The rice (Oriza sativa L.) is one of the main food crops included in the grain tribe and is one of the grain crops of the grass family. Rice is widespread throughout the world and grows in almost all parts of the world that have enough water and warm enough air temperatures. Rice is one of the most important cultivation plants in human civilization.
Although mainly refers to the type of cultivated plants, rice was first developed in Africa (Wapedia, 2008). Meanwhile, according to Suparyono and Setyono (1997). Rice is an ancient agricultural crop that until now is still the main crop of the world. Historical evidence in Zheijiang Province shows that rice cultivation in Asia has started since 7,000 years ago.
Suiatna (2008) states that Indonesia is known as an agari country because most of its people live from agriculture. Where the land of Indonesia is a very fertile and productive so that agriculture is suitable to continue to be developed in Indonesia.
However, in its development in general the longer the condition of agricultural land in Indonesia the lower the fertility rate that affects the decreasing of production level. So we as a generation now it is fitting to think of a new breakthrough in conducting rice cultivation.
At present there is hope as the best solution in improving production through System of Rice Intensification (SRI) method. This method is more emphasis on increasing the ability of soil in providing nutrients to the plants through the provision of organic fertilizers and increase the growth of plant roots by setting the pattern of planting such a wide range, single seed, and not done soaking rice fields.
The idea of SRI was originally developed in Madagascar in early 1980. The development of SRI was also conducted through trials in various Asian countries, including South Asia and Southeast Asia. In Indonesia the idea of SRI has also been tested and applied in several regions from Sumatra to Papua (Agustamar et al, 2006).
Therefore, in the SRI method, rice is grown on unstained soil conditions. The goal, so that oxygen that can be utilized by the roots is available more in the soil. In addition, in conditions not stagnant, roots can grow more fertile and large so that plants can absorb as much nutrients (Anonymous, 2007).
SRI develops rice management practices that take account of better plant growth conditions, especially in rooting zones, compared to traditional cultivation techniques.
Systematics
According to Joy and Wibbereley (2009), rice plants include grasses with the following classifications:
Divisio: Spermatophyta
Sub divisio: Angiospermae
Order: Glumiforace
Family: Gramine
Sub family: Oryzoidae
Genus: Oryza
Species: Oryza sativa L.
Role of Planting Distance
The spacing used in the SRI method is the wide plant spacing, eg 25x25 cm or 30x30 cm. With a wide spacing can increase the number of productive tillers produced by rice plants. The reason, the sun can affect all parts of the plant better so that the process of photosynthesis and plant growth occurs with more optimal. This wide plant spacing also allows plants to absorb nutrients, oxygen and sunlight to the fullest (Anonymous, 2007).
Plant spacing has an effect on plant growth because it is related to competition between rooting patterns of plants in the context of fertilizer utilization (Utomo and Nazaruddin, 2000).
Role of Seed Moving Age
Seedlings ready to move to the land after reaching the age of 7-10 days after seedling. The condition of water at planting time is macak-macak means wet soil conditions but not stagnant. In SRI method used one planting hole filled one seed rice. In addition, the seeds are planted shallow with a depth of 2-3 cm.
Seedlings are planted one-on-one rather than in clumps, consisting of two or three plants, in order for plants to have room to spread and deepen rooting. So plants do not compete too tightly to acquire growing space, light, or nutrients in the soil (Anonymous, 2007).
In the SRI method seed needs much less than traditional methods, one SRI evaluation indicates that the seed requirement is only 7 kg per hectare, compared with traditional methods that reach 107 kg per hecare. Transplantation when young seedlings are careful can reduce shocks and increase the ability of plants to produce stems and roots during the vegetative and generative growth stages (Berkelaar, 2002).
According Masdar (2007) age move the seeds 15 days or younger than that is able to produce number of productive till maximal 60 stems. While the results of his research showed that growth and development of saplings of rice plants has not been optimally suspected because of the land used conventional rice fields.
According Berkelaar (2002), the important elements of SRI are as follows:
- Young seedlings transplantation to maintain the potential for root stem growth and optimal growth as required by the plant to grow well.
- Plant rice in a fairly wide spacing, thus reducing the competition of crops in cognates and between clumps.
- Maintain the soil to remain aerated and moist, not stagnant, so that the roots can breathe, for this, need water management and pendangiran able to dismantle the soil structure.
- Provide adequate nutrition for soil and plants, so the soil remains healthy and fertile so as to provide adequate nutrients and ideal environments that plants need to grow.
Metode System of Rice Intensification Solusi Petani Indonesia
Wardana et al, (2005) adds, a 2-3 times abrasion with sorb, in addition to cleaning weeds, improving soil structure and soil aeration. Using organic materials to improve soil structure so that rice can grow well and nutrients are available.
