Jika rizki yang banyak itu diperoleh karena kerja keras, seharusnya orang paling kaya itu adalah Kuli Bangunan.
memahami rizki itu didapat dengan dicari, berarti kita belum tahu dimana letak rizki sehingga perlu dicari.
Jika rizki yang banyak didapatkan karena banyak waktu kerja, seharusnya warung-warung kopi yang buka 24 jam bisa mengalahkan masukan pendapatan McDonald dan Kfc.
Jika rizki itu dengan mudah diraih karena ilmu dan kepintaran, seharusnya para Pakar Ahli Ekonomi, Para Ilmuwan dan Dosen-Dosen yang bergelar panjang menjadi orang-orang kaya.
Jika rizki mudah didapat karena jabatan. Seharusnya para Para Pejabat Kepala Negara, Pejabat Pemerintahan, Presiden dan Raja-Raja berada di urutan terdepan dari 100 orang terkaya.
Tapi...
rizki itu hanya semata-mata karena rahmat kasih sayang Allah Yang Maha Kaya dan Maha Kuasa. Jumlah nominalnya sudah ditentukan ukurannya. Nilai kita bukan pada hasil angka perolehan tapi dari hasil nilai kerja keras berdasarkan pilihan motivasi yang baik dan peran yang benar.
"Mengejar rizki itu jangan mengejar jumlahnya tapi kejarlah berkahnya."
(Saidina Ali bin Abi Thalib Karamalluhu Wajhahu)
Rizki itu dengan dikejar, bukan jumlah nominalnya karena kita sudah ditentukan bagian nominalnya tapi keberkahan tiap nominal. Kualitas ikhtiar bukan kuantitas nominal.
Sebuah gambaran dari cerita kawanku Mara Julidar.