*We are apes - we should be climbing* -Alex Honnold
Telah setahun selesai meluluskan kegiatan akademik saya, ada kecenderungan aku untuk merasa kecewa untuk menyelesaikan yang aku tidak paham. namun, pemanis dari sewindu kurang setahun aku di universitas adalah saya pernah belajar panjat tebing.
Saya tidak terlalu bagus dalam panjat tebing, tapi jika dibandingkan dengan
aku berani sombong untuk mengatakan dua langkah diatas mereka.
Selama 3 tahun aku belajar olahraga panjat tebing/wall, aku tidak pernah lulus menjadi pemanjat atau menjadi atlit panjat. namun, aku mendapat beberapa pelajaran yang bisa ku simpulkan selama latihan manjat.
!
Sombong Tepat Waktu.
Sekali saja aku mengikuti turnamen. disaat itu aku jatuh di posisi runner ke empat. aku jatuh bukan karena terpeleset, keram tangan, salah perhitungan, tapi aku menyerah. hanya karena aku mendengar kata-kata "jatuh-jatuh-jatuh" ditibun penonton berulang-ulang saat aku tertahan di runner empat. aku melepaskan gengaman karena aku merasa yakin dengan kebenaran sorakan mereka. aku menjatuhakn diri.
Dari pengalaman itulah aku tahu bahwa aku sering mendengar yel-yel orang lain selain yel-yel diri sendiri dan aku juga termasuk dalam golongan orang-orang penekan tombol setuju (bahasa gaul aceh rayeuk Meutsen oe). pada momen itu aku menjadi paham dengan kata-kata "kita para pemanjat berhak sombong, tapi tidak boleh sombong"
!
Suatu Perulangan Adalah Wajib
Samping sekret kami yang terbuat dari triplek diatas bekas parkiran fakultas, kami mendirikan wall climb mini, yang tujuanya hanya untuk melatih tangan, memindahkan tangan, memposisikan kaki, dan latihan fisik.
Wall mini ini adalah hasil OGS3 (operasi gelap senyap singkat dan sistematis) yang pelopori oleh komandan divisi 1 (divisi meng-ada-kan yang tiada) Genk tengkorak. nama kode Manok.
Wall ini memberikan kami para pelajar manjat banyak kasus. kasus yang saya maksud adalah jalur panjat (bouldering) yang diberikan oleh siapa saja yang mau, dimulai dari start sampai top. penyelesaian kasus ini dapat berjalan berhari-hari, bahkan bulanan (untuk yang lat batat kaye bate), dan jika diberikan oleh pemanjat senior bg iwan PK, maka kasus tersebut mustahil bagi kami para newbie untuk menyelesaikannya.
!
Berhasilnya kami menyelesaikan kasus tersebut adalah kami lakukan berulang-ulang try-error-try sampai benar-benar mempelajari sedemikian rupa tehniknya, sampai akhirnya menjadi intuitif. saya katakan intuitif karena tubuh mengerakan dirinya sendiri jika ada kasus serupa.
Perlu Imajinasi Yang Logis.
Metode ini kasus diatas adalah jenis latihan yang dilakukan berulang-ulang sampai minimal tiga kali top. latihan di wall mini ini sekarang aku pikir sebagai pembentuk tindakan dari pikiran. kami para pelajar disuruh untuk mengimajinasikan gerakan memanjat secara bertahap daribawal sampai akhir dengan detil, seperti bagaimana letak tangan dan kaki tanpa melakukan tindakan (kalian akan paham jika pernah menonton film Hero yang diperankan oleh Jet Li).
!
Jika anda pernah melihat kompetisi panjat tebing, saya yakin anda pernah melihat para atlit tersebut melihat kearah wall dan mengerakan tangan mereka seolah komposer yang sedang memimpin orkestra.
jika kalian pernah baca, "tindakan adalah pikiran yang mengejawantah" maka inilah dia.
Batasan Kita Adalah Kita Sendiri.
Selain latihan di wall sekret, kami juga sering melakukan aktivitas diluar, seperti di tebing atau wall climbing. seminggu sekali biasanya kami melakukan aktivitas tersebut. dalam kuburan cina Mata Ie merupakan tempat kami latihan manjat tebing, di tebing Mata Ie punya 2 jenis tebing, tebing boulder dan tebing untuk jalur. di tebing boulder ini berguna untuk latihan gengaman, melatih gerakan dan kekuatan jari dan pemanjatan tanpa Carmantel. di tebing jalur (jalur ramadhan) merupakan tempat untuk tes mental dan fisik. tebing jalur pemanjatan dengan Carmantel.
Wall Climbing biasanya kami di wall Aceh Besar di Bakoi dan wall Harapan Bangsa di Lhong Raya. latihan disini hampir sama dengan latihan di tebing jalur, hanya saja di wall lebih tinggi daripada tebing, (kurang lebing 18 meter) namun lebih mudah dari tebing.
!
