Beberapa hari yang lalu saya sungguh beruntung dapat bertemu dengan orang2 yang berada dalam jaringan transisi keadilan Asia. Puluhan orang yang berasak dari puluhan negara tersebut berkunjung ke Aceh dalam sela2 perjalanan mereka untuk mengikuti konferensi di salah satu tempat di Aceh.
Mereka disatukan oleh emosi, kognitif dan pengalaman yang sama yaitu dunia yang bermartabat dan dunia yang menghargai prinsip2 universalitas kemanusiaan. Hari itu banyak sekali pengalaman yang dapat diambil berkenaan dengan apa yang telah mereka lakukan. Dan semuanya saling mendukung satu sama lain.
Kemanusiaan yang universal merupakan nilai yang mereka anut dan nilai tersebut diperjuangkan sampai saat ini. Dan mereka berharap akan adanya dunia yang lebih baik. Menurut saya, Steemit juga demikian. Batasan negara tidak lagi menjadi soal. Karena yang diperjuangkan adalah nilai-nilai universal. Yaitu sistem ekonomi borderless berbasis SMT. Jadi bisa dibayangkan ke depan bahwa dunia kita mulai menembus batas-batas sekat imajiner yang kita buat sebelumnya.
Berkenaan dengan hal itu, timbul beberapa pertanyaan yang harus kita jawab tentang sikap kita. Apakah kita akan berada dalam pusaran makna perubahan? Atau kita akan selalu berpikir negatif dan was-was sehingga tergilas oleh waktu?
Sikap mawas diri tentu penting, namun yang lebih penting adalah terbuka atas setiap perubahan yang ada. Dengan asumsi bahwa kita semua memiliki filterisasi yang sifatnya kultural. Asumsi saya tersebut berlandaskan bahwa keunikan yang ada di Aceh. Oleh karena itu, dengan bersikap terbuka, kita akan menjadi mudah untuk menjadi komunitas dunia dan saling bahu membahu untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik.
Terima kasih
Semoga bermanfaat