Postingan by Design: Memenej Steemit
PERNAHKAH sahabat steemians bingung mau memposting kisah atau foto apa hari ini? Pasti pernah atau bahkan sering. Bisa menulis dan bisa memotret tidak menjamin tidak mengalami post block, ini sebuah istilah yang saya adopsi dari written block yang sering dialami para penulis. Definisi bebas dari post block adalah kebuntuan yang dialami steemian sebelum memposting atau ketika hendak melanjutkan tulisan. Kondisi ini juga berlaku bagi yang sudah memulai sebuah artikel fiksi atau nonfiksi atau foto, tetapi buntu ketika melanjutkannya. Barangkali untuk foto lebih mudah solusinya karena teks (caption) tidak terlalu panjang. Namun kalau hendak memposting parade foto lengkap dengan kronologis ceritanya, menjadi masalah juga karena dibutuhkan keahlian menulis.
Tidak semua Steemians memiliki kemampuan menulis dan memotret yang bagus. Ada yang mengenal dunia tulis-menulis setelah memiliki akun di Steemit, meski memotret dengan standar telepon pintar banyak yang mahir. Namun perlu disadari, bisa menulis pun bukan jaminan postingan akan lancar setiap hari.
Menulis dan memotret adalah satu masalah, manajemen postingan adalah masalah lain. Tidak heran banyak penulis di Steemit yang tidak produktif, dengan postingan seperti anak gajah lahir (lage ceh aneuk gajah).
Ada satu penulis muda yang cukup potensial di Aceh dan saya memperkenalkan Steemit padanya, tak lama setelah saya memiliki akun. Setelah postingan introduceyourself dan sebuah postingan menarik lainnya, dia langsung tewas dengan sukses, tidak memposting apa pun lagi. Padahal, ia cukup produktif memperbaharui status di Facebook yang lumayan panjang. Dia juga sudah jatuh-bangun dalam dunia kepenulisan, ditolak naskahnya berkali-kali dan tidak membuatnya berhenti. Tapi di Steemit, penulis muda itu layu sebelum berkembang.
Ini menjadi motivasi bagi sahabat Steemians yang belum mampu menulis dan juga bagi yang pintar menulis. Banyak aspek yang perlu diperhatikan; menulis, memotret, manajemen postingan, motivasi, mental, semangat, dan teknologi informasi.
Kabar baiknya, semua itu bisa terbantu dengan adanya komunitas seperti Komunitas Steemit Indonesia dan “faksi-faksinya” yang kini banyak bermunculan di berbagai daerah. Tentang kekuatan komunitas ini sudah banyak yang memposting, baik dalam bahasa Inggris maupun dalam bahasa Indonesia. Salah satunya postingan pada tautan:
https://steemit.com/indonesia/@yuslindwi/komunitas-ibaratkan-sebuah-keluarga-201789t171913523z
Atau sebelumnya juga ada postingan pada tautan berikut:
dan masih banyak postingan lainnya tentang kekuatan komunitas yang sudah terbangun dan harus kian diperkuat di Steemit. Beberapa steemian menulis bersama di warung kopi dan saling mengoreksi sebelum naskahnya diposting. Sementara steemians yang lain berburu foto bersama dan juga saling mengoreksi kualitas foto sebelum memposting. Kesalahan saya dalam bahasa Inggris, sering dikoreksi dan
setelah postingan tayang. Tentu, koreksi dari steemians yang lain sangat saya harapkan. Di Steemit, kita harus menjadi editor bagi diri sendiri sehingga banyak artikel dan foto keliru. Banyak saya jumpai postingan foto terbalik di Steemit dan pemilik akun lupa mengeditnya.
Jadi, kesimpulan pertama, jangan rendah diri bila belum berkemampuan menulis dan memotret dengan baik. Mereka yang sudah suhu di dua bidang tersebut, sudah menggeluti dunianya jauh sebelum Steemit ada. Para penulis yang sudah jadi syekh itu, pada awalnya mereka juga seperti kita. Sebut saja sudah menjadi penulis tetap di Kompas (sementara saya baru dua tulisan dimuat di harian besar di Indonesia tersebut), sudah kenyang dengan penolakan. Puluhan naskahnya dulu ditolak, tapi ia tak pernah berhenti menulis. Begitu juga dengan
yang sudah jatuh bangun di dunia kepenulisan, ditolak puluhan kali, sebelum cerpen dan opininya dimuat di berbagai media, termasuk Kompas.
Nasib serupa juga dialami para penulis lain yang kini aktif di Steemit seperti penulis Taufik Almubarak, pemilik akun yang menabalkan judul bukunya sebagai nama akun di Steemit. Kemudian ada
yang juga seorang penulis senior di Aceh, ada juga jurnalis novelis
yang bukunya sudah terbit dan akan terbit beberapa judul lagi dalam tahun ini. Di kalangan jurnalis lainnya ada
,
,
,
, untuk menyebut beberapa nama, serta banyak lainnya yang sudah terbiasa menulis. Mereka semua penulis aktif, dan kini aktif di Steemit.
