Ternyata Tsunami Tak Harus Ada Gempa, demikian judul Salam Serambi pada Harian Serambi Indonesia terbitan 26 Desember 2018
14 tahun lalu, 26 Desember 2004, gempa besar berkekuatan 9,2 pada skala richter (SR) mengguncang Daratan Aceh sehingga memicu gelombang besar yang kemudian kita sebut tsunami dengan ketinggian gelombang 12-30 meter.
Dalam rentang waktu 15-20 menit setelah gempa mengguncang, tsunami menghantam pesisir Aceh bahkan beberapa negara lain hingga pesisir Afrika, tidak kurang 170.000 korban tercatat di Aceh.
Sejak itu, mitigasi kegempaan dan tsunami dibuat dengan menggunakan rujukan bencana Aceh, hingga disebut 'golden time' yang artinya ada 15-20 menit rentang waktu yang memungkinkan untuk dilakukan penanggulangan meminimalisir resiko dan dampak kebencanaan.
Teori 15 menit itu kemudian terbantahkan, ketika terjadi gempa Palu 28 Desember 2018, karena tsunami dicatat menghantam daratan hanya dalam waktu 3 menit.
Belum lagi selesai para Ahli merumuskan mitigasi pengurangan resiko kebencanaan gempa dan tsunami, kita dikejutkan oleh tsunami yang menghantam pesisir Selat Sunda (Propinsi Banten dan Lampung) pada Sabtu malam tanggal 22 Desember 2018 yang tidak diawali gempa. Itu artinya, tsunami tidak selalu diisyaratlan oleh gempa.
Masih banyak yang kita tidak ketahui tentang bencana geologi khususnya gempa dan tsunami, demikian pernyataan ust. Faizal Ardiasyah, seorang ahli geologi di Banda Aceh.
Hari ini, 26 Desember 2018, Aceh memperingati 14 tahun tsunami, semoga menjadi pelajaran untuk kita semua, bahwa Allah Maha Berkehendak, kepada-Nya kita kembali dan berserah diri. (Sumber: Serambi Indonesia 28 Desember 2018)
rihoen_senja