SRI, Solusi Bertani Petani Indonesia
Tanaman padi (Oriza sativa L.) merupakan salah satu tanaman pangan utama termasuk dalam suku padi-padian dan merupakan salah satu tanaman biji-bijian dari famili rumput-rumputan. Padi tersebar luas di seluruh dunia dan tumbuh di hampir semua bagian dunia yang memiliki cukup air dan suhu udara cukup hangat. Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban manusia.
Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi pertama kali dikembangkan di Afrika (Wapedia, 2008). Sedangkan menurut Suparyono dan Setyono (1997). Padi merupakan tanaman pertanian kuno yang sampai sekarang masih menjadi tanaman utama dunia. Bukti sejarah di Provinsi Zheijiang menunjukkan bahwa penanaman padi di Asia sudah dimulai sejak 7.000 tahun lalu.
Suiatna (2008) menyatakan bahwa Indonesia dikenal sebagai negara agaris karena sebagian besar rakyatnya hidup dari pertanian. Di mana tanah Indonesia merupakan tanah yang sangat subur dan produktif sehingga pertanian memang cocok untuk terus dikembangkan di Indonesia.
Namun dalam perkembangannya secara umum semakin lama kondisi tanah pertanian di Indonesia semakin rendah tingkat kesuburannya yang berdampak kepada semakin menurunnya tingkat produksi. Maka kita sebagai generasi sekarang sudah sepatutnya memikirkan sebuah terobosan baru dalam melakukan budidaya tanaman padi.
Pada saat ini ada harapan sebagai solusi terbaik dalam peningkatan hasil produksi melalui metode System of Rice Intensification (SRI). Metode ini lebih menekankan pada peningkatan kemampuan tanah dalam memberikan nutrisi kepada tanaman melalui pemberian pupuk organik dan peningkatan pertumbuhan akar tanaman dengan pengaturan pola tanam seperti jarak yang lebar, bibit tunggal, dan tidak dilakukan perendaman lahan persawahan.
Gagasan SRI pada mulanya dikembangkan di Madagaskar awal tahun 1980. Pengembangan SRI juga dilakukan melalui uji coba di berbagai negara Asia, termasuk Asia Selatan maupun Asia Tenggara. Di Indonesia gagasan SRI juga telah diuji coba dan diterapkan di beberapa daerah dari Sumatera sampai Papua (Agustamar et al, 2006).
Karena itu dalam metode SRI, padi ditanam pada kondisi tanah yang tidak tergenang. Tujuannya, agar oksigen yang dapat dimanfaatkan oleh akar tersedia lebih banyak di dalam tanah. Selain itu, dalam kondisi tidak tergenang, akar bisa tumbuh lebih subur dan besar sehingga tanaman dapat menyerap nutrisi sebanyak-banyaknya (Anonymous, 2007).
SRI mengembangkan praktik pengelolaan padi yang memperhatikan kondisi pertumbuhan tanaman yang lebih baik, terutama di zona perakaran, dibandingkan dengan teknik budidaya cara tradisional.
Budidaya padi dengan metode SRI dikembangkan di sejumlah wilayah kawasan timur Indonesia mampu meningkatkan produktivitas lahan dari 5.0 ton per hektare menjadi 7,4 ton per hektare (Berkelaar, 2002).
Sistematika
Menurut Joy dan Wibbereley (2009), tanaman padi termasuk golongan rumput-rumputan dengan klasifikasi sebagai berikut:
Divisio : Spermatophyta
Sub divisio : Angiospermae
Ordo : Glumiforace
Family : Gramine
Sub family : Oryzoidae
Genus : Oryza
Spesies : Oryza sativa L.
Peranan Jarak Tanam
Jarak tanam yang digunakan dalam metode SRI adalah jarak tanam lebar, misalnya 25x25 cm atau 30x30 cm. Dengan jarak tanam yang lebar dapat meningkat jumlah anakan produktif yang dihasilkan oleh tanaman padi. Penyebabnya, sinar matahari bisa mengenai seluruh bagian tanaman dengan lebih baik sehingga proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman terjadi dengan lebih optimal. Jarak tanam yang lebar ini juga memungkinkan tanaman untuk menyerap nutrisi, oksigen dan sinar matahari secara maksimal (Anonymous, 2007).
Jarak tanam berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman karena berhubungan dengan persaingan antarpola perakaran tanaman dalam konteks pemanfaatan pupuk (Utomo dan Nazaruddin, 2000).