Keberadaan mereka, harus dijadikan kesempatan untuk belajar, karena semuanya penulis low profile yang dengan senang hati membantu. Di dalam kontak dengan mereka di grup, saya juga meminta mereka ikut mengoreksi kesalahan yang mungkin saya lakukan dan steemians lainnya. Dengan ketekunan seperti mereka, tentu saja suatu saat nanti kita bisa seperti mereka bahkan melampauinya. Tapi tentu saja semuanya tidak instan, butuh kesabaran dan kerja keras. No pain, no gain.
Untuk bisa produktif di Steemit dan tidak mengalami post block, bingung mau membuat postingan apa, kita harus mengelola blog di Steemit dengan manajemen yang rapi. Meski menulis dan memotret untuk Steemit bukan pekerjaan utama, bukan alasan untuk menangani Steemit asal jadi. Justru karena bukan pekerjaan utama, blog di Steemit harus dimenej dengan rapi dan terencana agar tidak mengganggu pekerjaan utama.
Di bawah ini ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi post block, untuk mendesain postingan:
1. Bekerja seperti wartawan
Ada dua jenis wartawan di daerah. Pertama, yang bekerja dengan agenda yang jelas, dan wartawan yang menunggu berita jatuh dari langit. Biasanya, media sudah memiliki agenda kerja dengan jelas. Ketika masih bekerja sebagai jurnalis di Serambi Indonesia, setiap hari saya minimal harus menulis dua berita. Pagi hari dalam rapat perencanaan, kami me-listing berita apa yang menjadi agenda liputan.
Dari listing tersebut, kami sudah memiliki bayangan berita mana yang akan menjadi berita utama (headline) halaman Pase dan berita mana yang mungkin bisa mengisi halaman satu. Bisa jadi proyeksi kami itu berubah. Misalnya, ternyata berita yang kami rencanakan menjadi headline halaman Pase, ditarik ke halaman depan sehingga kami harus memproyeksikan berita lain yang memiliki nilai berita (news value) tinggi.
Perubahan tidak sampai membuat kami megap-megap karena kami bekerja dengan agenda jelas. Kami tidak bingung mau meliput apa hari ini karena sudah ada berita yang akan diliput. Kalau pun nanti ada berita insidentil atau sering disebut berita jatuh dari langit, yang tak bisa diprediksi, yang berada di luar kendali kami, akan menambah jumlah berita yang kami setor ke kantor pusat.
Begitu juga dengan sahabat steemians. Rencanakan postingan—baik tulisan maupun foto—dengan rapi. Pikirkan jenis postingan untuk besok mulai hari ini. Kalau bisa buat agenda postingan selama sebulan, per triwulan, atau bahkan selama setahun, luar biasa sekali. Kalaupun nanti dalam perjalanannya mendapatkan ide menulis atau memotret objek di luar agenda, anggap saja itu bonus.
Postingan yang tidak terlalu terikat dengan waktu (misalnya yang bersifat informatif), bisa ditunda besok atau lusa, meski tulisannya sudah ada dalam laptop. Kapan memposting sebuah artikel atau foto, juga bagian dari strategi mendapatkan reward sehingga ritme postingan harus dikelola dengan cerdas. Jangan sampai jor-joran memposting tulisan dalam satu hari, kemudian puasa selama satu bulan.
2. Postingan sesuai hari besar
Dalam setahun rata-rata ada 365 hari. Jika dalam sehari ada dua postingan, baik artikel maupun foto, maka setahun ada 730 postingan. Sepertinya bingung, ya?
Padahal itu jumlah yang sedikit. Setiap hari ada peringatan hari besar, baik nasional maupun internasional. Bahkan, dalam satu tanggal bisa jadi bentrok peringatan hari besar.
Bulan Agustus ini saja, misalnya. Pada 1 Agustus lalu merupakan hari ASI (air susu ibu) sedunia. Pada 5 Agustus diperingati sebagai hari Dharma Wanita Nasional, 8 Agustus hari ulang tahun ASEAN, 9 Agustus hari masyarakat adat internasional, 10 Agustus hari veteran nasional sekaligus hari kebangkitan teknologi nasional (nah, ada dua kan?), 12 Agustus hari remaja internasional, 14 Agustus hari Pramuka, 17 Agustus hari apa, coba? (jangan jawab hari Jumat, kebangetan kalau tidak tahu, bisa kena push up), 18 Agustus hari Konstitusi Republik Indonesia sekaligus hari kelahiran saya, hehehehe…
Singkatnya, setiap hari bisa memanfaatkan momentum peringatan hari tersebut untuk memposting artikel dan foto yang sesuai. Steemians bisa memilih tema peringatan hari besar tersebut yang sesuai. Kalau tidak sesuai, ya, cari tema lain yang sesuai. Kalau dicatat, 365 hari itu sudah penuh dengan peringatan hari besar ini-itu, baik nasional maupun internasional, atau hari yang sangat khas di daerah seperti 15 Agustus di Aceh sebagai peringatan penandatanganan MoU Helsinki atau 26 Desember peringatan bencana gempa dan tsunami.
