Pada penghujung pembelajaran di akhir semester, setiap sekolah mewajibkan siswanya untuk mengikuti ujian akhir. Sesuai dengan dengan Permendikbud No.23 thn 2016 Tentang Penilaian Revisi kurikulum 2013, ujian akhir semester telah diubah dengan istilah baru yaitu PAT (Penilaian akhir Tahun).
Ikatan Guru Indonesia (IGI) membuat terobosan baru dalam melakukan ujian akhir semester ini. Terobosan baru itu sangat unik, menarik dan terbilang berani.
Di Aceh, ada dua sekolah guru IGI yang sudah menyelenggarakan penilaian akhir semester dengan cara yang berbeda pada akhir semester ini, dua sekolah tersebut adalah SMAN 7 Lhokseumawe yang dipelopori oleh Darmawan Buchari dan SMAN 1 Nurussalam, Aceh Timur, Khairuddin sebagai penggagasnya.
Seperti apa ujian akhir semester kedua sekolah tersebut?
SAGUAZIP ala SMAN 7 Lhokseumawe
SMAN 7 Lhokseumawe menyelenggarakan ujian akhir sekolah seperti biasa dengan menggunakan paperless, namun yang membedakan dengan ujian di sekolah lain adalah dengan menawarkan aplikasi android sebagai alat pemeriksa lembar jawaban siswa.
Darmawan sebagai pelopor aplikasi SAGUSAZIP (Satu Guru Satu Zipgrade) sebagai aplikasi untuk memriksa lembar jawaban siswa tersebut khususnya untuk jenis pilihan ganda.
Aplikasi ini sangat memanjakan guru, tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Karena dengan aplikasi ini, proses pemeriksaan lembar jawaban bisa memakan waktu lurang dari 5 detik per lembar jawaban siswa lengkap dengan analisanya.
SAGUDELTA ala SMAN 1 Nurussalam, Aceh Timur
Satu Guru Dua Alat Evaluasi Digital (SAGUDELTA), aplikasi ini menawarkan berbagai kemudahan, diantaranya, sekolah dapat menghemat biaya untuk penggandaan soal.
Duru tidak harus semuanya menjadi pengawas ujian (cukup panitia ujian saja). Guru tinggal menunggu hasil ujian siswa yang dikirim secara otomatis ke email mereka, siswa akan terbiasa dengan sistem komputerisasi, memudahkan siswa dalam menjawab soal, siswa langsung dapat mengetahui hasil jawabannya saat mengklik tombol selesai mengikuti ujian.
Jika ketersediaan komputer di sekolah kurang maka Smartphone milik siswa menjadi solusinya, ini bisa juga mengedukasi siswa bahwa smartphone ternyata bisa dipakai untuk pendukung pembelajaran mereka.
Untuk diketahui, Khairuddin sebagai founder dari Satu Guru Dua Alat Evaluasi Digital (SAGUDELTA) ini telah dikukuhkan sebagai kanal nasional di gedung Kemdikbud RI beberapa waktu silam.
Begitulah cara guru IGI menyelenggarakan ujian. Wow, keren kan? Masih betah dengan model ujian Jadul?
![image](