Sudah setahun lebih sejak diluncurkan pada akhir Maret tahun lalu, Steemit terus berkembang pesat dan memiliki akun pengguna yang terus meningkat pula. Steemit tidak hanya sekadar blog bersifat media sosial tapi lebih dari itu, Steemit bisa menjadi sumber pendapatan. Dengan berbagi karya, informasi, tips dan diskusi pengguna akun akan mendapatkan hadiah atau "reward" yang berupa bayaran untuk setiap postingan. Ya, begitu mudah untuk menghasilkan beberapa hadiah hanya dengan berbagi postingan. Terima kasih dan salut pun terus mengalir kepada sang pendiri Steemit dan
. Ini salah satu alasan yang membuat Steemit terus diminati hingga sekarang.
Aceh Tsunami Museum. Thanks to the World.
Melihat perkembangan Steemit di Indonesia, membuat saya melihat kembali beberapa bulan ke belakang tumbuh kembangnya Steemit. Steemit di Indonesia awalnya didominasi oleh teman-teman dari pulau terujung Sumetera, Aceh hingga akhirnya mulai menyebar ke seluruh Indonesia. Para pengguna akun pun mulai giat membuat karya mereka seperti karya tulis cerita pendek atau puisi, fotografi hingga kegiatan sehari-hari mereka. Kehadiran Steemit pun begitu diapresiasi karena terbukti berhasil membantu pengguna yang membutuhkan bantuan finansial. Dengan cara yang begitu mudah Steemit hanya memberikan satu syarat untuk setiap postingan yaitu menghasilkan karya sendiri. Namun sebagian pengguna menyalahgunakan kemudahan ini dengan berbagai alasan dan tujuan. Terlihat akun- akun spam mulai marak di awal-awal tahun 2017. Akun- akun tersebut memiliki ciri masing- masing dari segi postingan. Ada pengguna yang memiliki akun lebih dari satu dengan tujuan untuk mendukung akun lainnya. Sah saja bila memiliki lebih dari satu akun. Namun sebagian pengguna justru mencoba mendapatkan bayaran dengan menggunakan foto-foto karya milik orang lain. Ini sempat menjadi ancaman bagi citra Steemit dan tentu daerah yang diwakili oleh akun-akun tersebut.
Steemit tentu telah mengambil tindakan dengan menghadirkan akun untuk mendeteksi akun-akun plagiat ini dan juga memilki chatroom #steemitabuse untuk melaporkan penyalahgunaan karya cipta hingga penyalahgunaan tag. Ini sangat membantu dan telah menghindarkan hadiah yang tidak seharusnya dimiliki oleh para plagiator. Meski demikian sebagian plagiator tidak menyerah dan justru mulai beraksi dengan akun baru bahkan sebagian masih bertahan dengan reputasi yang terbilang tinggi. Para penyalahguna akun ini memang sedikit disayangkan karena ikut merugikan para pengguna akun lainnya yang berasal dari daerah yang sama karena 'label' abuse ini.
Seperti sadar dan bangkit dari kesalahan, mulai terlihat adanya perubahan semenjak lahirnya "Komunitas Steemit Indonesia". Mereka yang awalnya terdeteksi melakukan abuse pun beramai-ramai menyerukan anti plagiarisme. Tentu ini berdampak baik dan positif bagi pengguna akun Indonesia. Kesadaran untuk menghasilkan karya sendiri dan 'lebih rajin' berkarya ikut terdorong karenanya. Tumbuhnya rasa malu untuk mencoba mengambil keuntungan dari apa yang bukan menjadi haknya merupakan jati diri anak bangsa. Ini menjadi apresiasi tersendiri bagi pengguna Steemit. Semudah apa pun teknologi telah diciptakan namun mental tentu bermula dari individual masing-masing pengguna. Hingga akhirnya Steemit benar-benar menjadi wadah yang semestinya sebagai penampung karya anak bangsa. Hadirnya Steemit menjadi harapan cerah bagi mereka yang kekurangan lahan dan kesempatan untuk berkarya dan mendapatkan penghargaan dari usahanya. Bila kita telah siap menerima teknologi maka kita juga harus siap dengan dampak apa pun yang mungkin terjadi. Namun baik buruknya merupakan pilihan yang ada di tangan kita sendiri. Steemit telah menjadi rumah kita dimana sang penghuni takkan merusaknya. Sekarang tanyakan pada diri kita, siapkah kita menerima teknologi ini?
Salam dari Aceh untuk Steemit Indonesia
English Sub (by Google)
Steemit Growth in Indonesia
It's been a year since it was launched in late March of last year, Steemit continues to grow rapidly and has an ever-increasing user account. Steemit is not just a social media blog but more than that, Steemit can be a source of income. By sharing the work, information, tips and discussion of account users will get a reward or reward in the form of payment for each post. Yes, it's so easy to generate some gifts just by sharing postings. Thanks and salute continues to flow to the founders of Steemit and
. This is one of the reasons Steemit keeps on growing until now.
Seeing the development of Steemit in Indonesia, made me look back a few months back to the growth of Steemit. Steemit in Indonesia was originally dominated by fellows from the island tip Sumetera, Aceh, until finally begins to spread throughout Indonesia. The users of the account began to work hard to make their works such as paper short stories or poetry, photography to their daily activities. Steemit's presence was so appreciated because it proved successful to help users who need financial assistance. In a way that is so easy Steemit only provides one condition for each post is to produce their own work. But some users abuse this ease with a variety of reasons and goals. Visible spam accounts began to bloom in early 2017. These accounts have the characteristics of each in terms of posting. There are users who have multiple accounts in order to support other accounts. It's legal to have more than one account. But some users actually try to get paid by using photos of someone else's work. This could be a threat to the image of Steemit and of course the area represented by these accounts.
Steemit has certainly taken action by presenting to detect these plagiarism accounts and also has a #steemitabuse chatroom to report abuse of copyrighted work to tag abuse. This is very helpful and has avoided gifts that plagiarists should not have. However some plagiarists do not give up and just start acting with new accounts even some still survive with a fairly high reputation. The abusers of this account is a bit unfortunate because it harms other account users who come from the same area because of this abuser label at once.
As wake up and rise from the mistake, it somehow changes since "Community Steemit Indonesia" is declared. Those who were initially detected to do abuse join the community and now called for anti-plagiarism. Of course this has a good and positive impact for Indonesian account users. Awareness to produce their own work and 'more diligent' work is encouraged by it. Feeling shame in trying to take advantage of what is not his right is the identity of the nation's children. This becomes an appreciation for Steemit users in Indonesia now. As easy as any technology has been created but it certainly starts individualy from users' spirit. Eventually Steemit becomes a place that accomodates the work of the nation's children. The presence of Steemit such a bright hope for those who do not afford enough opportunity to work and get an award from their effort. When we are ready to accept technology then we must also be prepared with any impact that may occur. But the good is the choice that is in our own hands. Steemit is our home where we're living by means we won't try to break it. Now ask ourselves, are we ready to accept this technology?
Greetings from Aceh to Steemit Indonesia