Peranan Umur Pindah Bibit
Bibit siap dipindahkan ke lahan setelah mencapai umur 7-10 hari setelah semai. Kondisi air pada saat tanam adalah macak-macak artinya kondisi tanah yang basah tetapi bukan tergenang. Pada metode SRI digunakan satu lubang tanam diisi satu bibit padi. Selain itu, bibit ditanam dangkal dengan kedalaman 2-3 cm.
Bibit ditanam satu-satu dari pada secara berumpun, yang terdiri dari dua atau tiga tanaman, agar tanaman memiliki ruang untuk menyebar dan memperdalam perakaran. Sehingga tanaman tidak bersaing terlalu ketat untuk memperoleh ruang tumbuh, cahaya, atau nutrisi dalam tanah (Anonymous, 2007).
Dalam metode SRI kebutuhan benih jauh lebih sedikit dibandingkan metode tradisional, salah satu evaluasi SRI menunjukkan bahwa kebutuhan benih hanya 7 kg per hektare, dibanding dengan metode tradisional yang mencapai 107 kg per hekare. Tranplantasi saat bibit masih muda secara hati-hati dapat mengurangi guncangan dan meningkatkan kemampuan tanaman dalam memproduksi batang dan akar selama tahap pertumbuhan vegetatif dan generatif (Berkelaar, 2002).
Menurut Masdar (2007) umur pindah bibit 15 hari atau yang lebih muda dari pada itu mampu menghasilkan jumlah anakan produktif maksimal 60 batang. Sedangkan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan anakan tanaman padi belum optimal diduga karena lahan yang digunakan bekas sawah konvensional.
Menurut Berkelaar (2002), unsur SRI yang penting adalah sebagai berikut:
- Tranplantasi bibit muda untuk mempertahankan potensi pertambahan batang dan pertumbuhan akar yang optimal sebagaimana dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh dengan baik.
- Menanam padi dalam jarak tanam yang cukup lebar, sehingga mengurangi kompetisi tanaman dalam serumpun maupun antar rumpun.
- Mempertahankan tanah agar tetap teraerasi dan lembab, tidak tergenang, sehingga akar dapat bernafas, untuk ini, perlu manajemen air dan pendangiran yang mampu membongkar struktur tanah.
- Menyediakan nutrisi yang cukup untuk tanah dan tanaman, sehingga tanah tetap sehat dan subur sehingga dapat menyediakan hara yang cukup dan lingkungan ideal yang diperlukan tanaman untuk tumbuh.
Wardana et al, (2005) menambahkan, pendangiran 2-3 kali dengan menggunakan sorok, selain untuk membersihkan gulma, memperbaiki struktur tanah dan aerasi tanah. Menggunakan bahan organik untuk memperbaiki struktur tanah agar padi dapat tumbuh dengan baik dan unsur hara cukup tersedia.
Reference
Agustamar, Kasim, M., Agustian., dan Syarif, Z. 2006. Pengaruh berbagai Bahan Organik terhadap pertumbuhan dan produksi padi dengan metode SRI (The Pola of Rice Intensification) Pada Sawah Bukaan Baru. Jurnal tanaman Tropika. Volume 9, Nomor 2, Hlm. 60-69.
Anonymous. 2007. Menembus Batas Kebuntuan Produksi Padi (Cara SRI dalam budidaya padi). Availlable at. http://ciifad.cornell.edu/SRI/extmats/indo VecoManual07.pdf. [14 Mei 2009]
Berkelaar, D. 2002. Pola Intensifikasi Padi (The System of Rice Intensification - SRI) Sedikit dapat Memberi Lebih Banyak. Buletin ECHO (terjemahan)
Joy, D., dan Wibbereley, E.J. 2009. Morfologi Tanaman Padi. Availlable at. http://perbenihan.blogspot.com/2009/02/morfologi-tanaman-padi.html. [15 Mei 2009].
Masdar. 2007. Interaksi jarak tanam dan umur pindah bibit per titik tanam pada sistim intensifikasi padi terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman. Jurnal Akta Agrosia Edisi khusus. No. 1, Hlm 92 – 98.
Suparyono, dan Setyono, A. 1997. Padi. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suiatna. 2008. Pola Tanam Padi SRI Produktifitas Tinggi. Availlable at. http://www.healthyrice.com/purnabakti.pdf. [21 Mei 2008].
Wapedia. 2008. Padi. Availlable at. http://wapedia.mobi/id/Padi. [15 Mei 2009].
Wardana, P.I. Juliardi, Sumedi, Iwan Setiajie. 2005. Kajian Perkembangan System Of Rice Intensification (SRI) di Indonesia. Kerjasama Yayasan Padi Indonesia dengan Badan Litbang Pertanian. Jakarta.