Prolog
Sumatera dan Jawa adalah dua pulau yang dipisahkan oleh Selat dengan nama Selat Sunda. Selat ini tercipta ketika adanya letusan dahsyat dari gunung berapi yqng berada di dasar laut: Krakatau!
Sebelumnya, kedua pulau ini menyatu dan bisa saja ditempuh lewat jalan darat. Zaman prakemerdekaan Indonesia, yakni masih Hindia Belanda, waktu itu pasukan bala bantuan dari Diponegoro yang diwakili Sentot Alibasyah masih melewati jalur ini dengan pasukan berkudanya. Mereka begabung dengan pasukan Imam Bonjol untuk memperkuat para pejuang Perang Paderi dalam melawan Belanda.
Ketika gunung Krakatau meletus, bencana ini memakan korban ribuan jiwa, setelah itulah tercipta penamaan dua pulau, yakni Sumatera dan Jawa:
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Letusan_Krakatau_1883
Bakauheni - Merak
Bakauheni dan Merak ini adalah dua Pelabuhan yang menghubungkan Sumatera dan Jawa. Penyeberangan ini akan mengarungi Selat Sunda. Di lautan inilah kejadian masa lampau tentang bencana besar dan letusan gunung Krakatau terjadi.
Pada postingan ini, sesungguhnya saya tidak akan mengisahkan bencana dari gunung Krakatau itu lebih jauh, tapi lebih kepada suasana yang terjadi di kapal penyeberangan. Tulisan ini lahir ketika saya balik ke Jakarta melewati jalan darat dari Sumatera menuju Pulau Jawa. Banyak hal yang bisa dinikmati saat saya berada diatas kapal penyeberangan.
Perenang Tangguh itu Meloncat dari Atas Kapal, Coin Melayang di Lautan
Lama Penyeberangannya Bakauheni - Merak diperkirakan antara 2 sampai 3 jam. Untuk berada diatas kapal tentu saja termasuk waktu yang lama. Makanya, untuk perintang-rintang mata dan mengisi waktu kita butuh melakukan aktivitas agar tidak terperangkap kejemuan. Apalagi ketika berada di tengah lautan yang luas. Samudera akan mengungkung: cemas dan ragu semakin berpelukan.
Sebelum kapal bergerak, untung saja ada peristiwa kecil yang luar biasa datang. Ada beberapa anak muda menawarkan dirinya untuk meloncat dari atas kapal. Nyebur ke lautan. Tentu saja dengan sebuah persyatatan.
Mereka menghampiri beberapa penumpang dan mulai berdialog. Intinya, mereka siap untuk meloncat dari atas kapal ke.laut dengan imbalan beberapa lembar uang ribuan. Kesepakatan pun tercipta. Mereka yang sudah mendapat imbalan langsung meloncat duluan dan disusul oleh yang lainnya.
Ngilu juga rasa dada ketika melihat tubuh peloncat yang melayang itu di udara. Jarak tumpu tempat meloncat dari atas kapal untuk terjun ke laut itu lumayan jauh dan tinggi.
*Para peloncat yang tangguh itu telah ramai berenang, kapal pun pelan-pelan mulai bergerak. *
Para penumpang dewasa dan anak-anak seperti terbius untuk melemparkan uang logam ke laut. Para perenang pun berebut dan saling mendahului. Ketauan siapa yang mendapatkan uang. Setelah perenang itu melambaikan tangan, memperlihatkan hasil tangkapannya, uang logam itu digigitnya sebelum dikantongi.
Bekasi, 25 Agustus 2018