa pun berpikir tentang jejak besar yang kau tinggalkan, tidak akan pernah sanggup membekaskan sesuatu yang sifatnya faktual. Kau hanya semacam reportase yang begitu-begitu terus hingga ilmu jurnalistik menua.
Sepuisi dengan dua bandit dari Jakarta mengilhamimu untuk lebih halus membual. Bahwa masalalu yang terus dikenang tidak bermanfaat. Oleh karena itu, tidak perlu diingat-ingat. Meskipun masalalu itu pernah membakar kampung kita dengan ngeri tiada tara.
Ongkang-ongkang kaki setelah membereskan orang dusun dengan orasi politik tingkat tinggi, menjadikanmu anak emas masa kini. Muda, potensial dan pernah dikejar-kejar aparat. Itu cukup sebagai modal bagi adik-adikmu untuk melakapkanmu sebagai revolusionis akhir zaman. Ditambah bacaan berbau Marxisme, genap sudah dandanan intelektual.
Seni tertinggi yang dicapai seorang politisi adalah berdamai dengan musuh. Meskipun daftar kekejiannya melampaui daftar orang hilang. Namun, lupa itu manusiawi. Dan kau masih belum berekor.