Many ways and media to ensnare memories to remain immortal, one of which is to write for the incident recorded as beautiful as the original color. Hence, there are still many people who have diaries to record interesting experiences that happen every day, good or bad or mediocre. In the past, diaries have various shapes and colors, sometimes equipped with a small padlock so as not to be easily read by others. Now, diaries have changed in digital form, one of which is Steemit which holds all the hearts of the heart even though it is not a secret.
The contents of the diary are very personal, sometimes the outpouring of the owner's deepest heart. Not everyone can read it because it could be the deepest secret that must be guarded or there is an embarrassing incident that no one else should know, including the family members themselves.
I am a diligent journalist because it is one way of finding inspiration in writing and being a medium to practice writing skills. In addition, many psychologists argue, writing is one way to release free and negative energy in life. When the live load or inner pressure whack, writing becomes a powerful medicine. When the heart is hurt, writing becomes a medium of recovery. Really?
Suddenly I was reminded of the earthquake and tsunami disaster that struck Aceh on December 26, 2004, ago. Many tragic stories are heard even today and probably still continue to be heard because it is the greatest disaster in this world in the modern age. I try to write some of the events that I experienced myself and others experienced in novel form. Why choose fiction? Because in the world of fiction sometimes more freely poured out the heart, release emotions, and sometimes just in the fictional world a truth is more freely voiced.
When writing a novel which then titled Alon Buluk, Awakening Sea Waves (Grasindo, 2005) it turns out that writing instead opens the wound that I really want to forget. Writing makes us recall every detail, and it makes the wounds bleed again. At that point, I decided to stop writing and have no plans for the novel. I leave and continue the work in other fields.
But as it turned out, the longing of writing summoned me back to continue the novel, a week later. I wrote again and bleed again, then left again. Then miss coming again. Once the repetition until the novel was completed and became the third winner of the National Novel Competition held by Grasindo in cooperation with Radio Nederland Indonesia Sectiona. The actual novel of the teenage genre was later translated in Dutch with the title Alon Buluek, Aloen Buluk (de Verschrikkelijke Zeegolf).
My conclusion after experiencing the above experience, it is true writing sometimes makes our wounds back gaping because thoughts and feelings are forced back to the details of events we want to forget. We are like forcing ourselves, hurting ourselves, flushing vinegar on an almost dry wound. But after the writing was completed, it turns out we can tie the wisdom of the disaster we experience. After a while, it turns out that we become stronger because of writing. And as it turns out, the experience becomes a lesson and inspiration not only for ourselves but also for others who read our work or hear it from people who have read.
So keep writing even though your wound will go back open because you never know the secret that comes after it.[]
Menulis dan Luka Hati yang Kembali Menganga
Banyak cara dan media untuk menjerat kenangan agar tetap abadi, salah satunya adalah dengan menulis agar kejadiannya terekam seindah warna aslinya. Makanya, masih banyak orang yang memiliki buku harian untuk mencatat pengalaman menarik yang terjadi setiap hari, baik atau buruk atau biasa-biasa saja. Dulu, buku harian memiliki berbagai bentuk dan warna, terkadang dilengkapi dengan gembok kecil agar tidak mudah dibaca orang lain. Sekarang, buku harian sudah berganti dalam bentuk digital, salah satunya adalah Steemit yang menampung semua curahan hati meski itu bukan sebuah rahasia.
Isi buku harian memang sangat pribadi, terkadang merupakan curahan hati pemiliknya yang paling dalam. Tidak semua orang bisa membacanya karena bisa jadi itu adalah sebuah rahasia terdalam yang harus dijaga atau ada kejadian memalukan yang tidak boleh diketahui orang lain, termasuk anggota keluarga sendiri.
Saya termasuk yang rajin menulis buku harian karena itu menjadi salah satu cara mengikat inspirasi untuk menulis dan menjadi media untuk melatih kemampuan menulis. Selain itu, banyak ahli psikologis berpendapat, menulis merupakan salah satu cara melepaskan bebas dan energi negatif dalam hidup. Ketika beban hidup atau tekanan batin mendera, menulis menjadi obat yang ampuh. Ketika hati terluka, menulis menjadi media pemulihan. Benahkah demikan?
Tiba-tiba saya teringat pada gempa dan bencana tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 silam. Banyak kisah tragis terdengar bahkan sampai sekarang dan barangkali masih terus terdengar karena itu adalah bencana terbesar di dunia ini pada abad modern. Saya mencoba menulis beberapa kejadian yang saya alami sendiri dan yang dialami orang lain dalam bentuk novel. Kenapa memilih fiksi? Karena di dunia fiksi terkadang lebih bebas menuangkan isi hati, melepaskan emosi, dan terkadang justru dalam dunia fiksi sebuah kebenaran itu lebih bebas disuarakan.
Ketika menulis novel yang kemudian berjudul Alon Buluk, Gelombang Laut yang Dahsyat (Grasindo, 2005) ternyata menulis itu malah membuka luka yang sebenarnya ingin saya lupakan. Menulis membua kita mengingat kembali setiap detail, dan itu membuat luka kembali berdarah. Sampai di situ, saya memutuskan berhenti menulis dan tidak memiliki rencana apa pun terhadap novel tersebut. Saya tinggalkan dan melanjutkan kesibukan di bidang lain.
Tapi ternyata, kerinduan menulis memanggil saya kembali melanjutkan novel tersebut, satu minggu kemudian. Saya pun menulis kembali dan berdarah lagi, lalu meninggalkan kembali. Lalu rindu datang lagi. Begitu pengulangannya sampai kemudian novel itu selesai dan menjadi juara tiga Lomba Novel Nasional yang digelar Grasindo bekerja sama dengan Radio Nederland Seksi Indonesia. Novel yang sebenarnya bergenre remaja itu kemudian diterjemahkan dalam bahasa Belanda dengan judul Alon Buluek, Aloen Buluk (de Verschrikkelijke Zeegolf).
Kesimpulan saya setelah mengalami pengalaman di atas, memang benar menulis terkadang membuat luka kita kembali menganga karena pikiran dan perasaan dipaksa kembali pada detail kejadian yang ingin kita lupakan. Kita seperti memaksakan diri, menyakiti diri, menyiram air cuka pada luka yang hampir kering. Namun setelah tulisan itu selesai, ternyata kita bisa mengikat hikmah dari bencana yang kita alami. Setelah beberapa lama, ternyata kita menjadi lebih kuat karena menulis. Dan ternyata, pengalaman itu menjadi pelajaran dan inspirasi tidak hanya bagi diri sendiri, melainkan juga bagi orang lain yang membaca karya kita atau mendengarnya dari orang yang sudah membaca.
Jadi, menulislah terus meski luka hatimu akan kembali menganga sebab kamu tidak pernah tahu rahasia yang terkuak setelahnya.[]