Malam hanya serasa lengang
Dalam kepungan dinginnya semilir angin
Aku tak tau harus berbuat apa
Di tengah keterpojokanku ini
Merasa ada yang kurang
Kala kuingat segenggam harapan
yang pernah muncul
saat keadaan tengah genting
datang, saat genting
kau, saat yang tepat
bak gayung bersambut
melerai tiap gundah yang memukuliku
aku panik, juga tak kan sanggup
melerai ini, yang telanjur datang
angin ini terlanjur masuk
membawa rindu yang amat dingin
di sudut kini, kuukir
pada sebongkah batu besar
sebingkai, perlahan kugores
ukir dan tinggalkan prasasti guratan angin