Teringat aku dulu ketika masih anggota muda, di tebing boulder, kami diwajibkan untuk menyelesaikan dua jenis kasus cewek disaat permulaan manjat, dan bouldering sesaat sebelum melanjutkan ke tebing jalur. pertama manjat di jalur tebing aku hanya sanggup manjat samlai di runner tiga, tingginya sekitar dua meter setengah. waktu itu supervisor kami mr. Manok, pas aku bergantungan tidak sanggup lagi dia bilang
"belum itu, naek terus lagi."
aku beri aba-aba "pull" ama belayer, dan aku lompat. Mr. Manok menyeloteh dengan kemanjaan aku, lalu dipegangnya lenganku dan dijepit-jepit,
"belum nyah ini".
Dia benar aku belum capek dan tangan masih sanggup mencengkram rekahan-rekahan nikmat tebing itu, tapi aku memilih untuk stay hold lama dibrunner tiga itu karena aku (lagi-lagi) merasa tidak sanggup. begitu juga di wall, di kedua wallclimb yang pernah aku jadikan sarana latihan sampai sekarang aku tidak top, itu karena aku takut ketinggian, padahal kemampuanku sudah sangat layak untuk top.
aku membatasi diriku dengan ketakutanku, dan ketidak yakinan ku bahwa aku mampu.
Menghargai Tubuh.
Olahraga panjat tebing termasuk dalam olahraga kardio extreme. pola latihannya juga lumayan extreme, terlebih jika dilatih oleh mr. Manok. latihan pertama yang kurasa adalah pemanasan pull up 60 kali, down up 60 kali kiri kanan, push up 60 kali, hold up 5 menit. itu dilakukan setelah *jogging 15 menit. dilanjutkan dengan bouldering selama 5 menit di tebing tanpa jatuh, sekali jatuh ditambah semenit. dari hasil latihan itu keesokan harinya tangan ku pegal, kaki lemas, dan parahnya aku merasa selangkangan aku hilang.
Dari hasil latihan yang memang menyengsarakan itu, aku dua hari tidak bisa manjat karena shock otot, namun setelah reda sakit itu, aku merasa ada perbedaan yang lumayan. beranjak dari perubahan itu, pola latihanku semakin aku naikan. aku menaikan pola latihan aku selama seminggu, tapi hasilnya jauh dari yang aku bayangkan. stamina aku cepat capek, lengan cepat keras, dan beberapa permasalahan lainnya. hal tersebut sungguh menganggu latihan aku manjat. terlebih dalam hal kenikmatan.
Dengan keadaan itu aku sharing pada kawan seperlatihan aku, yang lebih senior tentunya. dia bilang tubuh manusia ini seperti tumbuhan, harus dirawat secara bertahap dan tidak bisa dipaksa tumbuh cepat. proses dilakukan secara bertahap agar tubuh bisa beradaptasi dengan pola-pola latihan, misalkan, minggu pertama push up 25 kali, di minggu kedua ditambah 5 kali, dan seterusnya, seterusnya begitu. latihan dengan santai dan jika dinikmati, maka latihan ini tidak hanya untuk tubuh juga untuk bathin.
Komunikasi Adalah Alat.
Jalur favorit aku selama latihan manjat adalah jalur ramadhan. jalur tebing ini menurut aku pribadi. jalur yang lengkap tanpa banya cengkoneknya. untuk manjat jalur ramadhan itu sangat dianjurkan ada Belayer. jalur ini tidak punya rekahan atau pegangan "thanks god hold" jadi sangat cepat menguras stamina dan bahkan bisa saja jatuh secara tiba-tiba.
!
Agar aman saat memanjat perlunya komunikasi antara belayer dan pemanjat itu jelas dan padat, seperti menunjukan rekahan atau pegangan dan aba-aba pemanjatan. beberapa aba-aba pemanjatan, seperti on belay (pemanjat siap), belay on (belayer siap), belay off (belay belum siap atau belay melepas alat), pull (menarik atau menegangkan carmantel), loss (melonggarkab carmantel), hold (menahan leader yang sedang rest ditebing). selain aba-aba itu, ada banyak aba-aba dan juga bisa di aba-abakan dengan bahasa sendiri.
Pernah aku latihan berdua dengan kiting, kami berjumpa tidak sengaja di tebing. saat itu aku hanya latihan bouldering dan beberpa kasus boulder yang kawan latihanku sudah menyelesaikannya dan aku belum. kiting membawa alat manjat, katanya senior-seniornya nyusul dibelakang. disaat itulah kami berdua manjat jalur ramadhan.
Entah saat itu sedang kecapaekan atau galau, kami manjat dengan komunikasi yang sangat kacau. saat itu kiting yang duluan manjat, aku yang jadi Belayer. belay on, katanya. aku siap belay on. di runner ke tiga kiting mulai begetar kakinya. loss, loss, loss, teriaknya panik. aku pun panik tiba-tiba, aku longgarkan talinya cepat-cepat.
grbruukkk, si kitting jatuh ke batu start poin jalur. untungnya dia jatuh dari runner tiga, cuma terkilir kakinya dan luka di siku kanannya. selalu menekankan bahwa alat adalah nyawa, namun dengan pengalaman tadi menurutku komunikasi adalah alat.
!
Itulah sedikit pelajaran dari banyak pelajaran yang aku dapat dan bisa aku tuliskan disini selama aku latihan manjat dulunya.
**From Aceh with Love,** salam manis cucoe raja