3. Optimalisasi waktu
Waktu memang masalah bagi siapa pun. Sebagian dari kita mempunyai kegiatan lain di luar Steemit. Banyak yang beralasan kemudian bahwa postingan menurun karena tidak ada waktu. Padahal, bukan waktu yang tidak cukup, tetapi kita tak cukup pintar mengelola waktu. Tuhan memberikan waktu sama bagi semua orang, baik bagi yang kaya maupun miskin. Sekarang bagaimana kita mengelola waktu agar ia tidak menebas kita seperti kata pepatah Arab.
Dengan membuat postingan by design, berarti kita sudah mengelola waktu dengan cerdas. Begitu hari berganti, kita sudah tahu akan menulis atau memotret apa, tidak lagi bingung sehingga kenikmatan di Steemit menjadi berkurang karena stress.
Optimalisasi waktu juga berarti memanfaatkan waktu sempit untuk menangani Steemit. Ketika antre di bank, misalnya, bisa digunakan untuk membalas komentar, memberikan upvote, atau membaca postingan orang lain. Bagi yang sudah terbiasa, pasti sudah memahami situasi seperti itu. Apalagi kalau menunggu pesawat boarding yang bisa sampai satu jam lebih, bisa menyelesaikan satu postingan.
4. Spesialisasi atau gado-gado
Ini pernah saya singgung dalam artikel sebelumnya dengan menggunakan ilustrasi kerja jurnalis. Seorang wartawan di daerah biasanya adalah wartawan gado-gado. Ia harus menulis berita ekonomi, olahraga, bisnis, politik, keuangan, sosial, pendidikan, pertahankan dan keamanan, menulis semuanya isu seperti gado-gado yang merupakan campuran berbagai jenis sayur. Steemians juga bisa seperti itu; memposting gado-gado. Artikel dan parade foto, berbagai isu, meski bagusnya tetap harus ada satu isu yang bisa kita kuasai dengan khatam. Ini pengalaman saya sendiri, mungkin orang lain memiliki strategi berbeda. Saya tetap fokus pada masalah kepenulisan meski “travel” termasuk tag saya yang paling sering. Postingan tentang menulis, juga cerpen-cerpen dengan isu khusus Aceh, saya rencanakan menjadi sebuah buku suatu saat kelak. Di Steemit bisa menjadi tempat menyimpan catatan sekaligus mendapatkan masukan dari steemians yang lain.
Kalau mahir di bidang tertentu, bisa menjadi spesialisasi seperti yang selalu memposting tentang game sehingga saya tidak tahu harus berkomentar apa. Kalau belum memiliki keahlian lebih di bidang apa pun, memposting yang umum saja dulu. Istilahnya, jadi dokter umum dulu, baru nanti mengambil spesialisasi.
5. Mencatat ide
Setiap ide muncul kapan saja di mana saja, terkadang tidak sesuai dengan waktu. Ide artikel atau ide membuat parade foto, muncul di saat yang kurang tepat, misalnya ketika kita sedang tidak memegang kamera atau situasinya tidak mendukung untuk menulis.
Dalam perjalanan ke suatu daerah, misalnya, tiba-tiba teringat dengan objek foto yang menarik di daerah lain dan bisa dikunjungi lain waktu. Catat ide tersebut di ponsel atau di mana saja yang mudah diingat. Ide bisa berupa letikan sesaat yang bisa hilang sekejap kemudian. Mencatat adalah cara mengikat ide agar tidak hilang. Nanti ketika ada waktu, ide itu bisa diwujudkan dalam bentuk tulisan dan foto-foto. Jangan terlalu mengandalkan daya ingat sebab ia tak pernah minta izin ketika melupakan sebuah kenangan.
Demikian beberapa tips mengelola postingan di Steemit baik sebuah artikel, puisi, cerpen, atau foto. Merencanakan postingan seperti merancang masa depan, atau seperti merencanakan sebuah perjalanan. Meski kita akan menuju ke sebuah daerah yang sama sekali asing, tetapi jika sudah memiliki tiket, sudah mengantongi peta, insya Allah kita tidak akan tersesat.[]
Lhokseumawe, 12 Agustus 2017