Tak terhitung harapan, angan-angan, impian dan juga keinginan yang terkubur di Steemit. Sebab, setiap orang memiliki kartu keberuntungannya masing-masing.
Ada yang sukses hanya dengan bermain YouTube, menulis blog atau menjual desain di creative market. Namun, mereka sulit sukses ketika menjadi caleg, menjual martabak telur atau menjadi pemandu wisata. Garis nasib orang beda-beda.
Orang membuat akun Steemit awalnya juga karena iming-iming reward. Jika ada yang mengatakan bahwa mereka bikin akun di Steemit untuk belajar menulis dan berbagi pengetahuan dengan Steemian lain, hal itu anggap saja sebagai stand-up comedy yang dipentaskan di dekat (maaf) pantat kerbau: sia-sia saja.
Kenapa saya bilang demikian? Hal pertama yang saya dengar saat seorang stemian mengajak seseorang bergabung di Steemit adalah soal reward. "Menulis di Steemit itu ada reward-nya. Apapun aktivitas kita di Steemit diganjar reward," begitulah jurus hipnotis pembuka, dan celakanya, manjur!
Alhasil, berlomba-lombalah orang membuat akun dan tidak bisa tidur nyenyak jika belum mendapatkan balasan email yang mengabarkan kalau akun-nya disetujui, berupa kiriman password. Ada yang rela menunggu berhari-hari dan tidak merasakan sama sekali bahwa menunggu itu perbuatan yang membosankan. Jarang saya lihat semangat membara dan fanatisme seperti ini pada pengguna sosial media lain.
Setelah akun didapatkan, masalahnya tidak selesai di situ. Untuk mendapatkan reward, seorang pengguna harus menulis content original, posting foto, bikin video, meme, bikin lagu. Mereka bisa memilih mana yang sesuai dengan passionnya. Dan, tidak semua konten para Steemian tersebut mendapat reward yang sama: ada nol koma, ada yang satu koma, dan ada yang di atas lima koma. Lagi-lagi, kartu keberuntungan dan kemurahan hati steemian lain sangat menentukan.
Setelah sehari, seminggu, sebulan berlalu, mulailah banyak yang sadar: bahwa harapan tidaklah seindah kenyataan. Mereka yang bergabung di Steemit karena motif reward dan berharap sukses instan, mulai kecewa dan patah arang. Ternyata, tak semua harapan bisa terwujud di Steemit.
Lalu, satu persatu menyerah, tidak lagi rutin menulis, membiarkan akun Steemit-nya berlumut, ada yang kembali ke kesibukan semula. Bahkan ada yang sama sekali tidak menengok lagi laman Steemit hingga lupa dengan nama akunnya sendiri. Begitulah jika seseorang dipengaruhi oleh asumsi-asumsi dasar yang keliru. Mereka tak dibangun di atas kesadaran bahwa meraih sesuatu itu tidak semudah menghancurkan tisu basah. Mereka lupa dengan proses panjang dan berliku.
Tak semua harapan yang kita angankan itu akan berakhir baik, termasuk yang paling diinginkan sekali pun. Banyak orang dibutakan oleh keinginan ini-itu yang justru membuatnya makin tersiksa. Bahkan jika kita bisa sukses di Steemit, mendapatkan reward dari upvote yang lumayan besar, dan level kita merangkak dengan cepatnya, belum tentu dapat membuat kita senang, bahagia dan puas.
Belajarlah dari kisah (dongeng) Midas, raja dari Phrygia Kuno. Konon, sang raja tamak bin rakus ini begitu mencintai emas, sehingga ketika dewa Dionysius hendak mengabulkan beberapa permintaannya, sontak saja dia minta agar apapun yang disentuhnya menjadi emas. Dia senang bukan main ketika permintaan itu dikabulkan, karena memudahkannya mengumpulkan kekayaan berupa emas itu, cuma dengan tangannya.
Namun, masalah muncul tak lama kemudian. Dia mulai tidak dapat menikmati makanan enak lagi soalnya ketika makanan itu disentuh segera menjadi emas. Saat haus dia pun tak segera dapat meminum tuak, minuman favoritnya, karena tuak itu pun berubah jadi emas. Parahnya, dia kehilangan permaisuri dan selirnya, serta orang-orang yang dikasihinya. Mereka segera berubah jadi emas begitu selesai disentuhnya.
Pesan dari cerita (dongeng) ini sederhana saja, bahwa mendapatkan apa yang kita inginkan belum tentu hal itulah yang kita inginkan apalagi bisa membuat kita senang dan bahagia. Seorang temanku pernah berkata bahwa kita harus bisa membedakan dengan jelas antara keinginan dan kebutuhan, karena dengan demikian kita tak akan pernah kecewa.
Jadi, buang semua impian, harapan dan angan-angan sebagai tujuan awal Anda bermain Steemit. Mulailah bersikap realistis dan menghormati prosesnya. Persetankan saja jika tulisan anda tidak ada yang upvote, dengan terus menulis dua postingan dalam sehari. Begitu seterusnya. Percayalah, proses yang natural tidak pernah mengkhianati hasil. Hom hai!
--maaf fotonya tidak berkaitan dengan tulisan--