"Lahirnya ragam komunitas literasi di Aceh, harusnya perlu diberikan ruang dan apresiasi yang tinggi. Ini peradaban!"
ENTAH apa yang mendorong akun steemit ini mencapai 2000 followers!? Padahal, tak pernah terpikirkan sebelumnya ada pengikut sebanyak itu dalam kurun waktu lima bulan.
Mungkin, bagi saya perolehan tersebut merupakan hal yang luar biasa. Meski bagi orang lain, dalam kurun waktu tertentu bisa saja mendapatkan followers hingga mencapai puluhan ribu.
Di steemit, saya tidak terlalu pusing dengan berbagai tag; Aceh dan Indonesia atau apapun namanya. Bagi saya tag hanyalah sebuah kaidah untuk memudahkan pencarian karya sesuai dengan tema.
Tag juga sekadar memudahkan dalam pengelompokan tulisan, bila suatu saat nanti tulisan mencapai ribuan. Pengelompokan ini menjadi penting dalam proses pencarian, selain mudah ditemukan oleh mesin pencari.
Saya juga tidak ingin memusingkan diri dengan beragam nilai vote dan reputasi--meskipun sekarang nilainya 51--apalagi sebuah media (wadah) hanyalah tempat menuangkan ide.
Di blogspot misalnya, saya justru bertahan hingga puluhan tahun, dan sama sekali tidak berharap vote, karena blogspot hanya sekadar wadah menuangkan ide. Bila pun ada pendapatan, itu pun melalui Adsense dengan penempatan beberapa iklan sponsor.
Di kompasiana, saya dan banyak teman dari Aceh juga menulis; catatan ringan, artikel, dan tulisan investigasi lainnya. Di media geotime, saya juga pernah beberapa kali menulis. Semuanya tentu tanpa bayaran!
Lalu, ada beberapa tulisan dan ragam karya fotografi pernah dipublikasikan di faceebok, juga tanpa pernah berharap bayaran. Kenapa? Karena facebook memang dari awal hanya menyediakan wadah--dinding ratapan.
Tanpa disadari pun, kita telah menjadi relawan yang setia, iklas dan sabar. Saban waktu update status, upload photo dan memberikan komentar. Semua yang kita lakukan adalah pundi uang bagi beberapa orang pemilik saham di facebook. Tanpa keluhan.
Kita tidak pernah berdebat, tidak juga berdialektika apakah facebook membuat degradasi sosial dan kerentanan berteman serta terbuka ruang kebencian? Parahnya, kriminalitas dan tebar permusuhan kerap terjadi. Pada posisi ini, harusnya kita juga "menggugat" media milik Mark Zuckerberg.
Twitter! Setiap hari cuit bertaburan di dinding twitter kita. Beragam promosi serta informasi berserak di sana. Jika menarik, klik untuk sekadar membaca. Jika tidak, maka berlalu begitu saja.
Cuitan terkadang tidak memiliki sumber informasi yang jelas. Opini, berita, dan aneka kalimat turut mewarnai layar hanphone dengan ribuan rangkaian kata-kata. Berisik! Bila dering suara hanphone dibunyikan.
Instagram juga sama, ragam foto menghiasi wall kita. Bila suka, maka hadiah like pun diberikan sebagai tanda apresiasi. Bila sebaliknya, maka foto tersebut akan berlalu begitu juga. Lagi-lagi kita bisa "enjoy".
Bagaimana steemit? Inilah yang membedakan dengan media-media yang saya sebutkan di atas. Unik, karena setiap vote adalah pendapatan--mungkin karena ini degradasi sosial dan "konflik" terjadi.
Lagi, media ini juga memberikan kita peluang untuk menjadi investor dengan menambah kekuatan steem power. Ini nilai penting yang dapat memberikan kekuatan vote saat kita melakukan kurasi terhadap konten.
Setiap individu adalah kurator, yang memiliki hak untuk mengkurasi apapun konten karya dan tulisan yang diposting. Sehingga setiap kurasi (dalam bentuk vote), tergantung pada nilai vote; semua mempunyai peluang yang sama.
Terus yang salah apanya? Pada kontek penggunaan media ini, tidak ada pihak yang dapat disalahkan. Hanya perspektif untuk menjadikan media ini dalam pemahaman dan mindset seperti apa? Ini mungkin perlu jawaban.
Lalu kita ingin berada pada posisi dan komitmen yang mana; sebagai penghasil karya atau investor yang memiliki nilai kurasi memadai (seadanya).
Perdebatan kerap terjadi hingga terkadang terkuras energi pada sentimen ideologi yang juga tidak jelas juntrungnya kemana. Tetap yang namanya subjektivitas adalah pembenaran tersendiri.
Memang, setiap individu memiliki perspektif tersendiri. Sehingga sangat sulit mendefinisikan steemit (wadah) yang tidak memiliki banyak makna--saya justru ingin menjadikannya sebagai lemari ide.
Sementara di belahan dunia yang lain, justru menjadikan steemit sebagai ruang bisnis dan investasi digital asset untuk jangka panjang. Inilah kemajuan teknologi cryptocurrency yang sedang dikembangkan.
Tidak membuat steemit terjebak pada pemikiran yang membuat dialektika tanpa ujung, seperti apakah steemit kapitalisme atau sosialisme. Ini perdebatan "tua" yang berproses setiap waktu dalam kontek kekinian.
Steemit dari awal memang sudah menobatkan diri sebagai media dengan banyak pilihan; berkarya ada ruang, dan jika investasi harus ada uang. Pada posisi apapun keduanya harus dimiliki. Harusnya!
Lalu, beberapa akun justru sudah dengan terang mempromosikan NSFW sebagai strategi mendapatan nilai vote. Tak ada batasan publikasi, karena media ini justru lebih transparan.
Sementara akun yang lain dengan dahsyat membuat postingan tentang pengembangan teknologi blockchain, dan saya tidak mampu untuk mencerna lebih jauh. Sebut saja seperti kehadiran
,
*, dan musik!
Baca juga: Komitmen Investasi di Steemit
Bila kita membaca postingan para ahli IT di berbagai belahan dunia, sungguh kita mengurutkan dada, karena tertinggal jauh yang sulit dikisahkan dengan bahasa kata-kata.
Sekali lagi, mindset awal menjadi penting, mengapa kita harus berkarya dan membuka akun di steemit. Padahal ada puluhan media sosial lain yang setiap saat bisa kita tuangkan ide.
Teruslah berkarya, jadilah investor! Jangan pernah bosan promosikan Aceh dan Indonesia dalam berbagai tema; budaya, travel, catatan, cinta, kuliner, photography, puisi, artikel, cryptocurrency, dan lain sebagainya.
Dengan ragam komunitas literasi di Aceh, seperti Nanggroe Steemit Community (NSC), Komunitas Steemit Indonesia (KSI), Aceh Steemit Community (ASC), Forum Aceh Menulis (FAMe) dan banyak lagi, tentu ini menjadi hal menarik yang perlu diberikan apresiasi.
Hanya bagaimana menjadikan komunitas sebagai kekayaan terbesar pascakonflik politik melanda Aceh. Hingga literasi mampu menjadi bagian pada setiap perubahan. Inilah peradaban!
Indonesia Bisa, Aceh Luar Biasa!
Andi Firdhaus Lancök
Steemian Aceh-Indonesia/ Freelance Journalist