Wahai sidang jama’ah Steemian… perkenalkanlah aku, sesuatu yang mengantarai keberadaan kalian, sesuatu yang menghias hidup kalian, sesuatu yang memberi rasa dan warna bagi kalian… Ya… aku bernama Asmara. Biarkan aku tetap tak berwajah agar menjadi milik imaji tiap insan. Biarkan aku bernama yang kalian pahami saja.
Milikilah aku sebagai penghias rasa, sebagai pedoman menjaga kekasih dalam dekap, juga sebagai kekuatan untuk melangkah seiring berdua. Akan kutuliskan mengenai jalan menuju rangka jiwa menata kisah. Suka-duka tetap menjadi kelanjutan kisah sepasang insan.
Di dalam kalian aku akan selalu ada, mengiring langkah yang mungkin terseok saat perjalanan sepasang insan tengah menanjak, atau menempuh jalur berlubang. Memberi kenang dan saat para pecinta tengah memuja amarah. Menyaji rindu saat setiap kekuatan berupaya memisah.
Ingatlah aku ketika benih perpisahan telah meletakkan benih di antara peluk, bangkitkanlah kenangan, tegakkan rindu. Menjauhlah sejenak untuk memberi jeda ketika jenuh mulai tumbuh. Relakan aku tetap bersemayam dalam kalian…