Duo M yang saya maksutkan disini adalah dua Nama yang diawali huruf M, dua-duanya putra Woyla kelahiran Ie Itam Baroh, mereka adalah Mustafa Husem W dan Mustafa Ali W. Keduanya sekarang menetap di Banda Aceh dengan profesi berbeda.
Mustafa Husen W merupakan seorang ustaz dan tokoh yang kini menjabat Sekjen Fron Pembela Islam (FPI) Aceh, sosoknya sangat dikenal vokal dan anti wahabi. Karakternya lembut tapi keras, orangnya humoris dan bersahabat.
Mahasiswa pasca Sarjana UIN Ar-raniry ini sekarang aktif sebagai guru ngaji di Pesantren ternama di Aceh yaitu Dayah Darul Ihsan Aceh Besar. Ketokohan seorang Mustafa Husen W tak diragukan lagi karena selain ahli bidang agama juga mahir bidang dunia.
Orangnya cerdas sangat mudah bergaul dia juga kerap tampil menjadi khatip jum’at di Masjid-masjid besar dalam Kota Banda Aceh. Petuahnya sangat brilian sehingga banyak orang memanggilnya abon Mustafa.
Merujuk jauh ke belakang, Tgk Mustafa Husen juga pernah Menjadi Santri di Dayah Budi Lamno Aceh Jaya tamat tahun 2005 dan tahun 2009 dia pernah mandok di Dayah Darul Muarif Lam Ateuk, kemudian melanjutkan Kuliah S1 Bahasa Arap di IAIN Ar-raniry selesai tahun 2014.
Tipe orangnya suka berorganisasi bahkan Abon Mustafa pernah menjabat Ketua Organisasi IKADAB Aceh Barat tahun 2008, kemudian Ketum ISABAS Barsela, hingga sekarang ia masih mejadi Angota BAKOMIBIN Aceh, Sekjen IPSA, Sekjen FPI dan pengurus TASTAFI Pusat.
Segudang prestasi telah ia torehkan termasuk karya Ilmian yang dipublikasi di berbagai Media ternama di Aceh. Dia adalah putra Woyla yang menjadi pioner bagi Aceh.
Pada tahun 2015 Allah SWT telah mengujinya dengan musibah yang nyaris berakhir hidupnya. Musibah super dasyat di Abya kampung Istrinya. Pada saat itu beliou ditabrak mobil oleh pengemudi yang sedang belajar nyeteir. Abon Mustafa terpelanting ke Aspal posisi kepala duluan yang menyebakan ia koma selama satu pekan.
Akibat kecelakaan tersebut sang pioner ini terpaksa di oprasi bagian batok kepalanya, dengan kehendak Allah SWT Abon Mustafa dapat disembuhkan meskipun batok kepalanya harus diganti, subhanallah kecerdasanya tak pudar. pemikiranya masih seperti dulu.
“jika Allah SWT masih memberi umur panjang kepada seorang hamba, maka seorang hamba tersebut akan terus hidup walaupun ditimpa musibah sedahsyat apapun” begitu sekelumit status beliou yang pernah di uplod ke medsos.
Sementara M satu lagi adalah Mustafa Ali W. Orangya sangat sosial suka menolong dan dermawan, kedua M itu sama-sama Alumni Budi Lamno dan UIN Ar-raniry, bahkan Mustafa Ali pernaha mendapat jabatan strategis di BEM IAIN kala itu.
Kecerdasanya nyaris tak mampu diterawang dengan logika, selain mahair ber bahasa Inggris dia juga mahir Bahasa Arab, sehingga sosoknya sering dipanggil sebagai transliter bahasa Asing oleh Pemerintah Kota Banda Aceh.
Duo M ini menjadi pioner Aceh dari Woyla Aceh Barat, lanjutkan karirmu kawan semaouga dapat mewakili rakyat dalam segala aspek..amin.