BELAKANGAN ini, animo penikmat lapak maya yang bernama Steemit sepertinya sedang berada pada titik yang kurang menggembirakan; lesu. Dikatakan kurang menggembirakan karena euforia yang terlihat pada warga steemit di beberapa minggu terakhir ini tidak seperti pada minggu-minggu sebelumnya, tepatnya saat sebelum diadakannya meet up –khususnya KSI Chapter Pidie.
Apakah kondisi ini –kelesuan penikmat steemit—dikarenakan harga SBD yang tidak pernah melambung meskipun sempat naik ke angka 40ribuan rupiah di hari kemarin, ataukah dikarena faktor lain. Kita tidak tahu.
Karena untuk tahu dan mengetahuinya secara pasti, jalan satu-satunya adalah melakukan penelitian terhadap semua pengguna steemit. Apakah melalui pembagian angket, wawancara atau lain sebagainya. Tentunya langkah ini cenderung meribetkan. Tapi ya begitulah cara untuk mendapat sebuah jawaban yang pasti untuk suatu permasalahan, bukan dengan cara menduga-duga.
Nah, bagi saya pribadi, jika kelesuan penikmat steemit dikarenakan harga SBD yang turun drastis, tidak pernah menyentuh angka ratusan ribuan lagi (seperti halnya di akhir tahun 2017), maka kita sudah bisa menebak bahwa motivasi sang Steemian yang bersangkutan itu di alam Steemit hanyalah di latarbelakangi oleh SBD. Yang ujung-ujungnya jika dirunut lebih dalam, termotivasi oleh Sen atau duit (uang).
Steemian yang termotivasi oleh sen, dapat dengan mudah kita jumpai di alam Steemit. Tentunya Steemian yang demikian jikapun ditanya perihal aktivitasnya di Steemit, semisal dengan cara memosting sebuah tulisan atau foto, maka yang ingin dia capai adalah vote yang banyak. Yang ujung-ujungnya adalah SBD.
Ketika keinginan tersebut tidak tercapai, maka Steemian tersebut langsung tertunduk lesu. (mungkin) dalam hatinya langsung berkata; “hana ek tajak meu-steemit le!” (tidak ada gunanya untuk bersteemit lagi!)
Walaupun, motivasi seperti itu –karena SDB atau vote-- bukanlah suatu hal yang patut disalahkan. Namun ini patut untuk berikan catatan. Karena ini berkaitan dengan impian atau cita-cita di awal rerata steemian saat mengenal Steemit. Dimana sebahagian besarnya, jika ditanyakan; “apa alasanmu mau di steemit?”, kebanyakan menjawab; “untuk belajar menulis”, “untuk menceritakan pengalaman”, “untuk melatih dan terbiasa menulis”, dan lain sebagainya.
Sangat jarang kita dengar, jika motivasi seorang steemian jika ditanya pertanyaan serupa, mereka menjawab; “aku di steemit untuk mencari duit”. Semua cenderung memilih jawaban yang sifatnya kamuflase. Membohongi naluri dan pribadi sendiri.
Akan tetapi dengan terlihatnya fenomena steemian yang lesu –seperti belakangan ini, maka meskipun bukan melalui sebuah penelitian terhadap dirinya, kita sudah tahu dan bisa menebak, bahwa motivasi sang Steemian “yang bersangkutan” di Steemit adalah karena SBD atau lebih tepatnya karena SEN (uang). #Nyanban